Alarm Dari Tubuhmu Jangan Dicuekin Ya

Mereka yang sensitif tahu, saat sariawan muncul, migraine kumat, batuk menyerang, semua itu adalah signal/alarm protes tubuh utk PERBAIKI pola hidup.

Kerusakan lebih lanjut akan terhenti saat kita patuh pada signal protes tersebut. Kita sehat secara mandiri & hidup penuh kualitas.

Bayangkan saat tubuh protes, tapi yang kita lakukan adalah meminum obat sariawan, penghilang migraine atau penawar batuk?

Signal diacuhkan karena sakit hilang, tapi pengrusakan dibiarkan. Lalu heran saat gagal jantung, diabetes atau kanker muncul?

Kemudian Tuhan disalahkan dengan mengatakan “penyakit ini adalah turunan dari keluarga” atau kesalahan genetika & sejenisnya.

Cek isi meja makan saat makan, di rumah atau di restoran. Koreksi pola istirahat. Olahraga. Lakukan sebelum salahkan Tuhan

Yang sehat dan sejahtera dari menerapkan pola hidup sehat itu Anda sendiri, yang menderita saat lalai ya juga Anda sendiri

B*d*h bila hidup seenaknya lalu serahkan kesehatan ke tangan pihak lain, kalau Anda diperlakukan seenaknya juga, itu akibatnya.

—————————————————————————————————————

 

Kenapa saya tidak pernah sarankan konsumsi makanan secara spesifik sebagai ganti obat? Mari kita mundur melihat alasan sejenak

Obat, yang umum diminum, secara general adalah tindakan reaktif terhadap masalah yang telah timbul atau menyerang, penyakit

Namanya tindakan berbasis ‘reaksi’ pasti ia telah keduluan oleh sesuatu yang bersifat ‘aksi’. Atau dengan kata lain terlambat!

Terlambat bisa diartikan sebagai langkah antisipatif yang berada di belakang munculnya masalah. Hilang kemampuan mengatasi

Masalah bernama penyakit, muncul secara brjenjang, mulai sekedar ‘signal protes’ yang dikirim tubuh, hingga signal ‘kalah’

Signal protes, contohnya akumulasi pola makan buruk timbulkan luka lambung. Tubuh beri peringatan, pusing, sebah, sakit perut

Kondisi ini sayangnya disikapi bukan dengan perbaikan pola makan, tapi pendekatan yang bersifat instan, mencari obat yg cocok!

Langkah ini terlambat, karena obat tidak selesaikan masalah, tapi ‘matikan’ gejala sakit yang sebenarnya signal protes tubuh

Mirip dengan naik mobil, lalu lampu indikator pelumas menyala, tapi bukannya mengisi pelumas, Anda malah cabut sekering lampu

Signal protes kurang pelumas hilang, Anda menyetir lagi tanpa masalah. Tanpa? Mobil sebenarnya menderita, pun demikian tubuh

Signal kalah mayoritas (hampir 100%) terjadi saat tindakan mematikan ‘protes’ itu berlangsung akumulatif dalam jangka panjang!

Mirip dengan mobil yang ‘indikator pelumas’ dimatikan, akhirnya rusak vital parts-nya, tubuh pun alami hal identik demikian

Muncul kondisi gagal jantung, gagal ginjal, paru-paru rusak, liver sekarat dan lainnya. Lalu ada lagi obat yang berfungsi sama

Berupa tindakan reaksioner untuk redakan masalah, atau sekedar memperpanjang masa pakai (kasarnya ‘asal manjangin umur’)

Bisa berupa pengencer darah, memberi energi sesaat bagi tubuh, penenang saraf dan masih banyak lagi ragamnya. Same old song!

Tidak menyelesaikan masalah! Hanya mengulur waktu sekedar agar bisa hidup normal. Selesai? Jangan sedih, ada masalah lain

Obat diracik banyak mempergunakan substansi anorganik atau materi lain yang wujudnya asing bagi tubuh. Umumnya ditolak.

Organ seperti liver dan ginjal harus bekerja ekstra keras ‘menetralisir’ substansi yang ‘aneh’ bagi sistem tubuh tersebut

Dan dalam jangka panjang pengaruhi organ vital bersifat generator seperti jantung-paru-paru juga pada organ cerna hingga otak

Kini fenomena ini mulai banyak diketahui orang. Mereka menolak atau cermat bersikap agar tidak menjadi budak industri farmasi

That’s the good news. But with that, comes along the bad news! Kelakuan orang tetap sama, kendati mereka menoleh ke sisi lain

Mulai diminati & marak terapi herbal, terapi makanan juga beberapa konsep sejenis. Bagus? Belum tentu! Selama berkonsep sama

Yang terjadi tetap tindakan reaktif, “sakit liver nih, herbalnya apa?”. “Atau, “saya sakit lambung, bagusnya makan buah apa?”

Konsep natural, bisa juga back to nature, yang sebenarnya baik & berbasis naturopati (kemampuan tubuh sembuhkan diri sendiri)

Yang sebenarnya ada pada konsep herbal, food therapy atau apapun, jadi bias dan hilang sama sekali. Hampir tidak ada gunanya

Balik ke bentuk yang sebenarnya sama dengan ‘fenomena industri farmasi’ tadi. Orientasinya hanya tindakan kompensatif saja

Jadi kalau Anda bertanya “saya sakit ini, obatnya makan apa?” dan saya tidak menjawab, demikianlah alasannya. Tidak mendidik.

by Erikar Lebang | Twitter: @erikarlebang

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s