Diabetes (Kumpulan 4 Kultwit Erikar Lebang)

By Erikar Lebang

PART I

Baca koran hari ini (19 Desember 2011) dan melihat topik diabetes sebagai kasus kesehatan yang kian meluas. Lengkap dgn nara sumber para ahli

Disebutkan prevalensi diabetes terus meningkat dr wkt ke wkt 14.7% warga perkotaan (21.8 juta) & 7.2% di pedesaan (10.7 juta)

Diabetes menjadi penyakit yang juga meluas ekspansi serangnya ke usia yang lebih muda 30-40 thn! Tiang ekonomi masyarakat umum

Sayang dari semua ‘pakar’ nara sumber yg ada di tulisan surat kabar ini, semua beri pendapat yg tdk bersolusi jalan keluar

Ada yg bicara “diabetes penyakit seumur hidup” (Helo! Kata siapa?!) Ada yg salahkan pola hidup ‘malas berobat’ masyarakat

Ada yang orientasinya masih berkutat di seputar konsep kuno “diet kalori yang tidak dipatuhi” Gosh! Only these? Sebagai pakar?

Saya bisa mengerti mengapa masyarakat punya kebiasaan buruk menunda pengobatan, mereka takut terjerat biaya yang besar.

Dengan gaya vonis seumur hidup yg digaungkan dari awal, jangan heran kalau lebih dipilih tahu terlambat ketimbang tahu duluan

Dan orientasi perawatan yg bergantung pengobatan seumur hidup juga membuat orang banyak memilih untuk tidak tahu lebih dahulu

Tidak ada satupun dari what so called pakar ini bicarakan diabetes kepada hal yg lebih signifikan dan berorientasi solusi

Diabetes Melitus terbanyak adalah type II. Terkait dengan akibat dari ‘gaya hidup yang dilakukan’, terutama pola makan.

Gaya hidup, pola makan! Itu jauh lebih signifikan menjadi pemicu kenapa diabetes bisa naik kelas seperti apa yg mereka katakan

Daya rusak diabetes tidak meningkat karena orang malas minum obat atau periksa ke dokter. Tapi krn apa yg dilakukan dgn hidup

Pankreas menderita karena semakin modern semakin banyak seni kuliner yang menjauh dari pola makan kodrati seorang manusia

Insulin gencar dikeluarkan karena banyak makanan yg mestinya dimakan sesekali diubah menjadi makanan pokok harus ada tiap

Pankreas menyerah dan insulin kehilangan arti saat produk buatan langsung Tuhan banyak tergantikan produk buatan pabrik

Gula dalam beragam bentuk, susu hewan, produk artifisial, tepung-tepungan dan lainnya simultan mengepung pola makan manusia

Itu yang sebabkan kenapa diabetes menyerang usia jauh lebih muda dan skala jauh lebuh banyak dibandingkan dengan leluhur kita

Karena apa yg dimakan dan apa yg dilakoni dalam kehidupan telah menjauh dari pola hidup nenek moyang kita yg lebih manusiawi

Kelebihan yg patut kita banggakan dari leluhur semestinya terkait hal yg konkrit seperti teknologi bukan perubahan pola makan.

Kembali ke masalah diabetes dan pakar tadi. Semestinya pembahasan diabetes dialihkan kepada ahli medis berbasis naturopati

Atau pakar kesehatan yg paham bahwa penyembuhan itu terkait dengan masalah serta tindakan holistik. Kesehatan itu hrs dirawat

Ahli kesehatan semacam demikian, tidak akan pernah memandang diabetes sebagai penyakit seumur hidup tak akan bisa disembuhkan

Atau penderita diabetes adalah budak obat-obatan sepanjang sisa hidupnya. Diabetes bisa ditangani dengan perbaikan gaya hidup

Banyak kasus dimana pelaku diabetes yg mengubah gaya hidupnya menunjukkan peningkatan kesehatan yg signifikan. Kembali normal

Menganut pola makan yg mengenyangkan tapi sehat. Bukan sunat kalori berlebihan dan biarkan hidup kelaparan sambil diobati.

Diajarkan mengkonsumsi makanan yg sesuai dengan kebutuhan tubuh, bukan keinginan nafsu. Makanan buatan Tuhan, bukan pabrik!

Diberikan pemahaman utk merawat tubuh, diajarkan memahami proses dan menghargai usaha. Tidak sekedar praktis yg berujung malas

Berbasis pendekatan ini, Diabetes pasti tidak akan menjadi momok menakutkan, berdaya rusak yg terus meningkat seperti sekarang

Dan bagi yg telah terkena sekalipun, ia masih bisa melihat secercah harapan utk sembuh dan tdk terbangkrutkan secara financial

PART II

Waduh, ini saudara kecil saya, waktu itu ditengarai berpotensi diabetes karena obesitas, kemudian heboh disuruh diet

Wah, ini pas lagi breakfast bareng, buset?! Dimana dietnya? Dia muncul dengan kombinasi sosis-beef bacon, disusul paduan roti

Lalu telur dadar ukuran besar lanjut bubur ayam. Sebelum ditutup dengan dua gelas susu. Wah, ini dimana dietnya?

Tapi memang jaman diet dulu, yg dipermasalahkan lebih kepada pembatasan konsumsi nasi, sbg pokok utama dari pembatasan kalori

Sebenarnya ini potret kebutaan orang kebanyakan terhadap aplikasi nutrisi dalam kesehatan. Apa yg dimakan dipandang sepele

Pangkal kesehatan dan penyakit, pola makan, sulit disadari. Jangankan orang awam, mereka yg semestinya ahli saja jarang paham

Seberapa sering mendengar kalimat “Gak ada hubungannya dengan makanan” atau “makannya bebas saja” berbasis ketidak tahuan itu

Makanan hanya dilihat dari sisi kandungan atau tampilan, bagaimana tubuh menyikapi saat makanan itu masuk? Tidak dipedulikan

Jangan heran kalau saudara kecil saya ini tidak paham bahwa apa yg dimakan bisa jadi ‘menggiring’ dia ke masalah di masa depan

Bisa jadi saat itu muncul, bukannya pola makan yg dikoreksi, tapi malah genetika bawaan yg dipersalahkan. No lesson learned

Sehingga kesalahan sama akan terulang lagi di masa depan. Bagai lingkaran setan. Tidak mau terjebak? Pahami kesehatan Anda.

Sadari bahwa makanan itu 90% terkait kebutuhan tubuh, dan 10% terkait keinginan lidah. Cari tahu apa yg dibutuhkan utk sehat.

PART III

Konsumsi Protein Hewani Pada Penderita Diabetes

Seneng banget, sembari nunggu dog food dichopped, seorang ibu-ibu usia 60’an makan semangkuk besar salad. Temannya nanya, “kok makan ini?”

Sang ibu pemakan salad menjawab santai, “Saya divonis diabetes, sekarang cuma makan sayuran segar begini saja” BRAVO!!!

Tapi terus dia masih ngomong, “saya masih makan nasi merah kalau di rumah, ayam dan daging sih” Hehe, nah ini masih rada bolong, bu

Konsumsi protein hewani memang jarang dikontrol baik penderita diabetes, karena fokus makanan lebih ke sisi konsumsi gula

Padahal konsentrasi protein hewani membuat kerja pankreas tetap terbebani untuk sekresi enzym pencerna. Jadi ya sulit pulih fungsinya.

PART IV

http://chirpstory.com/li/240771

Semalem diskusi dengan teman seputar masalah gula yang dideritanya, tergelitik untuk menyampaikan disini, itung-itung edukasi buat sesama.

Teman komplain, dia diingatkan jaga makan dan minum obat, bila gak mau gula darahnya tinggi terus hingga nanti dia perlu suntik insulin.

Dia bilang, kenapa tubuhnya menyikapi naiknya gula darah terlalu berlebihan? “Kenapa harus insulin tergesa-gesa keluar, kan gue perlu gula?”.

“Gue perlu tenaga besar, makanya makanan gue harus banyak gula. Sayang badan gue terlalu over protektif dalam mengeluarkan insulin!” Idih…

Situ okeh? Mekanisme perlindungan Tuhan disalahin? Lagian ge-er amat nganggep dirinya punya tubuh sepesial, beda dari manusia laen. Oy sama!

Semua manusia di dunia, mau di Gedung Putih, US sampe di bedeng pasar becek Zimbabwe, kalau gulanya naik, pasti organ pankreasnya bereaksi.

Pankreas keluarkan insulin, menekan turun lonjakan gula darah dengan menyerapkannya dalam sel tubuh. Tapi ini semacam jaring pengaman.

Gak boleh keseringan dan kebanyakan. Bila ya, pankreasnya kelelahan dan fungsi insulin menurun. Tubuh capek keluarkan insulin, eh gak ngefek.

Gula darahnya masih tinggi, membuat kerusakan sana-sini. Padahal tubuhnya sudah keburu lelah. Eh, temen saya masih ngeyel aja.

“Tapi kan gue suka olahraga, gapapa gula tinggi, energi banyak keluar” Halah, dasar atlet gagal. Gula dalam darah gak melulu identik energi.

Gula darah berlebih malah punya sifat racun bagi tubuh. Dia merusak cadangan protein tubuh dan merubahnya menjadi zat merusak, sakarifikasi.

Salah satu efek merusak sakarifikasi adalah menghentikan kerja radikal bebas dalam membuang tumpukan sampah tubuh. Jadilah racun perusak.

Tumpukan racun disebarkan darah ke seluruh penjuru tubuh. Itu sebab tinggi gula identik dengan penyakit degeneratif, penurunan fungsi tubuh.

Stroke, kebutaan karena katarak dan glaukoma, darah tinggi, jantung dan lainnya. Atau tentu saja problem kesehatan identik gula, diabetes.

Jadi jangan ge-er banyak aktivitas fisik, bisa seenaknya makan gula. Gak semua identik diproduksi jadi energi. Lagian seberapa kenceng sik?

Atlit aja, pasca latihannya kendor, sering bermasalah dengan gula. Apalagi amatiran yang program latihannya minim skema, dapet salam.

Ya udah, gitu deh. Tau diri sama gula. Jangan ge-er suka olahraga bisa makan seenak jidat. Nanti kalau menderita Tuhan disalahin.

Image

One thought on “Diabetes (Kumpulan 4 Kultwit Erikar Lebang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s