Kanker (Kumpulan 8 Kultwit By Erikar Lebang)

PART I

Sore Tweeps menyambung tanya seorang teman seputar kanker dan dasar pemikiran mengapa pengubahan pola hidup bisa sembuhkan?

Ia terkagum-kagum akan keberhasilan seorang dokter yg fenomenal menyembuhkan kanker pasiennya hanya dengan mengubah pola hidup

Dan membuang semua koleksi obat farmasi ataupun herbal yg telah tahunan dikonsumsi pasien itu tanpa beri kesembuhan permanen

Ia tanya mengapa pengubahan pola hidup itu bisa sembuhkan penyakit berat spt kanker saat obat-obatan dlm ragam bentuk gagal?

Konsep demikian adalah hal yg normal dan mudah dimengerti bila kita paham akan kemampuan defensif tubuh alami buatan Tuhan

Dan kita tahu mengapa kanker bisa terjadi dalam tubuh kita? Apa yang menyebabkan? Apa yang buatnya bisa berkembang dan tumbuh?

Berikut adalah salah satu penjelasan sistematis mengapa perubahan pola hidup bisa selamatkan seseorang dari ancaman kanker

01. “Pertumbuhan sel kanker bisa dihambat” Saat zat karsinogen dan elemen pendukung perubahan sifat sel lainnya ditiadakan

02. “Dihentikan regenerasi sel kanker” Saat lingkungannya dihambat, sel-sel yg telah berubah sifat berhenti berkaderisasi

03. “Sel Kanker dinormalkan kembali” Salah satu penelitian temukan itu saat sel kanker ditumpangkan dlm media berkalium tinggi

04. “Menyehatkan lingkungan hidup sekitar sel kanker” Menghentikan kemungkinan hidup kanker dgn menghentikan pendukungnya

05. “Melemahkan kemampuan hidup sel Kanker”. Dengan pola hidup sehat, kanker melemah saat semua sektor penguatnya ditiadakan

Demikian poin sederhana, penjelas mengapa pengubahan pola hidup bisa menyelamatkan hidup seseorang dari ancaman kanker

Kalau demikian kenapa konsep efektif ini tidak dilakukan secara massive? Diadopsi sebagai konsep penyembuhan resmi semisal?

Masalahnya cukup sederhana, mengubah pola hidup itu bukan perkara mudah! Mayoritas kanker hidup, pemicunya adalah pola hidup!

Mengubah pola hidup menyembuhkan kanker bisa diartikan sebagai mengubah total pola hidup seseorang! Hal ini tidak pernah mudah

Mulai dari pola makan, istirahat, cara bersikap dan banyak aspek kehidupan yg mungkin telah menjadi elemen utama dlm hidup

Dan berbeda dengan tindakan pengobatan berbagai bentuk, seseorang bisa konsumsi obat & tetap (nakal) jalankan kebiasaan awal

Disamping tidak mengetahui secara jelas, biasanya ada semacam pembenaran “Kan sudah ada obat!” Saat jalani pengobatan kanker

Dan pengobatan konvensional kanker via pengobatan, herbal, terapi alternatif, biasanya ditempatkan sebagai proses penyembuhan

Goals mereka yg jalani proses penyembuhan adlh tempatkan ‘sembuh’ sebagai titik tujuan! Utk dicapai agar semua normal kembali

Dimana hidup ‘normal’ mereka bisa jadi adalah penyebab utama mengapa kanker itu muncul. Kembali normal, sama spt masalah lagi

Dan jangan dilupakan, pengobatan kanker dengan perbaikan pola hidup sangat lemah dari sisi mendatangkan keuntungan komersil.

PART II

Erykar@erikarlebang

“Cancer cell can not live in PH alkaline body” -Dr. Otto Heinrich Warburg 1931 Nobel Prize Winner

“While cancer live as a very acidic cell” -Dr. Otto Heinrich Warburg 1931 Nobel Prize Winner

Temuan Dr. Otto Heinrich Warburg ini mematahkan anggapan umum bahwa sebagian besar kanker itu penyakit keturunan yang tak terhindarkan

Dengan kemampuan menjaga PH tubuh bersifat netral cenderung alkaline, sel kanker tidak akan memiliki alasan untuk (atau bertahan) hidup

Mereka yang secara genetik punya riwayat kanker bisa terbebas bila mereka menjaga kondisi homeostatis pola hidup PH netral cenderung alkalin

Sebaliknya mereka yang tidak memiliki riwayat genetik kanker, sangat mungkin terkena, bila pola hidupnya buruk cenderung ber-PH acidic.

PART III

01 Mei 2013

Erykar @erikarlebang:

Ada apa dengan rawfood efektif vs kanker? Sebenarnya berangkat dari penelitian Dr. Otto Heinrich Warburg yang dihadiahi nobel tahun 1931.

Ia menemukan sel kanker memiliki vitalitas pemanfaatan oksigen yang tidak sebaik sel sehat, terkait dengan kerja enzim pernafasan.

Dari temuan itu membuatnya menarik kesimpulan “Sel kankerbersifat asam, ia tidak mampu hidup dalam PH darah bersifat basa”.

Apa hubungannya dengan rawfood kalau begitu? Buah-sayuran segar yang menjadi tulang punggung materi pola makan itu bersifat pembentuk basa.

Buah-sayuran segar dalam rawfood kaya akan enzym serta mineral yang berpotensi membentuk PH darah-tubuh menjadi netral cenderung basa.

Kenapa rawfood? Itu karena proses pemanasan akan merusak enzym serta mineral pada buah-sayuran itu. Sifat basa berubah ke pembentuk asam.

Mengkonsumsi makanan pembentuk basa, akan menjadikan PH darah-tubuh cenderung basa, sel kanker tidak memiliki kesempatan untuk hidup.

Benarkah makanan pembentuk basa itu hanya mitos, karena nanti di lambung, PH asam dari asam lambung akan merubahnya?

Harus diingat disini, fungsi asam lambung salah satunya adalah pembunuh bakteri, tidak ada yang bersifat perubah PH makanan masuk.

Karakteristik kesehatan mereka yang mengkonsumsi makananrawfood secara benar dengan pemakan protein misal, jadi bukti pendapat itu salah.

Mereka yang mengkonsumsi menu berat ke protein, identik dengan PH tubuh asam, dan karakter kesehatan buruk, magnet bagi penyakit.

Temuan Hiromi Shinya terhadap karakter sistem cerna 370.000 pasiennya menunjukkan hal yang sama. Makanan prosesan identik dengan usus buruk

Usus buruk menurut beliau identik dengan tersebarnya beragam penyakit di seluruh penjuru tubuh. Sederhana tapi gagal dipahami.

Pasien kanker beliau, pasca mengubah pola makannya menjadi lebih berat ke materi rawfood menunjukkan tingkat kesembuhan yang mengagumkan.

Nyaris nisbi tindakan kuratif bersifat invasif. Lebih mengagumkan lagi, pasien yang telah sembuh dari kanker, tingkat kambuh = 0%

Jadi kekuatan utama rawfood dalam menghadapi kanker bukan terletak pada antioksidannya. Itu ada dalam skala yang lebih kecil.

Konsep paham antioksidan masih sumir, karena yang dituju adalah penekanan radikal bebas. Padahal kanker tidak semata karena itu.

Bila rawfood terkait dengan komitmen dan pola hidup berulang konsisten. Konsep antioksidan mudah berubah menjadi paham kuratif, parsial.

Salah kaprah antioksidan menghasilkan paham orang mengkonsumsi makanan yang dianggap kaya unsur itu secara serampangan.

Muncul produk hasil ekstrak atau berembel-embel berasal dari buah atau sayur kaya antioksidan, yang sulit dipertanggungjawabkan.

Lahirlah pohon sirsak yang gundul, karena buah dan daunnya diserap pasar habis-habisan. Produk apapun berbasis sirsak laku keras.

Manggis jadi buah favorit! Buah dan kulitnya dimakan! Kulit manggis pahit? Muncullah jus kulit buah manggis, manis luar biasa!

Semua dimakan sembarangan, berembel anti oksidan yang mampu melawan kanker! Apakah kankernya bisa dikalahkan? Kecil kemungkinan.

Sirsak yang sudah dimasak menjadi selai semisal, jelas sudah kehilangan manfaat. Untuk menarik perhatian saja diberi pewarna-perasa.

Kulit manggis jadi jus pabrikan? Mertua saya pernah mengkonsumsinya. Apa yang terjadi? Tidak lama kemudian gula darahnya melonjak!

Kekuatan rawfood melawan kanker harus dilihat secara utuh. Efeknya berlangsung general, tidak parsial dan salah kaprah seperti antioksidan.

Yuke Onleh @sigeulis: Alm. Kakek saya juga😥 RT @erikarlebang: Kulit manggis jadi jus pabrikan? Mertua saya pernah mengkonsumsinya. Apa yang terjadi? Tidak lama kemudian gula darahnya melonjak!

PART IV

Erykar@erikarlebang

Asli: http://storify.com/honeyniena/kanker-lagi

Berapa banyak penderita kanker yang kondisinya memburuk dari waktu ke waktu, jauh dari sehat dan tentu saja jauh dari sejahtera? Banyak!

Persentase penderita kanker ditangani holistik, dari mulai penanganan penyakit, pencegahan penyebaran hingga perubahan pola hidup? Minim

Penderita kanker umumnya pasrah harus jalani pengobatan itu-itu saja, menelan ‘berton-ton’ obat, menjalani ‘siksaan’ kemoterapi, minim hasil

Dan kendati metode minim hasil, di sisi lain luar biasa tinggi tingkat persentasenya dalam menguras kocek penderita kanker, orang pun antre

Sekalinya metode itu berhasil, sering sekali hanya memperpanjang ‘nyawa’ sekian waktu. Kembalinya kanker harus direview secara periodik

Penderita kanker umumnya bagai dijebloskan dalam penjara penuh kegelapan, mereka tidak tahu kenapa, tidak tahu harus bagaimana?

Seberapa banyak penderita kanker yang diberi pemahaman, kenapa mereka bisa terkena kanker? Bagaimana cara mengatasinya? Super sangat minim!

“Ini masalah genetik”, “Tidak diketahui penyebabnya?” hingga “Cobaan dari Tuhan”, adalah jawaban standar yang umum diterima penderita kanker

Saya malah pernah ketemu kasus, perokok berat, saat dideteksi kanker paru-paru, masih bisa berkilah, “Ini genetika”, kata ahli kesehatannya

Dulu jaman saya belum punya kesadaran kesehatan, punya teman yang seorang peminum dan penikmat hidup malam. Terkena kanker sistem pencernaan

Mudah ditebak, tidak ada sedikitpun diskusi yang dilakukan tim kesehatannya picu kesadaran si pasien terkait gaya hidup, semua salah Tuhan

Saya gak tahu kabar teman ini lagi? Tapi kalau melihat gaya hidup dan pola pemahamannya terhadap kesehatan, sepertinya sulit ditolong

Apakah kanker serumit itu? Bila kita mengacu pada bahasan ilmiah ilmu kesehatan konvensional terkini sekalipun, memang kompleks dan sulit

Bahkan ada jarak terpisah antara ahli kesehatan dan penderita kanker. Edukasinya hampir tidak pernah sampai dengan jelas ke mereka

Kerumitan itu membuat ahli kesehatan mudah mendikte apa yang harus dilakukan penderita kanker. “Ini tindakannya, siapkan biaya dan lakukan!”

Padahal serumit itukah kanker? Tidak juga. Temuan Dr. Otto Heinrich Warburg, pemenang nobel 1931, mengindikasikan hal sangat sederhana

Poin pertama, “the prime cause of cancer is the replacement of the respiration of oxygen in normal body cells by a fermentation of sugar”

Beliau temukan kaitan sederhana antara sel kanker & glukosa, kini menjadi dasar pemikiran pendeteksi PET (positron emission tomography) Scan

Kini menjadi salah satu metode 3D tercanggih untuk mendeteksi dinamika sel kanker. Jauh melebihi teknik scanning yang umum dikenal

Teknik ini dilanjutkan oleh University College London Hospitals, mereka mendeteksi keberadaan sel kanker dengan pergunakan bantuan glukosa

Dari sini temuan Dr. Warburg tentang ketertarikan sel kanker dengan glukosa semestinya sudah menjadi landasan sederhana melawan kanker

Tapi apa lacur? Berapa banyak penderita kanker yang disarankan untuk menjaga apa yang mereka makan? Menghindari gula sederhana mungkin sudah

Tapi bagaimana jebakan gula yang terbentuk lewat konsumsi nasi putih, roti-rotian, turunan tepung, minuman energi misal? Jarang disinggung!

Tidak berhenti disana, Dr. Warburg beri platform mendasar lain tentang bagaimana cara kita melumpuhkan sel kanker, PH darah dan oksigen!

Sel kanker akan mati-matian mempertahankan PH di kisaran minimal 6.0 agar mereka bisa hidup dan berkembang biak secara leluasa. Ini penting!

Upaya sel kanker ini umum dipermudah oleh gaya hidup seseorang apabila ia terbiasa makan dan minum seenaknya. Bisa jadi malah pemicu utama

Bagaimana dengan pola hidup yang cenderung dekat dengan berkembang biaknya sel kanker, mari kita menoleh ke pakar kesehatan lainnya

Ada Hiromi Shinya MD, Dr. Robert Young, Helbert Shelton ND, mewakili ahli kesehatan yang kedepankan pencegahan penyakit dan perawatan tubuh

Mereka kendati berangkat dari era-pemahaman berbeda, mengamini, PH darah dan tubuh yang berada di kisaran asam (1.0 – 6.9) akibat gaya hidup

HIromi Shinya seorang ahli gastroenterology, memberikan foto usus besar 370.000 pasien antar rasnya di seluruh dunia, sebagai bukti mutlak

Pola makan yang berat pada protein hewani, makanan proses, minuman selain air putih, membentuk karakter harmoni sistem cerna yang amat buruk

Lucunya karakter sistem cerna, usus besar utama, jadi refleksi munculnya berbagai macam penyakit dalam tubuh manusia, kanker tak terkecuali

Dr. Young dan Shelton, mengemukakan pola makan jauh dari buah dan sayuran segar yang disantap dengan cara benar, identik masalah kesehatan

Bertiga mereka mengamini, pola hidup, berbasis pola makan seperti ini, menciptakan karakter PH darah-tubuh yang berada di wilayah asam.

Hiromi Shinya, bahkan memberikan foto usus besar yang membaik pasca penderita penyakit tertentu (kanker termasuk) merubah pola makan drastis

Hebatnya, begitu usus besar menjadi sehat, sel kanker jadi kehilangan alasan untuk hidup, berangsur menghilang! Kalaupun ada, mudah diatasi

Hiromi Shinya menciptakan teknologi operasi sistem cerna bernama loop snare wire untuk menghilangkan sisa kanker atau pemicunya minim luka

Dr. Young mendirikan klinik yang menuntun penderita penyakit, kanker salah satunya, ubah pola makan mereka agar PH-nya netral cenderung basa

Herbert Shelton terkenal dengan klinik dan terapi semacam puasa yang berbasiskan buah-sayuran segar, kini dikenal dengan istilah detoks

Berbasis paham demikian, bukankah kanker semestinya lebih mudah dipahami, dipelajari lalu kemudian ditaklukkan? Seharusnya begitu

Tapi penguasaan industri (yang umum komersil) serta arogansi oknum, berusaha menolak itu semua dan menyeret kembali kanker ke sisi gelapnya

Ini yang membuat kanker sampai hari ini menjadi sebuah materi yang sangat sulit untuk dipahami, diatasi dan bahkan menjadi semacam komoditas

Sayang sekali masih ada yang percaya produk kayak susu kanker, it’s just total rubbish, ditambah substansi lain tidak ubah sifat dasar susu

Balik lagi ke prinsip dasar, Dr. Warburg, beri tubuh pembentuk PH asam, sel kanker bersorak gembira, masuklah di sana susu, bye-bye health

Ratih Citra Sari, @ratihcsari: Sel kanker blm diketahui munculnya, 1 teori adl sel b’ubah jd ganas krn terpapar bahan2 karsinogenik (read : makanan dll) cc :@erikarlebang

Konsep sehat-sakit tgt: host(manusia), agent(virus, zat,bakteri) & lingkungan. Kl mau sehat hrs ke3nya prima. titip ya cc:@erikarlebang

Jadi bukannya kl sakit asal minum obat, itu cuma utk agent nya, host & environmentnya sangat mempengaruhi sehat-sakit. Cc:@erikarlebang

Erykar, @erikarlebang : yang pasti kalau penderita kanker dikasih peptisol, diabetasol, atau malah produk susu kanker, jelas kemungkinan sembuh = 0

Ratih Citra Sari, @ratihcsari : ngapain juga dikasih begituan ? Gw aja minum entrasol sampe mabok gak sembuh dulu.

PART V

http://storify.com/honeyniena/tentang-kanker-again

@siliwilis: artikel ini ttg alat penyembuhan kanker http://www.beritasatu.com/figur/124731-warsito-klaim-200-pasien-kanker-sembuh-total-dengan-alatnya.html … http://www.jpnn.com/read/2011/12/30/112676/Warsito-P.-Taruno,-Ilmuwan-Pencipta-Alat-Pembasmi-Kanker-Payudara-dan-Otak- …

@erikarlebang : Sayang gak disertai perubahan gaya hidup.

@febrywell : betul bang,ibu teman pke alat ini,breast ca mmg membaik,tp ad yg tumbuh baru d otak,yg bikin drop kondisi & wafat.

@erikarlebang : Sel kanker tidak mudah dibunuh begitu saja. Mereka bisa menduplikasi diri di tempat lain, untuk survive dan berkembang.

Sel kanker sama seperti naluri mahluk hidup lain yang gak mau begitu saja di-genocide. Pasti mereka akan menyelamatkan diri dan berkembang.

Makanya melulu mengandalkan medikasi invasif untuk mengalahkan kanker, lebih banyak bersifat untung-untungan ketimbang keberhasilan eksak.

Mau berbentuk operasi pengangkatan, kemoterapi, terapi listrik, nitrogen membekukan sel kanker kek, dihitung rasio pasti banyakan gagalnya!

Umumnya karena pola pikir yang muncul adalah anggapan bahwa sel kanker itu bak benalu berupa sel parasit yang merusak harmoni sistem tubuh.

Tapi karena dianggap seperti benalu, pasrah pas dicabut, sel kanker pasif dan tidak bisa melawan. Akhirnya membuat kanker jadi hal misterius.

Sel kanker dihancurkan di satu titik, dia lalu muncul di titik lain. Begitu terus. Dan kadang muncul lagi di tempat dia telah dihancurkan.

Hal sederhana yang terlupakan, sel kanker itu tidak seperti tanaman benalu. Yang pasrah saat dicabut dan tidak ganggu lagi pasca dibersihkan.

Sel kanker punya kemampuan survival. Ia tidak rela begitu saja dimusnahkan. Mirip penduduk planet Krypton, saat kiamat, kirim Kal El ke bumi.

Ups, maaf.. Analogi bodoh.

Intinya sel kanker akan berusaha menduplikasi dirinya, agar harmoni hidupnya bisa langgeng di satu komunitas besar, tubuh yang didiami.

Sebenarnya cara melawan kanker paling efisien, adalah dengan memanfaatkan logika ini. Paham sederhana tentang pertumbuhan sebuah populasi.

Apa sih yang membuat sebuah populasi berkembang di satu daerah? Sederhana, pasti ada kemudahan atau daya tarik dari tempat itu untuk didiami.

Daerah yang mudah mencari rezeki, pasti segera mengalami ekskalasi penduduk yang cepat dan signifikan. Era daerah tambang emas semisal.

Gak usah jauh-jauh bicara daerah. Katakan di daerah tropis panas. Ruangan apa yang paling nyaman dihuni? Umumnya jawab, “yang sejuk, ber-AC”.

Apa yang terjadi saat AC dimatikan? Pasti ruangan itu akan ditinggal. Nah, logika sederhana ini sebenarnya ampuh untuk melawan kanker.

Buat tubuh menjadi areal yang tidak nyaman bagi sel kanker untuk tumbuh dan berkembang biak. Bagaimana caranya? Ada beberapa jalan keluar.

Temuan Otto Heinrich Warburg yang diganjar hadiah nobel tahun 1931, bisa menjadi acuan sangat vital untuk merubah pola pikir melawan kanker.

Walau temuannya secara resmi terkait sistem hidup sel kanker terutama pemanfaatan oksigen, ia mendapati hal lain yang sebenarnya signifikan.

“Sel kanker hidup dalam PH yang asam”. Ini sebenarnya titik terang dalam mengalahkan sel kanker. Kenapa? Kita tahu sifat dasar sel tersebut.

“Sel sehat adalah sel bersifat basa”, statement lanjutan berbasis temuan dr. Warburg. Dengan kata lain, ubah PH jadi netral cenderung basa.

Sel kanker akan segera kehilangan alasan untuk hidup dalam tubuh seseorang saat kondisi PH tersebut tercapai. Bagaimana? Nah kasus lain.

Kita bisa mengacu pada temuan Antoine Bechamp (1816-1908) tentang keseimbangan PH asam-basa tubuh sebagai penentu kesehatan seseorang.

Temuan Bechamp menempatkan bahwa “bakteri, virus, tidak akan bisa berkembang dalam tubuh seseorang bila lingkungannya tidak memungkinkan”.

Belakangan ia mengembangkan temuannya itu tidak lagi sekedar kepada bakteri atau virus, tapi juga sel kanker. Dan memang terbukti efektif.

Sayangnya temuan Warburg dan Bechamp tidak ditindak lanjuti oleh otoritas dunia kesehatan. Salah satunya, mengacu masalah profit komersil.

Temuan vital Warburg malah dimanfaatkan di sisi lain. Penemuan mesin positron emission tomography semisal, sebagai pemindai kanker canggih.

Sementara konsep berpikir Bechamp malah dikesampingkan oleh temuan Louis Pasteur (yang sebenarnya muncul belakangan dan banyak mengadaptasi).

Temuan Pasteur, lebih mudah diaplikasi, karena sifatnya yang invasif terhadap bakteri dan virus. Dan lebih menguntungkan secara komersial.

Belakangan konsep berpikir ‘seek & destroy’ a la Pasteur juga diadopsi untuk melawan sel kanker, semua pengobatan invasif radiatif itu tadi.

Temuan vital Bechamp & Warburg memang harus diakui sulit dikembangkan ke sisi komersil, jelas tidak akan didukung oleh industri, less profit.

Sementara terkait kanker: medikasi, operasi, kemoterapi & PET scan itu terkenal menjadi sebuah tambang emas bagi industri kesehatan terkait.

Sayang lagi, metode alternatif diluar jalur konvensional penanganan kanker: herbal, temuan mesin penghancur sel dll, sama juga terjebak.

Melihat upaya perangi kanker hanya dari satu sisi, seek and destroy juga! Bukan pada konsep membuat sel kanker tidak mampu hidup dalam tubuh.

Memang metode Bechamp dan Warburg punya kelemahan signifikan selain tidak mendatangkan profit. Membutuhkan komitmen serta kemandirian!

Karena terkait pola hidup, utamanya pola makan, mau gak mau penderita kanker tidak punya orang lain untuk disalahkan, kecuali diri sendiri.

Terkait, kenapa ia bisa terkena kanker? Atau bila metode penyembuhannya tidak berhasil. Karena semua tergantung pada cara ia menjalani hidup.

Gitu deh kibulannya, suka sukur gak suka unfollow! Gak follow bawel? Olahraga gih, lari di belakang angkot misal, bisa jadi sehat.. dan irit.

PART VI

Erykar @erikarlebang

http://storify.com/honeyniena/kanker

Baca artikel lawas Time, tentang kanker, nunggu shooting @Metro_TV Wide Shot, pendekatan rumit yang memprihatinkan.

kanker

Kerumitan membahas kanker lebih ke sisi funding, siapa yang dapet kredit, obat, deteksi dini berdasar gen/kebiasaan pic.twitter.com/RhCWvzDIpE

kanker

Segini banyak ahli gak ada satupun narasumber Time bicara kanker dari sisi preventif-promotif, semua kuratif pic.twitter.com/zoAGQY4lew

kanker

Apresiasi pencapaian lebih ke sisi ‘bertahan hidup’, bukan pencegahan kanker atau kualitas hidup mereka yang survive pic.twitter.com/QsJCia0lG7

kanker

Intinya artikel ini cuma janjikan obat kanker ampuh, bukan titik terang. Buat saya sih ini sama aja, jalan di tempat pic.twitter.com/v3jZv0OKBT

kanker

Efek dari pendewaan konsep kuratif dunia kesehatan, manusia memimpikan “obat dewa yang mampu ‘membom’ memusnahkan semua penyakit”.

Tapi melupakan bahwa bom itu pasti punya efek samping ‘memusnahkan apa yang tidak semestinya tidak dimusnahkan’. So, obat itu gak akan ada.

PART VII

By Erikar Lebang

http://chirpstory.com/li/223826

Ini nonton acara kesehatan, lihat dokternya mendefinisikan kanker. Ironis banget, kalimat pertama yang keluar genetik! Tuhan disalahkan

Balik bicara kanker, kebetulan tadi dokternya sendiri sudah mengatakan, “kanker gak bisa didaulat punya penyebab hanya satu” Ini rada bener

Penyebab kanker itu seharusnya bersifat akumulatif. Dan harus muncul secara TSM (terstruktur, sistematis dan massive) #eh lho ini sidang MK?

Ngga ding, beneran. Sel kanker harus berjumlah miliaran-triliunan dalam tubuh manusia dan saling terkoordinasi untuk bisa merusak kesehatan

Nah ketauan kan? Bahwa sel kanker yang berjumlah segitu, gak mungkin muncul dalam hitungan singkat hari, minggu atau bulan bahkan tahun

Mengacu lagi pada temuan Prof Kazuo Murakami, seorang profesor dari universitas Vanderbilt, US. Yang berjasa memetakan kode genetika manusia

Ia berjasa menguraikan kode genetik enzim ‘renin’, yang membuat pemahaman akan problem tekanan darah tinggi menjadi jauh lebih baik

Ia pun menemukan hal terkait kanker yang sangat menarik, sel kanker itu secara genetika membutuhkan semacam pengaktif, “tombol on-off’

Apa pengaktifnya? Dalam penelitiannya menemukan bahwa gaya hidup, faktor psikologis sebagai pemicu potensial. Ia sangat tertarik pola makan

Yang menarik lagi ia mengatakan secara genetika kelemahan itu memang ada, ada yang lemah dan ada yang sangat kuat, tapi tetap butuh pemicu

Bicara pemicu, Dr. Otto Heinrich Warburg tahun 1931 sudah dianugerahi nobel untuk penemuannya terkait metabolisme dan respirasi sel kanker

Salah satu sifat spesifik sel kanker yang ia temukan, kebutuhan sel kanker akan PH darah cenderung asam untuk hidup serta berkembang biak

Ini sebenarnya signal kuat cara mengalahkan atau setidaknya mengendalikan sel kanker. Kalau mau di-switch off atau dibuat tidak berdaya

Saya pernah membuat kultwit, kenapa temuan Dr. Warburg ini diacuhkan dunia kesehatan konvensional, mungkin bisa dibaca untuk yang memerlukan

Bicara PH darah cenderung asam, tentu saja faktor gaya hidup adalah pembicaraan utama. Sila mengacu pada kultwit dan edukasi saya selama ini

Kalau ini ditindak lanjuti lebih jauh, saya kira faktor genetik yang menjadi faktor kanker pertama diucap oleh dokter tadi, bisa dienyahkan

Kita harus mengkoreksi pola hidup dan menjauhkan faktor pemicu. Semisal, mengurangi pola makan pembentuk PH asam, agar tidak ubah sifat sel

Sehingga gen yang lemah dan mudah terpicu sekalipun, tidak memiliki kesempatan untuk tubuhnya mengubah sel menjadi sel kanker

Dari sisi lain, selain pola makan, faktor psikologis bisa jadi faktor pemicu kanker. Dr. Masashi Saito, seorang spesialis bidang anti aging

Dokter yang berdomisili di New York ini menemukan, walau secara empiris, banyak penderita kanker yang ditemukan berkarakter empati tinggi

Dengan kata lain ia mengatakan, seseorang yang secara psikologis banyak memikirkan orang lain, dan rentan ada dalam kondisi stress tinggi

Lebih potensial untuk terkena kanker. Ini bisa menjadi sisi menarik, bila temuannya disikapi lebih jauh dengan logika ilmiah yang mumpuni

Kalau sisi lain lagi, terkait gaya hidup, pernah ditengarai bahwa waktu tidur yang terganggu membuat orang juga rentan terkena kanker

Secara logika ini masuk akal, mengingat bahwa saat tidur adalah momen dimana tubuh merestrukturisasi diri, termasuk kebugaran sel tubuh

Jadi normal bila waktu tidur terganggu, tidak heran bila sel kanker punya kesempatan memperkuat diri atau berkembang biak lebih besar

Apa yang disampaikan kultwit ini sekedar untuk menggeser paradigma berpikir umum yang cenderung dahulukan genetika sebagai pencetus kanker

Yang ujung-ujungnya menyalahkan Tuhan sebagai penyebab kanker. Padahal bukan. Mau alasannya cobaan atau apapun, Tuhan gak sekejam itu

Faktor pemicu kanker seharusnya bisa dikendalikan secara aktif oleh pemilik tubuh. Kuncinya di kontrol gaya hidup

PART VIII

http://chirpstory.com/li/226955

Tadi ada request tentang bahasan Kanker, walau pernah kultwit yang disimpan @UniWiwied di uniwiwied.com/kanker/ uniwiwied.com/kankertidaknya…

Saya akan melihatnya dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Baru saja dapat kabar, kalau ada kenalan kami yang meninggal karena kanker. Beberapa waktu lalu, kami sempat beberapa kali bertemu beliau.

Dia kepingin bertemu dan tukar pikiran sekaligus bertanya tentang kanker kepada saya. Waktu bertemu, beliau masih terlihat segar saja.

Kecuali rambutnya yang habis pasca kemo, penampilannya normal, bahakan kulitnya halus kencang, lumayan untuk ukuran orang berusia 50 tahunan.

Saya sempat bertanya tentang kulitnya yang terlihat halus itu, “Ini soalnya aku pas kena kanker, langsung cuma makan buah dan sayur saja”.

Wah bagus dong. Logika yang pas dengan dua kultwit saya yang tadi disebut di awal. Pikir saya kondisi ini akan jauh lebih mudah lagi.

Dia juga bertanya tentang manfaat #AirKangen, saya sampaikan dimana peran elemen satu ini dalam menanggulangi perkembangan sel kanker.

Semua berjalan baik-baik saja. Sampai saat tiba waktunya makan siang. Dia mengajak kami yang bertandang ke rumah beliau makan menu rumahnya.

Agak bingung saya waktu melihat, “lho kok menunya ayam betutu?” Selain basis utamanya protein hewani, proses masaknya yang dipanggang.

Membuat sel kanker bagai mendapatkan bensin untuk bisa hidup leluasa dalam tubuh seseorang. Berkembang biak tentunya. Saya lalu bertanya.

“Bukannya tante sudah makan buah dan sayur ekslusif?”. Dia menggeleng, sekarang bebas. Soalnya kata dokternya, makan boleh apa saja.

Nah di titik ini saya speechless, percuma rasanya bicara panjang lebar tentang hukum asam-basa, kondisi homeostasis, #airkangen dan lainnya.

Kalau ahli kesehatan yang dipercaya dan punya otoritas, mengucapkan kalimat pamungkas, membuat segalanya jadi mentah kembali ke titik nol.

Makanya saat mendengar kabar meninggalnya beliau, dan mengingat kejadian tadi, saya gak terlalu terkejut-terkejut amat. Sel kanker menang.

Bukan dalam konteks, sel kankernya memang harus menang. Tapi lebih karena perlawanan yang ada di fase awal, mendadak berhenti dan berbalik.

Tubuh yang tadinya disupport untuk ‘menang’ melawan sel kanker dengan dukungan pola makan yang tepat, mendadak dibalik, ‘dikhianati’.

Sel kankernya malah seakan diperkuat untuk berkembang biak dan merusak lewat pola makan yang diubah. Sayangnya karena advis yang salah.

Advis yang mengabaikan perawatan tubuh via pola makan, dengan logika “Boleh makan apa saja, yang penting masih selera..” sangat menyesatkan.

Logika ini lahir akibat paham kuratif mendominasi dunia kesehatan kita, prioritas pada: “Biarkan sakit, nanti kita carikan obatnya apa?”.

Logika atasi penyakit yang di level awal, mungkin dengan konsep kuratif bisa disembuhkan, tapi dengan kondisi seperti kanker? Jelas tidak.

Kanker muncul bukan dalam waktu seminggu, sebulan, setahun. Tapi belasan hingga puluhan tahun, butuh tubuh yang tepat, bagi dia untuk tumbuh.

Sedihnya, perawatan konvensional kanker, justru membuat tubuh yang tepat untuk sel kanker berkembang biak itu, menjadi semakin lebih ‘tepat’.

Kemoterapi semisal, ia memang bisa membunuh sel kanker secara instan di tempat dimana ia sedang berkembang biak. Tapi…

Sel sehat yang ikut dirusak, reaksi penolakan tubuh terhadap ‘racun’ kemoterapi, turunnya daya tahan tubuh pasca kemo, punya bahaya laten.

Sel kanker bisa berkembang biak di tempat lain. Karena tubuh induk dalam keadaan lemah. Diperparah lagi, pola makan penyebabnya tidak diubah.

Makanya saya gak heran, kalau ada orang yang dianggap sukses menjalani terapi kanker, mendadak muncul lagi, dan lebih parah.

Karena logika itu terjadi. Penderita kanker yang tahu diri dan mengubah pola hidupnya secara benar, memang tidak bisa dijamin 100% sembuh.

Tapi paling tidak, dia bisa menguasai dirinya lebih baik. Dia tidak mengkhianati tubuh dengan memfasilitasi sel kanker merusak dirinya.

Dia juga setidaknya terhindar dari kondisi terpuruk, harus menjalani terapi konvensional begitu saja tanpa ada upaya perbaikan diri.

Melakukan kemoterapi, tapi menjaga pola makan dengan hanya mengkonsumsi buah, sayuran segar serta air putih akan menghasilkan efek berbeda.

Dengan penderita kanker yang menjalani terapi konvensional, pasca kemoterapi diberi makan bubur, protein hewani proses dan segelas susu.

Bahkan menu yang sepintas terlihat sehat ini, tetap masih seperti pupuk yang menyuburkan lahan tubuh bagi sel kanker pic.twitter.com/yHgPZkn5as

kkr1

Walau diembeli disiapkan dengan higienis, cermat, dibarengi ilmu gizi terukur, tapi konsepnya sudah kuno untuk kanker pic.twitter.com/L3fyfoCCwx

kkr2

Jadi kembali, ubah konsep pemahaman makan sehat secara radikal. Jangan mau kalah radikal dengan sifat sel kanker. Mandiri cari ilmu sendiri.

Pergunakan akal sehat tentunya, mana yang masuk akal, mana yang cuma hoax. Lalu niatkan diri untuk melakukan dengan benar.

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s