“Ini kan penyakit turunan”

Umumnya orang mengira bahwa sakit berat, menderita lalu meninggal adalah siklus yang harus dialami setiap manusia yang hidup

Sakit degeneratif berat lalu tak berdaya, mangkat. Fenomena terkini, banyak penyakit yang malah muncul lebih dini dan membunuh

Makin banyak orang mengira bahwa hidup sehat hingga usia panjang adalah fenomena masa lalu yang tidak termungkinkan masa kini

Semua rata-rata menyalahkan faktor stres yang sejalan dengan perkembangan dunia modern sebagai biang keladinya hal tersebut

Ada juga yang menempatkan penyakit sebagai hukuman Tuhan karena dekadensi moral dari waktu ke waktu. Ini lebih absurd lagi

Satu hal yang pasti, stres itu dikenal oleh manusia setiap jaman. Bentuk tidak serupa memang, tapi bebannya sama sesuai masa

Tuhan juga tidak sekejam yang dituduhkan, bila moral tererosi dan diganjar penyakit, banyak juga orang bermoral baik terkena

Boleh saja katakan itu sebagai ‘kerusakan kolateral’, tapi ketimbang tuding Tuhan sebagai penghukum, kenapa tidak introspeksi?

Tuhan pun tidak bodoh dalam mencipta. Hanya segelintir penyakit muncul akibat masalah genetika. Mayoritas disebabkan sendiri.

Kesimpulan, penurunan kualitas kesehatan mencolok antara kita dan nenek moyang, terletak pada sisi yang jauh lebih nyata

Adanya faktor penyebab dan kebiasaan terkait hal itu, yang tidak dimiliki nenek moyang kita. Lalu terakumulasi bertahun-tahun

Nenek moyang kita tidak mengenal makanan cepat saji atau makanan prosesan (yang lebih tepat dikategorikan makanan sampah)

Nenek moyang kita banyak mengkonsumsi makanan secara natural, diproses cermat dan bergantung penuh kepada nilai kesegarannya

Oleh kita konsep ini dikatakan bodoh, minim teknologi bahkan barbar. Sebenarnya yang idiotik, mereka yang anggap demikian

“Penyakit itu bukan hukuman Tuhan, tapi akumulasi apa yang kita lakukan dan membuat perkembangannya termungkinkan”

Tubuh sebenarnya miliki banyak ‘penyaring’ bagi penyakit hingga benar2 ada. Dan memungkinkan ‘steril sakit’ untuk waktu lama

Sayangnya produk modern, instan, akal-akalan industri komersil, pola makan sembarangan, gaya hidup sembrono mengikis itu semua

Tubuh pun sebenarnya bukan tidak memberi signal terhadap perlakuan semena-mena seperti itu. Mereka ‘protes’ setiap saat

Protes itu berupa keluhan dan penyakit kecil yang muncul rutin/berulang hingga berkembang menjadi besar dan mengganggu secara real

Kondisi disebut oleh pengobatan Timur sebagai ‘kesehatan Dorman’ Anda tidak sakit, tapi tidak juga sehat. Illness in progress

Tapi konsep ini mentah oleh pengobatan masa kini yang pelajari kesehatan dengan kacamata berbeda, “Belum sakit? You’re fine!”

Signal protes tubuh? “ah itu bukan apa-apa! Mari kita minum obat untuk menghilangkannya!” Muncul lagi sakitnya? “Tenang!”

“Ada pengobatan invasif yang lebih powerful, untuk hilangkan itu semua, obat mahal, penyuntikan, penyinaran, operasi! Santai”

Begitu terus prosesnya, sampai akhirnya semua tidak mampu lagi hilangkan protes tubuh. Saat protes berubah jadi penyakit berat

“Maaf. Teknologi yang ada sekarang belum memungkinkan menolong. Pasrahkan saja pada Maha Kuasa, memang ini sudah waktunya”

Sementara untuk sampai kesana, acap banyak waktu, tenaga dan uang percuma terbuang. Menderita lalu kehilangan segalanya

Padahal dengan ganti kebiasaan, mengkoreksi hal kecil disana-sini, konsisten belajar, ‘siklus’ itu sangat bisa untuk diubah

Rutin mengkonsumsi kopi dan susu, tapi pasca jogging, renang, persendian Anda menjadi ngilu, perlu obat pengurang rasa nyeri?

Anda jangan sesumbar mengatakan diri sehat! Itu sama sekali tidak sehat! Seberapapun kuatnya Anda berolahraga

Tunggu sampai obat penghilang rasa sakit itu mengganggu sistem saraf Anda atau membuat sistem filterisasi tubuh rusak total

Sementara kerusakan sendi & pengeroposan tulang tetap terjadi tanpa bisa dicegah! Sebuah kondisi yang sebenarnya mudah dicegah

Stop konsumsi susu dan kopi, anut pola hidup sehat, makan mayoritas makanan segar minim proses. Biarkan tubuh jadi sehat alami

Hidup berkualitas tanpa penyakit serius mengganggu, sangat mungkin. Bukan cuma hak nenek moyang kita. Berlaku sepanjang jaman

By @erikarlebang

Sakit, Bukan Genetika, Tapi Gaya Hidup

Erikar Lebang, @erikarlebang, 06/05/2014

http://chirpstory.com/li/204444

Yang membuat keki, mereka yang punya penyakit lalu cari solusi lewat pola hidup sehat, terutama saat nanya ke saya, harus ngaku salah dulu.

Banyak yang sulit menerima kenyataan kalau sakit pangkalnya ya kesalahan kita dalam menjalani hidup. “Udah sakit, bukannya dikasihani”.

“Mestinya yang disalahin itu genetik, takdir Tuhan atau apa kek? Jangan ke saya. Udah sakit nih” Makanya banyak yang tersinggung.

Saya sudah seringkali bercerita, genetik, bisa jadi memang membuat beberapa penyakit jadi langganan anggota keluarga. Tapi dilhat ulang dulu.

Ada penelitian yang mengungkapkan, dari sekian ribu pasang anak kembar, yang dipisah hidupnya satu sama lain, yang sakitnya sama, dibawah 3%.

Apa yang terjadi? Memperlihatkan walau ada potensi secara genetika sebuah organ terlemahkan, tapi begitu gaya hidup dibuat beda, gak muncul.

Yang paling umum malah, secara genetika baik-baik saja, tapi gaya hidup keluarga terutama, terutama sekali, isi meja makan yang diwariskan.

Sedihnya, bukan mengintrospeksi gaya hidup (baca isi meja makan) alih-alih penyakit keluarga dialamatkan ke Tuhan, “ini karena genetika”.

Bukannya membela Tuhan, karena gak minta dibela juga (paling dihukum kalau keseringan menyalahakan), tapi ini menyulitkan upaya penyembuhan.

Karena buat orang yang sudah sakit malas mengkoreksi pola hidup, lebih enak nyalahin Tuhan, sambil minum obat, ntar minta sembuh aja ke dia.

Dipakailah pemeo “Sakit datang dari Tuhan, kesembuhan pun datang dari Tuhan”. Penderita darah tinggi berdoa sembuh sebelum makan sop kaki.

Orang-orang yang ngaku penikmat kuliner juga, paling sebel kalau ditembak hobinya itu sebagai penyebab penyakit mereka. Gak menikmati hidup.

Padahal dimana menikmati hidup kalau sudah terkapar kena stroke? Kerabat saya pernah nangis lihat anaknya makan sate, karena dia gak boleh.

Jadi kalau punya penyakit, berat apalagi, kepingin menyembuhkan diri dengan mengadopsi pola hidup sehat. Harus mau dulu mengaku salah.

Namanya kesalahan, ya harus diperbaiki. Sama kayak dosa. Ditebus lah, istilah lainnya. Tapi sama juga kayak dosa, jangan diulang!

Minjem istilah Dokter Tan Shot Yen, “penyakit kelamin menular itu analogi paling bener buat problem gaya hidup, pas sembuh, hore jajan lagi”.

Kalau dosa dilakukan sesekali pasca tobat, ya gak papa lah. Tapi kalau berulang lagi pas sembuh? Ya mending gak usah pernah sembuh.

Nah begitulah, kalau keki pas nanya saya tentang penyakit, gak siap introspeksi hidup, gak mau disalahkan, ya jangan nanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s