Kadang kita terjebak pada mitos salah

Budaya makan untuk sehat dan makan dari sisi budaya kuliner kadang menyesatkan dan membuat kita terjebak pada mitos salah.

Yang memperparah lagi, dunia medis konvensional memang punya kecenderungan meminimalisir peran makanan dari wilayah kesehatan.

Makanan sebagai elemen utama kesehatan naturopatis, sebagai upaya preventif maupun kuratif tergeser oleh pengobatan invasive.

Ketidaktahuan terhadap makanan tepat untuk pola hidup sehat akhirnya semakin menjadi dan membuat dunia kesehatan kian rumit.

Kualitas makanan sebagai industri praktis komersil kian buruk di waktu ke waktu, berimbas selaras dengan kualitas kesehatan.

Konsep medis konvensional (yang berbasis kuratif) akhirnya tertarik lebih ke sisi antisipasi memburuknya kualitas kesehatan.

Namanya juga upaya antisipasi, sehebat apapun dilakukan, pasti kalah langkah atau terlambat. Sementara kondisi kian memburuk.

Semakin berlarut, semakin tidak berdaya, fenomena terkini. Akibat kemampuan tubuh utk ‘sembuh sendiri’ dipandang sebelah mata.

Kini setelah konsep naturopati yang andalkan kemampuan tubuh sembuh sendiri terbukti, konsep ini kembali dilirik dan marak.

Tapi karena kungkungan mitos & terlalu membekasnya konsep kesehatan kuratif, berbasis obat, metode ini acap bias aplikasinya.

Elemen makanan dan kesehatan dilihat bukan sebagai bagian dari pola hidup, tapi lebih ke sisi fungsinya sebagai obat.

Unsur makanan dipaksakan muncul sebagai obat jenis baru. Misal: Daun jambu obat diare, susu untuk tulang keropos dan lain sebagainya.

Atau sesuatu yang dianalogikan secara paksa (oleh iklan). Makan oat digambarkan menyerap kolesterol bagai spons serap air.

Akhirnya konsep sehat seperti FoodCombiningRawFood dan sejenis menjadi mentah lagi, karena aplikasinya melenceng, ngawur.

Belum lagi obsesi akan estetika tubuh, orientasi berat badan dan tubuh ideal. Makin menjauhkan fungsi sehat dari makanan.

Fahami fungsi dasar makanan sebagai bagian dari pola hidup sehat. Bukan upaya instan sehat, apalagi cuma kompensasi hidup enak.

Jalan keluarnya, agak klise sih, belajar ulang tentang makanan & tubuh manusia, pahami benar. Itu mulu? Ya abis, gimana lagi?

Alpukat itu gak bikin gemuk. Yang bikin gemuk, budaya kuliner alpukat dibuat jus dengan coklat, gula cair dan taburan kopi.

Dan gemuknya, juga lahir dari serentetan pola hidup asal-asalan yang sebenarnya gak melulu melibatkan si jus alpukat.

Tapi konsep melibatkan asam lemak essensial alpukat, yang baik untuk perawatan sel tubuh, untuk obat kanker, ya salah juga.

Kalau terkena kanker lalu mengkonsumsi alpukat banyak-banyak, dengan harapan sembuh, tapi pola hidupnya sama? Namanya…………..(no komen)

Apalagi karena alpukat dianggap terasa ‘cemplang’, ditambah dengan gula, susu cokelat, kopi tadi. Sel kankernya ya malah menjadi.

Alpukat baru bisa melawan kanker, kalau ia bersinergi dengan unsur makanan lain menjadi pola makan natural.

Gak cuma saat sudah sakit. Hidup sehat itu dimulai jauh sebelum kita sakit. Dirawat secara keseharian. Makan enak? Sesekali

by Erikar Lebang | Twitter: @erikarlebang

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s