Amandel Jangan Dioperasi/Dibuang

Mendapat komplain teman yang diusia ke 50, disuruh operasi amandel oleh dokternya. Dia sewot saat tanya “Kenapa amandel harus dioperasi?”

Si ahli medis menjawab dengan malas-malasan dan keterangan sangat tidak masuk di akal menurutnya “Amandel kalau sudah dewasa cuma buat sakit”

Teman saya sampai sewot. Sebagai orang yang religius, dia berargumentasi “Bagaimana mungkin Tuhan ciptakan sesuatu yang bergunanya sesaat?”

“Kenapa dia bisa meradang?” Jawaban itu tidak bisa dijawab dengan jelas oleh ahli medisnya yang terus bersikeras bahwa amandelnya harus dioperasi

Logika cerdas! Kendati dipercaya secara turun temurun oleh kalangan medis bahwa di usia tertentu, amandel akan berangsur masuk ke fase ‘athropy’

“Kondisi dimana sebuah organ diyakini kehilangan fungsi secara gradual atau menyeluruh”. Kenyataannya amandel tidak, ia berfungsi konstan!

Sebagai bagian dari pertahanan tubuh, amandel adalah gerbang terdepan dari sistem yang dirancang oleh Tuhan dengan sempurna untuk melindungi tubuh

Dia akan jadi pelindung sekaligus ‘alarm’ bagi tubuh bilamana ‘musuh’ menyerang dalam bentuk patogen (mikroorganisme penyebab penyakit)

Saat serangan terjadi, pertahanan terdepan itu akan ‘meradang’, perlawanan pertama sekaligus alarm bagi seluruh tubuh untuk bersiap ‘perang’

Persiapan ‘perang’ yang baik memberi kesempatan bagi tubuh ‘mengalahkan’ serangan penyakit dengan lebih mudah serta cepat. Itu fungsi amandel

Namun ditengarai ada sebab lain yang bisa ‘stimulasi’ amandel, perlakuan kita terhadap tubuh! Dengan pola makan salah atau tindakan sejenisnya

Yang membuat amandel mudah sekali meradang walau mungkin pemicu awal sebenarnya kurang potensial. Hal ini yang sering dipandang mengganggu

Dan umumnya ini membuat amandel dituduh sebagai organ yang kehilangan fungsi di usia tertentu akibat bolak-balik merepotkan pemilik tubuh

‘Dibuang’ lewat jalan operasi adalah langkah keluar sering yang ditawarkan. ‘Dikempeskan’ dengan obat anti inflamasi atau antibiotik juga

Dari sini kita bisa melihat, sebenarnya kesalahan bukan terletak pada amandel apalagi Tuhan yang menciptakannya. Tapi dari perlakuan kita

Abaikan pola makan, pola istirahat, keteraturan hidup dan sebagainya membuat daya tahan tubuh harus bekerja ekstra keras dalam menjaga tubuh

Tergesa membuang amandel, sama seperti membuang garda depan pertahanan tubuh kita. Problem mengganggu akan muncul lagi di tempat lain segera

Analogi sederhana, bila pagar rumah Anda bolak-balik dicoreti oleh anak nakal, apa yang Anda lakukan? Tingkatkan keamanan atau rubuhkan pagar?

Tingkatkan keamanan memang perlu usaha, tapi merubuhkan pagar jelas akan datangkan masalah baru yang lebih banyak menyangkut keamanan rumah

Sama dengan amandel. Menjaga dan memperbaiki pola hidup mungkin perlu usaha, tapi secara visioner jauh lebih baik ketimbang sekedar ‘buang’

Saran saya untuk teman saya? Cari second-third opinion dari ahli medis lain. Kalau bisa yang berbasis pengobatan naturopati bukan konvensional

Atau setidaknya ahli medis yang memiliki reputasi pro pada perawatan dan pencegahan bukan pro pengobatan apalagi sedikit-sedikit ‘pembuangan’

Ingat, orientasi “mengobati sesuatu yang sudah sakit” itu otomatis membuat kita berada di posisi ‘kalah langkah’. Keseringan kalah? Fatal!

Semoga teman saya ini mendapati pihak kredibel yang beri langkah medis lebih aman dalam menangani masalah kesehatannya. Amiiiin! *berdoa*

From kibulan Erykar Lebang on twitter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s