Makan Bubur Itu Sulit

From kibulan Erykar Lebang on twitter

PART I

Makan bubur itu sulit, harus menekan keinginan cepat menelan tanpa mengunyah. Karena kalau sampai kejadian, lambung merana

Bubur yang notabene adalah karbohidrat tertelan tanpa tersentuh air liur dengan benar, tempat asal substansi amilase dan ptalin

Masuklah si bubur ke lambung secara tidak tercerna sempurna. Sistem cerna lanjutan, kelabakan! Sakit lambung? Jangan heran!

Jadi kalau kelar makan bubur sering merasa kembung, ya itu akibatnya bung. Sama spt org sakit dikasih bubur, lambat sembuh

Jadi kalau makan bubur, usahakan mengunyah, setolol apapun kita terlihat karenanya. Apapun yang kita makan hrs berguna untuk tubuh

Untuk bubur ayam, bila lebih dari 1 minggu sekali. Sisihkan protein hewaninya/sisakan sesedikit mungkin, kasihani sistem cerna

Sistem cerna manusia berbasis enzim amilase untuk karbohidrat dan pepsin untuk protein. Mereka berdua agak kurang kompak kl ketemu

Kalau mencari makanan ringan yang mudah cerna, ya bukan beras dijadikan bubur, itu prosesnya masih menguras enzym pencernaan

Buah adalah makanan teringan yang mudah dicerna oleh tubuh. Tentu buah sesuai kriteria, bukan model duren, nangka atau cempedak

Buah terurai dengan mudah. Ia bahkan nyaris tidak memerlukan enzyme cerna. Tapi makannya tetap harus perlahan dan tertib

Sayuran segar jg mudah cerna. Walau mungkin agak tergolong tidak ringan, tp kandungan enzymenya melimpah. Bantu sistem cerna

Walau sudah sering dicap kuno dan terbelakang, tapi ini pedoman tertib makan yang terbaik! RT @fardhiaelka: pantes anjuran kunyah makanan 33x

PART II

Ibu di meja sebelah sedang bujuk anaknya makan bubur. Anak menolak: “Nanti cepet laper” | Ibu: “Pagi jangan makan yang berat”

Sesuai dengan siklus sirkadian, si ibu ini tidak salah, sangat tepat! Pagi jangan membebani pencernaan dengan makanan berat

Yang jadi masalah, jenis makanan pilihannya, cuma terkesan ringan, sejatinya tetap saja tergolong berat, nasi dijadikan bubur!

Nasi yang diencerkan dengan air untuk menjadi bubur, hanya fisiknya yang terlihat ringan, tapi unsur aslinya tetap karbohidrat

Butuh pemakaian enzym amilase dalam cukup besar untuk memecahnya agar bisa dicerna oleh tubuh dengan mudah dan dipergunakan

Kabar buruknya? Enzym amilase terletak di air liur manusia, ia mulai bekerja saat makanan dikunyah, dihaluskan, sebelum cerna

Bubur karena lunak dan cair, membuat kebiasaan makan, menisbikan peran kunyahan tersebut. Makanan segera ditelan tanpa kunyah

Akibatnya air liur tidak sempat menyentuh makanan yg masuk tersebut, enzym tidak sempat memecah karbohidrat agar mudah cerna

Akibatnya sistem cerna lanjutan tidak mampu proses banyak manfaat dari makanan yg masuk. Hampir bisa dibilang terbuang percuma

Itulah sebab bubur sangat bisa digolongkan sebagai makanan rendah energi. Bukan dr sisi energi yg disumbang, tapi minim guna

Signal cepat lapar yg diberikan oleh tubuh pasca makan bubur, sebenarnya bukan sama sekali pertanda bahwa bubur makanan lunak

Tapi lebih ke sisi tubuh tidak mendapatkan banyak manfaat dan kebutuhan dari apa yg masuk. Therefore, the body ask for more

Yang lebih buruk? Ibu ini beri tambahan protein hewani dalam bentuk suwiran daging ayam dalam jumlah banyak ke dalam bubur

Selain mencederai konsep makanan ringan yang ia inginkan di awal, ia juga beri padanan buruk bagi karbohidrat untuk dicerna

Nah, yg lebih cakep lagi, si ibu menenteng buah sebagai penutup sarapan mereka. Hehe, pemahaman makan sehat yg jungkir balik

Akhirnya sesi sarapan bukannya menjadi sesi pemberi energi tepat untuk memulai hari, tapi sesi ‘penyiksaan’ bagi tubuh

Bayangkan bila ini terakumulasi dalam hitungan tahun? Dipadu dengan kualitas makanan yg kian memburuk akibat komersialisasi

Jangan heran bila kondisi kesehatan masyarakat kian memburuk from time to time dan banyak penyakit yg berdaya rusak lebih kuat.

PART III

Erykar@erikarlebang

Why is it bubur ayam identical with breakfast? Because people think it’s ‘easy to digest food’? Oh no!

Makan bubur ayam, masuk dalam kaidah ‘bisa cerna’, saat rahang tetap bergerak mengunyah untuk menstimulasi keluarnya air liur.

Walau lunak bahkan cair, bubur langsung ditelan tanpa tercampur air liur akan kehilangan proses urai, derita sistem cerna.

Apalagi bubur populer dicampur dengan ayam, yang nanti di lambung akan mengeluarkan enzym berbeda lagi untuk mencernanya

Bila basis makanan berat karbohidrat, PH lambung otomatis diset tubuh agar derajad keasamannya tidak terlalu tinggi.

Berbeda saat protein hewan masuk, derajad keasaman lambung akan meningkat disesuaikan dengan kebutuhan kerja enzym pengurai.

Bubur ayam akan menghadirkan dua unsur berbeda yang seharusnya dicerna dengan cara berbeda pula dalam waktu bersamaan.

Kondisi yang membuat rentetan sistem cerna memiliki masalah. Derita ini ditambah karena umumnya bubur dibuat dari beras putih.

Beras putih adalah jenis biji-bijian yang telah melewati proses panjang dan sebenarnya merusak hampir semua kegunaannya.

Berita buruk lagi, menu bubur ayam tidak dilengkapi dengan unsur penyerta yang mampu kurangi efek buruk, misal sayuran segar.

Reaksi orang mengkonsumsi bubur biasa ada dua hal yang signifikan. Satu, cepat lapar. Dua, perut terasa sebah, kembung.

Yang pertama gambarkan minimnya manfaat yang bisa diambil tubuh dari bubur ayam tersebut. Ia segera kirim signal lapar lagi.

Sayang kondisi mudah lapar ini, disalahartikan ‘bubur makanan ringan’, mudah dicerna, cocok bagi pagi hari atau yang sakit.

Kedua, rasa sebah, jelas ini efek lanjutan dari ketidak idealan kondisi sistem cerna menyikapi padanan tak serasi bubur ayam.

Dan jangan lupa akumulasi kabar buruk bubur ayam masuk sebagai sarapan adalah terkait siklus pagi hari tubuh manusia.

Ritme sirkadian, siklus alamiah menempatkan sistem cerna pagi hari adalah fase ‘pembuangan’ yang membutuhkan energi besar.

Menempatkan makanan berpadan ‘amburadul’ seperti bubur ayam membuat sistem cerna amat terganggu alokasi energinya.

Nah, bubur ayam dikonsumsi sesekali, wiken misal, jelas tidak beri masalah signifikan. Bila pola makan sehat rutin dilakukan.

Tapi apa jadinya bila bubur ayam jadi sarapan rutin? Setiap hari atau 3-4 kali perminggu? Atau jadi santapan orang sakit?

Ya si sehat akan jadi sakit-sakitan. Yang sudah sakit menjadi makin sakit, atau minimal proses sembuhnya dipersulit.

Mau makan bubur ayam? Pastikan sesekali, rekreasional. Temani dengan lalapan sayur segar. Agar berguna sesi makan tersebut.

Lagipula sayuran segar akan memberi alasan agar mengunyah. Gak mau juga kan dibilang “ih bego, kok bubur dikunyah?”

Ingin mendapat sensasi gurih seperti ayam? Tambahkan biji-bijian. Edamame, polong, semisal. Itu juga alasan untuk mengunyah

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s