Mengapa Harus Mengunyah Agak Lama?

By Andang W Gunawan
Majalah Nirmala edisi September 2012

Pesta Hari Raya baru saja berlalu. Ayo secepatnya kembali ke pola makan sehat, agar hasil puasa Anda tak sia-sia. Kembali lebih banyak mengkonsumsi sayur dan buah segar, tidak berlebihan dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat halus, dan menjaga perilaku makan.

Membiasakan diri tidak makan tergesa-gesa dan mengunyah makanan sampai cukup halus untuk ditelan adalah salah satu perilaku makan yang tampaknya sepele namun sebenarnya sangat berperan dalam menjaga kelancaran proses pencernaan. Makan tergesa-gesa menyebabkan sebagian makanan tidak terkunyah sempurna sehingga masih terlalu kasar untuk lambung dan usus halus.

Hampir 80% karbohidrat harus tercerna di rongga mulut karena enzim yang paling aktif di sana adalah enzim untuk mencerna karbohidrat. Sebaliknya protein lebih banyak dicerna di lambung dan hanya 20-30% saja di mulut. Namun gerak peristaltis lambung bukan untuk menggerus atau memotong-motong makanan seperti gigi, melainkan untuk mendorong makanan turun ke usus.

Makanan yang tidak tercerna baik di mulut dan lambung akan berfermentasi atau membusuk di bagian bawah lambung dan usus duabelas jari (usus halus bagian atas).

Makan terburu-buru juga menyebabkan sejumlah udara turut masuk ke dalam lambung. Udara ini, jika dapat keluar lagi melalui kerongkongan dapat mejimbulkan sendawa. Tapi jika udara pada saat itu sudah banyak asam lambung di sana, sebagian asam akan ikut keluar bersama.

kunyah

Mau Perbaiki Kualitas Hidup? Lihat Apa Yang Anda Makan Sehari-hari

By Erikar Lebang

http://chirpstory.com/li/238250

Hari ini sahabat saya curhat. Dia busui, yang selama ini sudah menjalankan #Foodcombining serta #Iyengar #Yoga dengan cukup rutin dan baik.

Dia rasakan manfaat yang luar biasa. Kehamilan pertama dan kedua, terasa sekali perbedaannya. Yang pertama, problem umum hamil dapet semua.

Mual, muntah, pusing, stress, baby blues sampe sakit punggung karena hamil ataupun menyusui. Disaster kata dia, dibanding sama hamil kedua.

Hamil kedua, dengan #Foodcombining dan #Iyengar #Yoga, “Gak berasa hamil sama sekali, kecuali perut buncit aja”. Males sit up kali itu? #Eh

Nah, akhir-akhir ini karena kesibukan kami berdua, frekuensi pertemuan lagi menurun. Dia mulai agak lepas kendali. Gak pernah #Yoga lagi.

Pola #Foodcombining menurun. Akhirnya kualitas ASI-nya juga ikutan menurun. Banyak masalah mulai menerpa dirinya. Stress jadi meningkat.

Banyak hal sederhana yang sebenarnya biasa saja dalam keseharian, paling tidak tadinya. Sekarang jadi kendala besar. Pemicu faktor stress.

Tapi yang lebih menyedihkan baginya, pola makan yang mulai keluar jalur, berimbas pada kualitas ASI yang dimiliki. Mendadak bayinya alergi.

Ditambah kondisi stress, kedua hal itu memicu kepanikan. Akalnya gak jalan. Pergilah dia ke dokter dengan otak yang tumpul karena panic.

Dan konyolnya lagi, ahli kesehatan yang dia temui, dengan entengnya mengatakan si bayi ini punya reaksi food alergy, tanpa observasi dalam.

Dia kaget waktu dokter itu dengan santai mengeluarkan daftar makanan yang gak boleh dia makan, “Lho kok pisang, nanas, semangka, melon dll”.

Akal sehatnya jadi segera bekerja kembali. Karena dia melihat di makanan yang bisa dmakan, mosok ada soto mie bakso? Indomie juga boleh.

Dia selalu ingat pada gurauan saya, “terkait pola makan sehat, orang kesasar jangan pernah ditanya tentang arah jalan”. Otaknya jalan lagi.

Dia pindah ke dokter lain, cari second opinion. Nah yang satu ini lebih dia kenali advis yang diberikan. Yang pasti pantangan buah gak ada.

Sepulang dari dokter itu. Dia iseng buka akun instagram. Eh, nemu salah satu akun yang sedang menampilkan topik kesehatan dari saya.

Baru dia tersadar, kalau pola makannya selama ini keluar dari trek, dan cukup jauh. Dan dia juga teringat, “jaga makan, kontrol stress”.

Dia segera merubah pola makannya secara radikal. Paling gak 3 hari terakhir ganti jadi balik #Foodcombining, bahkan rada ekstrim #RawFood.

Disitu dia merasa lebih tenang. Dan yang ajaib, alergi bayinya hilang total. Takjub dia dengan keajaiban yang terjadi lewat ganti pola makan.

Dia keinget untuk kontak saya lagi. Kondisinya jadi jauh lebih tenang dan stabil. Paling gak otaknya gak mampet lagi lah.

Nah kebetulan dia baca kultwit ini, dan ngomel pas dibilang akalnya tumpul. Tapi bener kan? Makan ngaco, panik, akalnya gak jalan. Kacau!

“You are what you eat!” Itu kalimat mutiara yang gak bisa bohong. Selain kesehatan jasmani, kesehatan rohani juga terpengaruh oleh makanan.

Banyak makan protein hewani semisal, produksi neurotransmitter norepinefrin melimpah, dapet salam Anda dari stress. Gelisah melulu!

Apalagi kalau ditambah males makan buah dan sayur dengan cara benar. Jadilah sembelit. Penuh perut dengan gas. Pusing, gak beraturan dunia.

Mau perbaiki kualitas hidup? Jangan ribet pergi ke psikiater atau tokoh spiritual penenang jiwa dulu. Liat apa yang Anda makan sehari-hari.

Sehat Itu Gampang (dan gak mahal)

By Erikar Lebang

http://chirpstory.com/li/237213

Bicara masalah burger, jadi ingat kemarin ada yang ngomel karena saya bicara, “sampingkan makanan pabrikan dari rutinitas kalau mau sehat”.

Kenapa saya bicara begitu, karena memang itu kenyataan? Tubuh manusia didisain oleh Tuhan untuk mengkonsumsi makanan yang (beneran) alami.

Tentu bukan cuma sekedar embel alami, pake tanda kutip seperti yang sering diiklankan sebuah produk. Mencantumkan sebuah unsur, lalu klaim.

Dan kadang gak nyambung, kalau mau mikir sedikit, klaim itu. Unsur yang diketahui ada dalam buah, tumbuhan, biji-bijian, dimasukin ke susu.

Setelah itu diiklankan gencar, akhirnya masyarakat yang terpengaruh menganggap kalau sumber unsur penting itu ada dalam produk yang diiklan.

Mereka yang tertipu akan bilang, “lho kalau gak minum susu, gimana mau dapet ‘anu’?”. Padahal kalau mereka sadar, jalan aja ke pasar becek.

Beli buah dan sayuran segar, sudah didapat apa yang dicari itu. Lebih segar, lebih pas pada sistem cerna kita untuk mengolah dan manfaatkan.

Itu menangnya produk Tuhan. Sementara kalau pabrikan, wah belum bisa dipastikan produk mereka beneran sesuai seperti klaim. Baru diuji coba.

Dan ujicoba pun belum bisa dipastikan sesuai sistem kerja tubuh manusia. Karena awalnya kan bukan dites ke hewan percobaan dulu.

Dan mayoritas produk itu pun belum bisa dilihat impactnya apa benar sesuai dijanjikan? Karena rata-rata waktu konsumsi belum capai 1 dekade.

Apalagi kalau produk pabrikannya sebenarnya lebih terkait dengan makanan di klasifikasi ‘hiburan’ sosial kehidupan. Kudapan atau sejenisnya.

Wah itu lebih konyol lagi. Sering kita dialihkan untuk melihat pada unsur ‘sehat’ yang dimasukkan. Tapi jadi buta pada sisi jelek yang jelas.

Tinggi gula, efek buruk gluten, pemakaian zat aditif, atau sintetik yang bisa merugikan kesehatan jangka pendek ataupun panjang. Cermati ini.

Nah disini masuk ke wilayah burger yang tadi saya bilang. Pernah saya ditanya oleh teman salah satu konsultan penjual makanan model begini.

“Gimana kalau unsur vitamin dalam burger disampaikan pada masyarakat? Supaya mereka yakin saat mengkonsumsinya?” Saya cuma bisa terbahak.

Waduh, ok-lah bisa dibilang ada sisi positif dari makanan model begitu. Kalau disana diselipkan lembaran selada, kepingan tomat dan timun.

Tapi itu kan seperti mengibaratkan memasukkan pengharum ruangan dalam mobil bobrok yang AC-nya sudah rusak, yang nyusahin lebih signifikan.

Hal baik yang disisipkan itu gak berefek signifikan untuk kesehatan. Bisa dikutuk Tuhan kalau saya beri edukasi seperti request teman tadi.

Makanan model itu kan banyakan masalahnya. Direnteng satu persatu aja bisa bikin mumet. Protein hewani yang terlalu berat, bebani pencernaan.

Roti yang dibuat sedemikian rupa juga beban signifikan untuk sistem cerna. Dari sisi turunan gula yang meroketkan nilai gula darah.

Kandungan gluten, yang bersifat lengket dan susah diserap, yang nantinya akan menempel di dinding usus, memblok penyerapan zat penting tubuh.

Itu gak semata burger saja, makanan model biskuit, kue, kudapan ringan dalam bentuk batangan dan lain-lain, beri juga masalah serupa.

Bicara di urusan sistem cerna saja dulu deh. Makanan sulit serap akan jadi penumpukan sampah dalam usus. Terfermentasi, berefek gas beracun.

Disitu muncul segudang gangguan kesehatan yang bersifat anatomis, fisiologis sampai psikologis. Belum ditambah makan model gini menyesatkan.

Kenapa? Karena cenderung lebih tajam di sisi rasa, manis, asin atau gurih, buat indera pengecap kita tertipu. Makan model gini dianggap enak.

Teralihkanlah kita dari produk alami, yang rasanya cenderung lebih lembut atau samar, karena memang sejatinya begitu. Akhirnya kita gak suka.

Jadilah kita kekurangan unsur penting bagi tubuh seperti enzim dan mineral, yang umumnya sulit sekali dikemas normal oleh produk pabrikan.

Defisiensi unsur penting itu juga perlahan, atau kadang cepat, merusak kesehatan secara menyeluruh, lahir dan mental: penyakitan-emosian.

“Kok bisa sih makanan begitu gak dilarang beredar?” Karena memang gak salah. Otoritas kan tugasnya mencegah sesuatu merusak secara instan.

Sisi higienitas, pemakaian bahan yang aman, itu isu utama yang harus ditangani. Kalau itu aman, ya gak ada masalah. Urusan gaya hidup? Lain!

Itu kewajiban yang harus dimiliki oleh seseorang secara mandiri. Kontrol kesehatan ada di tangan kita pribadi. Makanya, perkaya pengetahuan.

Abis ngetwit gini, langsung mikir panjang mau rekreasi junk food, hehe. Yah, harus diingat makan enak itu juga terkait langsung dengan usia.

Makin tua, ya makin hematlah cadangan essensial bagi kelangsungan hidup. Enzim semisal. Kalau makan buruk, cadangan enzim kita dikuras.

Untuk netralisir efek buruk makanan yang kita makan agar tidak merusak tubuh. Kalau terus-terusan makan buruk, ya cepat surut kualitas hidup.

Lagian murahan beli makanan alami di pasar becek, atau toko organik terpercaya ketimbang jajan makanan pabrikan di swalayan atau resto kok.

Sehat itu dibuat gampang oleh Tuhan. Sakit malah yang sebenarnya lebih susah. Dan lebih mahal.. Tapi memang lebih dicari oleh banyak orang.

“Gue sih makan bebas aja, kan udah olahraga ini”…

By Erikar Lebang

http://chirpstory.com/li/234803

Aduh, prihatin bener dengar kalimat super duper t*l*l yang diucap seorang teman “Gue sih makan bebas aja, kan udah olahraga ini”.

Yang mengucapkan kalimat ini seorang wanita muda, awal 30-an, cantik, tapi penyakit di tubuhnya segudang. Dia gak mewakili dirinya sendiri.

Tapi pernyataan temannya yang rutin olahraga. Dia mau ikut rutin olahraga, untuk hilangkan penyakit, makanya dia pinjam kalimat temannya itu.

Yang dia ragu, adalah temannya itu kendati rutin berolahraga, badannya terlihat ideal, tapi penyakitnya juga banyak! Dia bertanya pada saya:

“Harus berolahraga bagaimana? Supaya doktrin ‘kan udah olahraga, jadi bisa makan seenaknya’ bisa berlaku?”. Saya menggelengkan kepala.

Olahraga, apalagi keras, lalu mengkonsumsi makanan sembarangan = bunuh diri pelan-pelan. #Eh salah, itu bila dilakukan di usia muda ding.

Kalau sudah tua? Olahraga keras dan makan seenaknya? Itu sama aja minta cepet-cepet dipulangin sama Tuhan! Kenapa? Agak rumit sebenarnya.

Okay, tapi mari saya sederhanakan. Kan katanya saya jagoan ngibul sesuatu yang susah jadi mudah dimengerti.

Ingat logika radikal bebas? “Molekul yang kehilangan satu buah elektron dari pasangan elektron bebasnya” Apa itu efeknya bagi tubuh?

Dalam jumlah normal, molekul rusak dari radikal bebas seperti mekanisme alam yang bisa dimanfaatkan oleh tubuh untuk membantu pergantian sel.

Dalam jumlah yang sedikit diatas normal, radikal bebas mulai mengganggu, tapi tubuh ada penangkalnya, Superoxide Dismutases katalis pencegah.

Masalahnya waktu SOD dibentuk tubuh, terjadi defisit cadangan enzim sebagai pendorong reaksi lain tubuh. Jadilah ketimpangan, tubuh abnormal.

Kalau terjadi sesekali ok-lah. Kalau keseringan? Ya cari mati namanya. Ada lagi Gluthatione, antioksidan pamungkas juga. Tapi, ada tapinya.

Diperlukan vitamin C dalam jumlah sangat besar untuk memungkinkan hal tersebut terjadi. Masalahnya jarang manusia konsumsi sebanyak itu.

Konsumsi dalam konteks yang benar. Dengan kata lain mengambil dari bahan yang alami, buah-sayuran segar. Kalau pabrikan sih, gak bisa jamin.

Nah bila radikal bebas mengekspose tubuh dalam jumlah besar, ini bencana luar biasa. Antioksidan yang diproduksi normal saja ada konsekuensi.

Apalagi antioksidan yang dibuat masif, besar-besaran, pasti punya efek bumerang lebih buruk. Plus ditambah radikal bebasnya tetap menang.

Radikal bebas yang mengambil terus menerus mengambil elektron dapat menyebabkan perubahan struktur DNA sehingga terjadi mutasi sel.

Bila mutasi itu konstan terjadi, jadilah problem penurunan fungsi organ tubuh yang sangat merugikan kesehatan. Gagal organ, gagal sistem!

Belum lagi kalau kekacauan sel tubuh manusia itu juga terjadi bertahun-tahun, sel tubuh manusia rentan berubah sifat menjadi sel kanker.

Hubungannya sama olahraga apa? Nah salah satu pemicu radikal bebas adalah oksigen! Dalam tubuh tidak semua oksigen diproses sempurna.

Jelas olahraga butuh energi lebih. Untuk mengubah nutrisi ke energi, proses metabolisme itu membutuhkan kehadiran oksigen berjumlah banyak.

Di satu sisi olahraga (yang benar) baik memelihara fungsi tubuh secara anatomis fisiologis. Di sisi lain, olahraga tingkatkan radikal bebas.

Jadi bagaimana jalan keluarnya? Berolahragalah dalam takaran yang cukup, tidak berlebih dan tidak kurang. Dan, ini yang penting, makan benar.

Paham sekarang kenapa pasca berolahraga dan makan sembarangan adalah tindakan bodoh? Kenapa, karena pasca olahraga tubuh sebenarnya lemah.

Radikal bebas meningkat, aktivitas yang memerlukan enzim pendorong aksi metabolism pembentuk antioksidan sita banyak substansi penting tubuh.

Anda malah memberi beban tambahan ekstra bila makanan yang masuk adalah makanan sembarangan. Tubuh sudah jatuh tertimpa tangga!

Kalau logikanya cuma supaya gak gemuk berlemak, memang olahraga mungkin bisa jadi jalan keluar. Tapi apa guna? Luar bagus, dalem bobrok?

Bantulah tubuh pasca berolahraga dengan makanan yang benar. Makanlah makanan yang segar memiliki nilai antioksidan tinggi dan kaya enzim.

Buah, sayuran segar dan air putih berkualitas. Seharusnya jadi senjata utama asupan makanan pasca berolahraga. Sayang tidak banyak diketahui.

Pasca olahraga kita malah akrab dengan makanan-minuman kaya oksidasi, digoreng, dibakar, diproses, apalagi beberapa berembel sehat.

Gak heran, muncul anggapan, kalau sudah berolahraga masih kena penyakit, “wah berarti faktor genetik tuh”, yah Tuhan lagi disalahin!

Sekarang ubah mindset Anda, setiap berolahraga, jangan merasa sudah memberi tubuh benefit, jadi bisa makan sengaco mungkin. Kebalik!

Pasca berolahraga, justru tubuh berada dalam kondisi rentan. Makanlah sebaik mungkin. Makanan sehat itu gak mahal kok. Buah-sayur segar!

Minuman air putih yang berkualitas dan kaya mineral. Indonesia surganya makanan model begitu. Murah dan kenyang! Jangan buat alasan lagi!

Food Diary, Penting Dalam Food Combining

Ini curhatan teman terkait urusan berat badan dan pola hidup sehat. “Udah sesuai juklak #Foodcombining, sehat sih, tapi berat naik terus”.

Biasanya saya gak terlalu menggubris curhatan seperti ini, karena biasanya ‘lain di mulut lain di apa yang dilakukan’, cuma ini agak berbeda.

Karena dalam beberapa kesempatan teman saya ini tergolong disiplin dalam menjalankan #Foodcombining. Awal kira cuma karena lagi bareng saya.

Tapi ada beberapa teman laporkan hal sama, “Si A itu makannya #Foodcombining banget deh, disiplin, tapi kok gak kurus-kurus ya?”.

Again, biasa bereaksi dengan mengatakan, “Tujuan utama adalah sehat, berat badan nanti dicari sendiri oleh tubuh sehat” Cuma lagi, ini beda.

Teman satu ini sudah cukup lama melakukan #Foodcombining dan dia sendiri mengaku, kualitas hidup meningkat, banyak penyakit lama minggat.

Dari sana sih sukses, hanya terkait berat badan, dia memang amat jauh dari proporsional. Kurusan dikit sih, tapi dikiiiiit banget! *ngedip*.

Ibaratnya rada kurusan, tapi liatnya sekilas sambil ngebut, sementara dia lagi berdiri di pinggir jalan tol.. “Iya, elo langsingan.. dikit”.

Berat badan yang tidak seimbang seperti ini, akan membuat progress kesehatannya terhambat. Bisa jadi perbaikan yang telah terjadi, mundur.

Ada dua jenis lemak, subkutan dan visceral. Subkutan itu lemak di bawah kulit, dan visceral melapisi organ. Berat tubuh kadang gambarkan ini.

Bila terlihat tubuh miliki berat di atas rata-rata dan terlihat berlemak, sangat mungkin nilai subkutan visceralnya juga diatas rata-rata.

Ini amat membahayakan rangkaian kerja anatomis dan fisiologis tubuh terkait kelangsungan kesehatan serta kualitas hidup jangka panjang.

Sejatinya sih #Foodcombining bila dilakukan benar akan melakukan koreksi sendiri dan mengembalikan semua ke angka normal sesuai kebutuhan.

Bukan sesuai ekspektasi ya.. Banyak orang beratnya sudah normal, naik atau turun sesuai usia. Tapi nuntut tampilan kayak di usia remaja dulu.

Tapi kalau kasus teman saya ini, beratnya masih ‘agak’ over, kendati sudah #Foodcombining juga kendati sudah membaik kualitas kesehatannya.

Berarti ada yang salah nih. Selidik punya selidik, saya pas masuk mobilnya dia. Wah ternyata dalam mobilnya banyak sekali terdapat cemilan!

Sering kita mengingat hanya hal yang ingin kita ingat saja, dan cenderung melupakan hal kecil. Padahal hal kecil itu akar masalah sebenarnya.

Ternyata teman saya ini, memang disiplin #Foodcombining, tapi hanya di jam tertentu. Pasca sarapan buah misal, masih jam itu dia bisa nyemil.

Bahkan dia seringkali mengkonsumsi cemilan atau kudapan yang tidak sesuai dengan aturan #Foodcombining, lemper, bacang, burger semisal.

Pas ditembak kesana, baru ketauan teman saya ini, hobi banget mengudap makanan. Kudapannya banyak dan beragam. Ya sudah kalau begitu.

Kalau sesekali sih gapapa, bisa dibilang namanya sebagai rekreasional. Nah kalau sering-sering? Itu sih namanya sudah menjadi ritual!

Kasus begini biasa agak sulit ditangani tanpa niat yang kuat. Karena kaitannya ada pada kebiasaan bawah sadar. Saran saya buat food diary.

Jangan pernah makan apapun, tanpa mencatat dalam buku. Mau pake gadget juga boleh, tapi biasanya buku lebih ampuh, lebih nyebelin!

Pernah diomelin, “sialan saran lo, gue mau makan yang enak jadi gak jadi, cuma karena gue harus mencatat terlebih dahulu, ilang selera”.

Tapi orang yang komplain ini, sukses menurunkan kadar gula darahnya menjadi normal dan stabil. Setelah bertahun rutin minum obat diabetes.

Gitu deh! Kalau frustasi dan merasa sudah melakuan semua benar, tapi kok masih salah. Cek detilnya, seringkali keteledoran bermuara disana.

Pizza Sebagai Pencegah Kanker ?

By Erikar Lebang

http://chirpstory.com/li/233733

Hadeuh, ini keluar lagi omongan mencegah kanker dengan secara periodik mengkonsumsi pizza! Ngasal se-ngasal-ngasalnya yang ngomong.

Dulu memang pernah ada penelitian tentang ini, tapi basisnya sekali baca aja udah bikin ketawa. Pizza mencegah kanker, karean ada oreganonya.

Problemnya kalau dibaca dari arah penelitian itu, sepertinya oregano diteliti sendirian kegunaannya, bukan saat digabung ke pizza.

Balik lagi ke masalah pizza…

Padahal kalau melihat pizza-nya secara general, orang awam masalah kesehatan aja, bisa bilang kalau pizza itu sebenarnya tergolong junk food.

Dengan basisnya yang tepung, sudah pasti tinggi gula dan tinggi gluten. Dengan dipanggang, jelas akan banyak merangsang reaksi karsinogenik.

Belum isi topingnya yang bisa dijejali sosis, daging asap. Belum lapisan keju mozzarella yang sulit dicerna oleh tubuh. Pencegah kanker?

Dimakan bertahun-tahun? Efeknya gak kebalik aja udah sukur. Oregano bisa menyelamatkan pizza sebagai alat anti kanker? Itu berlebihan.

Kalau Ronaldo diambil dari Portugal, lantas dimasukkan ke dalam timnas Indonesia, diikutkan ke Piala Dunia 2018, bisa juara gak kira-kira?

Cuma orang sama sekali gak kenal sama sepakbola yang bilang “bisa”! 1 Ronaldo bisa menyelamatkan 10 pemain kualitas mediocre di Piala Dunia?

Atau kalau ada yang bilang Goetze sendirian bisa membawa Jerman juara piala dunia, pasti dia juga gak paham sepakbola. Emang timnya bagus!

Nah berdasar analogi itu, logis gak kalau bilang Oregano dalam Pizza bisa menjadi penyelamat orang yang makan dari bahaya kanker?

Itu kesalahan mendasar dari konsep Food Therapy yang didasari oleh paham medis berbasis kuratif, pengobatan! Apa-apa dilihat secara parsial.

Pengobatan itu dilihat bukan sebagai kesatuan utuh. Padahal kesehatan basisnya adalah perawatan tubuh secara holistik, menyeluruh!

Percuma makan oregano, biarpun kegunaannya selangit, kalau ‘jagoan’ itu jumlahnya cuma sejumput, tapi dikelilingi oleh ‘penjahat’.

Demikian kibulan ini, suka sukur gak suka unfollow! Gak follow bawel? Pizza pencegah kanker? Iya, tapi oreganonya sebaskom, dan dihirup!

Tubuh Tidak Bisa Bohong, Manusianya Bisa

By Erikar Lebang

http://chirpstory.com/li/231769

Jadi keinget teman, komplain “#Foodcombining kok gak gue kurus-kurus nih?” Reaksi saya? Gak ada! Sudah imun dengar beginian, omdo biasanya.

Bukan pelaku tapi pengaku #Foodcombining. Dan kebetulan ada lagi kerabat saya, ngaku-ngaku juga, malah kadang jadi ambassador yang kenceng.

Lebih ke sisi karena punya kekerabatan, bahkan kalau denger ceritanya nih, terkesan lebih #Foodcombining dari saya sendiri. Cuma, pakai Cuma.

Dia punya sakit lambung yang parah. Sering sampai gak berdaya. Gak nyambung kalau di sisi ini, ngaku #Foodcombining kok masih sakit itu?

Di sisi itu, saya juga cuma bisa ketawa. Mau dikasih seribu satu alasan, saya cuma ketawa. “Gak bisa kurus, soalnya genetik keluarga gemuk”.

“Ini sakit lambungnya memang gak seperti yang diderita oleh orang kebanyakan”. Sakit kok bangga? Dianggap tubuh sakit spesial itu keren?

Kenapa saya cuma ketawa. Karena berani bertaruh 1000%, level #Foodcombining-nya cuma kelas ngaku-ngaku, pasti abal-abal, kalaupun dilaku.

Teman saya yang ngaku gak bisa kurus tadi. Pernah satu momen, olahraga pagi bareng, ngajak sarapan bareng, saya as usual pesan jus buah.

Yang diminum teman saya? Teh hitam dan kental! Begini kok ngaku #Foodcombining. Minta kurus lagi? Sehat dulu, baru tubuh atur berat sendiri.

Kami berdua memang saat itu makan bubur. Tapi bedanya, saya tunggu jarak 15 menit setelah minum jus buah. Dan seminggu cuma sekali makan itu.

Eh, saya mah jarang sekali ding, pagi hari makan selain buah, bahkan di hari libur sekalipun. Nah, teman saya ini? Teh dan lanjut bubur!

Waktu satu waktu dia komplain lagi masalah #Foodcombining, saya sindir aja tentang juklak pagi yang dilanggarnya itu. Dia gelagapan.

“Cuma sekali itu aja kok, jarang banget”. Saya cuma nyengir sinis, whatever. Satu hal pasti: “tubuh tidak bisa bohong, manusianya bisa!”.

Sementara kerabat yang bolak-balik ngaku #Foodcombining karena ada hubungan dengan saya, tapi masih sakit lambung itu, ada cerita lain.

Satu waktu kami makan bersama. Sementara saya mengkonsumsi menu lokal dengan juklak #Foodcombining ditemani semangkuk sayuran segar, dia?

Makannya sih masih ikuti juklak #foodcombining, nasi gak campur protein. Tapi sayuran segar? Gak ada! Bahkan yang di menunya aja gak dimakan.

Kebetulan menu lokal dia masih ada sayur, walau dimasak, tetap saja wujudnya masih sayur. #Eh, dimakan sekedarnya ding, tapi gak dihabiskan.

Gongnya sih bukan disitu. Kebetulan kami makan beramai-ramai. Nah, salah satu teman memesan rujak buah untuk cuci mulut. Tindakan yang lazim.

Tapi kan gak lazim untuk pelaku #Foodcombining yang hanya makan buah dengan perut kosong. Guess what? Ya benar, kerabat saya ikutan nyomot.

Saya gak komen apapun. Cuma mendapatkan legitimasi lagi, penegasan bahwa #Foodcombining itu gak pernah gagal, pelakunya aja yang sontoloyo.

Eh, bukan pelaku juga ding. Orang yang ngaku-ngaku! Kalau hal kecil dilakukan salah, mungkin masih bisa dimaafkan, selama tidak fundamental.

Tapi kalau hal kecil itu fundamental, dan dilakukan salah tanpa sadar bahwa itu salah, bagaimana bisa berharap sehari-hari ada disiplin?

#Foodcombining #RawFood atau pola makan sehat lain, lahir dari disiplin akibat pemahaman kepada hal fundamental yang dilakukan dengan sadar.

Karena itu pelaku makan sehat biasa mendapati masalah tubuhnya menghilang atau kualitas hidupnya meningkat, seiring dengan kebiasaan melekat.

Kalau merasa sudah lakukan, lantas gak terjadi apa-apa, atau malah kesehatannya memburuk. Balik lagi lah, introspeksi, kontemplasi, apa deh?

Diperlakukan dengan benar, tubuh akan menjadi sangat baik kepada kehidupan kita. Diperlakukan salah, tubuh akan menjadi kejam kepada kita.

Maka itu kalau ngarep #Foodcombining atau pola makan sehat berhasil ya lakukan dulu dengan benar. Jangan ngarep dulu, tapi dilakunya ngasal.

Sekali lagi: “Tubuh tidak bisa bohong, manusianya bisa!”