‘Let Your Food Be Your Medicine’, Jangan Sampai ‘Your Medicine Be Your Food’

“Let your food be your medicine” – Hippocrates

Itu kalimat mutiara bijak yang lahir jauh sebelum pengobatan atau dunia kesehatan kenal beragam temuan modern seperti sekarang

Tapi ironisnya sejarah mencatat, kebugaran, kesehatan dan tingkat usia masa itu jauh lebih baik dari masa sekarang. Kenapa?

Kalimat Hippocrates tadi menjadi salah satu penyebab utama. Kita tahu makanan sudah lama dicabut dari akar ‘fungsional’nya

Lebih dipentingkan fungsi ‘sosial’ dari makanan untuk memenuhi keperluan pemuasan indera pengecap, bukan kebutuhan tubuh

Sesi makan yg semestinya menjadi tempat dimana tubuh ‘memanjakan’ kebutuhannya secara maksimal, berubah menjadi ‘penyiksaan’

Saat makan tiba, tubuh justru dipaksa mengerahkan seluruh daya yang dimilikinya sekedar utk mencerna ragam jenis makanan masuk

Semisal pankreas disiksa mengeluarkan insulin di luar batas kebutuhan karena lonjakan gula darah akibat karbohidariat berlebih

Atau tubuh ‘menguras’ cadangan enzym yg tersedia, cuma gara-gara padu tidak ideal karbohidariat-protein masuk dlm jumlah banyak

Bisa jg cadangan kalsium dlm tulang hrs ‘dicuri’ keluar dari tulang, utk menetralkan konsumsi susu rutin yg acid-kan PH darah

Atau buah yg mestinya sehat, karena ketidak tahuan, dimakan sesudah makan besar. Akhirnya menjadi tidak berguna, malah mengganggu.

Sayur yg semestinya disantap segar, dimasak berlebih, dimana menjelma menjadi beban penguras enzym lalu menumpuk di usus besar

Akhirnya masa pakai tubuh yg semestinya berlaku hingga puluhan hingga seratusan tahun, tereduksi menjadi separuh atau dibawah

Pankreas ngambek, cadangan enzym tubuh habis, tulang keropos, pencernaan rusak adalah contoh segelintir faktor pemendek tadi

Tubuh manusia pada prinsipnya sama. Dari jaman nenek moyang hingga saat ini, semua nyaris identik, DNA-nya serupa! Yang berbeda?

Cara memperlakukannya. Jangankan dengan nenek moyang, sesama manusia masa kini pun, anggapan bhw tiap tubuh berbeda dibesarkan

Si A alergi demikian, si B alergi demikian atau si A punya kelainan ini dan demikian si B, semua harus berbeda. Itu basisnya.

Kendati memang kemungkinan ini ada, tapi persentase sangat kecil! Tidak bisa dipukul rata. Keluarga yg idap diabetes, semisal

Apakah Tuhan ciptakan satu turunan keluarga pasti dgn sistem pankreas yg buruk hingga turun temurun? Sangat kecil kemungkinan!

Apalagi dibandingkan dengan kasus diabetes yg diidap oleh ratusan ribu hingga jutaan penduduk dunia. Tuhan tidak salah disini

Apa yg diwariskan oleh keluarga pengidap diabetes ke turunannya secara general? Yup! Isi meja makan! Kebiasaan yg diwariskan

Semestinya kita kembali ke apa yg diungkapkan Hippocrates. Apa yg dimakan semestinya jadi penjaga kesehatan (bukan obat) kita

Makan itu harus dikembalikan pada sisi fungsionalnya. Penuhi kebutuhan tubuh. Makan ‘real food’, buatan Tuhan yg minim proses

Sisakan 1-2 hari/minggu bagi sisi sosial makanan utk penuhi kebutuhan sosial budaya manusia. Tempatkan secara proporsional

Kembali ke pola hidup! Makanan juga tidak bisa serta merta dijadikan ‘obat’, ia harus menjadi pola hidup baru bisa menyehatkan

Itulah penjelasan dari kalimat bijak “let your food be your medicine” Hippocrates. Sekali lagi, pola hidup! Baru bisa berjalan. Jangan samapi terbalik : your medicine be your food. Duh serem…..

by Erikar Lebang | Twitter: @erikarlebang

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s