Real Food VS Fake Food

Efek beruntun makan gak sehat, dan alpa mengkounter, mulai terasa di badan. Berikut saya sharing tentang bentuk makanan dan imbas kesehatan

Sejatinya ada dua jenis makanan yang ada mengacu fungsinya untuk tubuh. Beri saja nama antara ‘Real Food’ (RF) & ‘Fake Food’ (FF)

RF merupakan bentuk makanan yang utuh atau setidaknya minim perubahan dari bentuk aslinya yang diciptakan Tuhan

Istilah itu di Indonesia dipopulerkan oleh Dr. Tan Shot Yen, dalam konsep pengobatan ‘radikal’, yang ia perkenalkan. Saya pinjam

Kalau FF itu istilah yang saya karang sendiri untuk mengimbangi RF tadi. Kembali ke topik awal, RF penuh dengan kandungan penuh guna

Hampir pukul rata semua konsep pola makan (bukan diet) berbasis kesehatan natural mengacu pd bahan makanan berbentuk RF

Raw Food, Food Combining adalah sebagian dari pola makan terkait yang manfaatkan RF maksimal. Mengapa? Kembali ke daya guna tadi

Makanan RF yang minim proses atau segar langsung dari alam -tentunya dlm bentuk buah dan sayur- masih penuh dengan nutrisi asli

Melimpah enzyme, unsur mineral dan vitamin sangat diperlukan oleh tubuh. Meminjam istilah Dr. Hiromi Shinya, penuh daya hidup!

Mengkonsumsi RF mensuplai tubuh dengan kebutuhannya secara langsung dan mensinergi semua elemen-sistem yang berlaku di dalamnya

Sehat dan bugar secara holistik adalah hasil langsung mereka yang rutin konsumsi RF dalam keseharian hidupnya, fisik-mental

Mengkonsumsi RF membuat tubuh tenang secara anatomis-fisiologis. Karena semua kebutuhan terpenuhi. Dengan pola makan tepat tentu

Secara psikologis, produksi hormon dan zat pengantar syaraf yang terkait dengan rasa nyaman juga muncul cukup sesuai kebutuhan

Kombinasi tersebutlah yang menghasilkan kesehatan secara holistik (total) ditinjau dari sisi, tubuh – pikiran – jiwa

Salah satu contoh sederhana dan konkrit adalah mengapa mereka yang banyak mengkonsumsi RF, mengaku lebih cepat merasa kenyang

Karena tubuh merasa terpenuhi semua yang dibutuh. Organ vital pencernaan langsung ‘mensiagakan’ diri untuk masuk proses lanjutan

Lambung tidak perlu ‘teregang’ menampung makanan dlm kapasitas ‘terpenuh’. Usus bekerja maksimal serap nutrisi tanpa beban

Pankreas tidak perlu memproduksi insulin berlebihan atau enzyme cerna lain krn makanan yang masuk amat serasi dan mudah cerna

Tidak ada tumpukan sisa makanan yang tak terserap susah buang dan menjadi berkerak di usus besar. Signal kenyang diterima mulus

Itulah sisi penyebab, mengapa RF (Real Food) menjadi makanan utama dalam setiap pola makan sehat. Kita makan apa yang dibutuhkan

Bagaimana dengan FF (Fake Food)? Sejujurnya inilah masalah terbesar dari menurunnya faktor kesehatan manusia secara general

Perkembangan budaya kuliner, mendorong manusia mengkonsumsi beragam hal yang sebenarnya tidak diperuntukan Tuhan untuk dimakan

Akibat perkembangan budaya, manusia terdorong untuk konsumsi apa yang dia ‘mau’ bukan lagi mengacu kepada apa yang dia ‘butuhkan’

Yang semestinya diperuntukan untuk spesies lain, daging hewan yang mestinya dikonsumsi sesekali, biji penuh proses, tepung, gula dll

Proses panjang yang mematikan unsur penting makanan. Tubuh dibanjiri substansi tanpa enzyme, mineral rusak, vitamin hilang dsb

Akhirnya seluruh sistem cerna tubuh kesulitan mencerna. Energi tubuh terkuras, output yang diharapkan positif berubah negatif

Akhirnya untuk sekedar bertahan hidup, tubuh harus kerahkan semua fasilitas kehidupan yang ada dalam sistemnya. Energi terkuras

Meminjam istilah Hiromi, “untuk bertahan hidup, tubuh hrs menguras ezyme pangkal”. Dr. Tan? “Survival hingga tingkat selular”

Konsumsi FF juga membuat tubuh sulit merasa kenyang. Karena kebutuhan yang dicari tidak didapat. Akhirnya signal kenyang ditunda

Tubuh terus merasa lapar, berharap makanan masuk selanjutnya, beri kebutuhan yang dicari. Lambung memuai teregang secara paksa

Pankreas kebingungan pancarkan insulin untuk menormalkan lonjakan masuknya gula dan beragam zat pat non alami, hingga kelelahan

Usus besar dipenuhi oleh makanan terbuang tanpa terproses sempurna. Sulit dibuang karena umumnya minim nilai serat alami

Sebenarnya hal demikian bila terjadi dlm frekuensi kecil tidak berulang, bisa diatasi oleh sistem tubuh tanpa banyak masalah

Ia berubah menjadi horor saat berlangsung secara berulang, bahkan rutin, akumulatif secara menahun membombardir bebani tubuh

Parahnya lagi industri mengubah banyak hal demi komersialisasi. Hal yang tdnya tdk terbayangkan untuk dikonsumsi, dimanipulasi

Siasat itu membuat banyak orang terkelabui, FF terkira menjadi makanan sehat bahkan lebih berguna dari RF bagi keperluan tubuh

Mereka yang teguh berusaha mengkonsumsi apa yang dikonsumsi nenek moyang kita -lebih berat ke RF- dianggap tidak berbudaya & aneh

Padahal sejatinya secara genetika nyaris tidak ada perubahan berarti antara kita dan nenek moyang kita. Hanya paham yang berubah

Begitulah paparan tentang fenomena Real Food dan Fake Food dan hubungannya ke kesehatan manusia secara hakiki. Moga berguna

by Erikar Lebang | Twitter: @erikarlebang

Fake Food

Image

Image

Real Food

“Real Food” untuk Buah dan Sayur bagi Kesehatan Sejati

erikarlebang

http://chirpstory.com/li/190364

Senang mulai banyak orang pergunakan istilah “real food” untuk buah-sayur segar. Persepsi sehat secara umum yang termudahkan.

Secara kolektif banyak orang sadar, makanan itu bukan cuma dibahas dari sisi kalori dan higienitas semata. Senjata andalan makanan pabrikan.

Makanan harus memiliki unsur yang diperlukan benar oleh tubuh. Agar sungguh berguna. Enzyme, mineral, vitamine, fitokimia dan lainnya.

Makanan juga harus sesuai dengan karakter sistem cerna manusia. Susunan geligi, sistem cerna, panjang usus dan hukum dasar tubuh lainnya

Sesuai ini makanan manusia yang paling tepat dengan kodrat adalah buah dan sayuran segar. Bisa dikonsumsi langsung alami tanpa lalui proses.

Memenuhi kebutuhan tubuh secara lengkap dan sesuai kodrat, itu yang terpenting. Kita tidak terjebak asumsi dan mendikte tubuh.

Makanan pabrikan, harus melalui banyak proses terkait persyaratan higienitas. Proses ini musnahkan hampir semua unsur makanan diperlu tubuh.

Hilangnya unsur tadi terpaksa digantikan dengan memasukkan penggantinya secara artifisial. Hasilnya? Jelas tidak bisa diharapkan.

Itu sebab pemakaian padanan kata “real food” untuk buah dan sayuran segar, menunjukkan kesadaran yang menjanjikan untuk hidup sehat sejati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s