Diet Kalori : Diet Ketinggalan Jaman & Tidak Realistis (Kumpulan 5 Kultwit)

Erykar@erikarlebang

PART I

Okay, twit tentang diet kalori kenapa gak realistis, ya. Saya bicara secara general. Walau sebenarnya mencakup semua sih.

Pertama kali mari kita lihat sisi definisi diet kalori dan kaitan dengan doktrin yang disampaikan seputar konsepnya.

“Kalori yang masuk harus seimbang (atau lebih sedikit) dengan kalori yang keluar” Itu doktrin legendaris konsep diet kalori

“Kalau sehari-hari Anda makan sekian kalori, pastikan aktivitas fisik Anda harus membakar semua kalori hasil makanan itu”

Selisih yang seimbang atau minus itu diharapkan mampu membuat tubuh langsing seterusnya. Dengan catatan langsing bukan sehat!

Berikut salah satu realita tubuh terkait kesehatan, mengapa tubuh Anda menolak diet kalori bila dilakukan berkepanjangan

Kebiasaan menahun yang Anda bangun untuk makan dan beraktivitas fisik membuat tubuh menciptakan kondisi bernama ‘set point’

Berapa kalori yang harus masuk, dibakar untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Dan yang tersisa akan disimpan sebagai cadangan

Katakanlah angka makanan masuk dan kalori dibakar. sama-sama 2000 kalori. Itu berlangsung selama bertahun-tahun

Tapi ternyata kondisi 2000-2000 ini semakin lama semakin membuat masalah kesehatan, entah lebih gemuk atau gangguan organ

Diputuskan untuk melakukan diet kalori! Makanan masuk dicekik, semisal 1750 kalori sehari. Keluar? Ditambah jadi 2250 kalori!

Olahraga dikencengin, makanan masuk diiritin, se-irit-iritnya supaya memenuhi quota kalori yang dimaksud dalam diet kalori ini

Sepintas selisih kalori itu sepertinya berhasil. Tubuh mengurus, berat turun. Kondisi kesehatan menjanjikan membaik

Tapi tubuh tidak bisa seenaknya diatur begitu saja. Ingat telah terbangun kondisi bernama ‘set point’ tersebut. Jadi masalah

Tubuh akan mengingat kembali titik set point ini. Ia mengingatkan bahwa selisih kalori masuk-keluar itu tidak sesuai realita

Yang pertama dikoreksi adalah kalori keluar. Tubuh akan melakukan semua upaya agar kalori keluar 2250 itu terkoreksi

Entah secara psikologis Anda dilanda kemalasan beraktifitas fisik, atau penolakan tubuh saat olahraga, otot mudah sakit misal

Akhirnya Anda terpaksa menurunkan aktivitas fisik yang ada sehingga kalori keluar menjadi seimbang kalori masuk ke angka 1750

Kalori masuk dan kalori keluar kini seimbang di angka 1750. Even square? Not really

Walau telah menurunkan kondisi kalori ‘even-stephen’ 1750-1750 itu, sebenarnya belum membuat tubuh puas.

Kondisi ‘set point’ yang telah terbangun menahun, membuat tubuh menuntut kembali ‘pemasukan’ 2000 kalori seperti dulu

Apa yang terjadi? Pertahanan ‘nafsu makan’ yang selama ini direm agar masuk 1750 kalori akhirnya ‘jebol’. Makan-makan-makan!

Kalori masuk kembali membumbung tinggi! 2000 kalori! Tubuh terpuaskan kembali ke set point lamanya.

Berita buruknya adalah, kalori masuk yang naik, tidak serta merta disertai dengan keinginan mengeluarkan kalori di jumlah sama

Akibatnya? Terdapat minus kalori masuk dan keluar. Bahkan lebih buruk ketimbang masa lalu dimana set pointnya seimbang.

PART II

22 Dec 12

Pertanyaan terkait detox yang muncul adalah “bedanya sama diet kalori apa? kan sama-sama bikin lapar dan turun berat?”

Ini pola berpikir warisan konsep ilmu gizi yang tertinggal jauh dan melenceng dari kenyataan. detox dilihat bias dengan diet kurus-kurusan

detox beda substansi dengan diet kalori. Kalau terjadi perubahan pada berat badan, itu bonus! Tidak seperti diet yang jadikan itu target

Diet kalori mendiktekan apa yang masuk dalam tubuh. detox menelaah dulu apa yang dibutuhkan, bagaimana cara pengolahan, penerimaan tubuh?

Diet kalori tidak pedulikan apakah padu padan yang masuk diterima benar oleh tubuh? Selama takarannya sesuai perkiraan! Tidak untuk

Diet kalori dan detox sama membuat seseorang kelaparan. Tapi bedanya ada di fenomena terjadikah perbaikan atau tidak di level intraselular?

Diet kalori saat selesai dilakukan, tubuh bisa mengurus, tapi disertai pengeriputan kulit, gelambir disana-sini, kondisi lelah. detox tidak

Pelaku detox (bila dilakukan benar) tidak demikian. Kegemukan berkurang berangsur. Problem penyakit hilang, vitalitas justru meningkat!

Dibanding detox, fenomena umum penderita obesitas yang turun berat badan pasca diet kalori, badannya meroket kembali, bahkan lebih buruk!

Atau penderita penyakit tertentu yang harus lakukan diet kalori, ketimbang detox, menjadi frustasi dan meninggalkan diet & kondisi memburuk

Kenapa? Diet kalori, membuat tubuh kelaparan tanpa ada perbaikan di tingkat fungsi sel. Tidak demikian dengan detox bila dilakukan benar.

PART III

Kalori Lagi Kalori Lagi….

29/Jan/2014

http://chirpstory.com/li/186199

Diet seharusnya terkait dengan pola makan, apa yang kita makan secara rutin agar sesuai dengan kebutuhan tubuh dalam memelihara kesehatan.

“Mengkonsumsi makanan yang tepat sesuai kebutuhan” itu kalimat kuncinya. Sederhana, tapi mudah sekali salah diinterpretasikan.

Kesalahan mulai lahir akibat kita fokus pada efek turunan dari tubuh sehat, berat badan ideal, bukan pada hal yang utama “makan untuk sehat”.

Karena fokusnya pada berat badan, prinsip makanan mulai bergeser ke hal yang titik beratnya sebenarnya bukan isu kesehatan, kalori.

Logikanya kalori sama dengan bahan bakar aktivitas tubuh. Kalori berlebih akan disimpan dalam berbagai bentuk, salah satunya lemak.

Lemak berlebihan = gemuk. Gemuk = penyakit. Dari sini lahirlah paham berlebihan terobsesi pada pengaturan kalori untuk mengatur berat badan.

Makanan tidak lagi dilihat dari sisi kegunaan dan kualitas. Tapi dari hitungan kalori. Dari sini juga konsep makanan sehat mulai rancu.

Orang gemuk, makan terbiasa makan seenaknya, akan kerepotan saat diberikan porsi makanan berdasar hitungan kalori. Mereka gak kenyang!

Hal sama berlaku untuk mereka yang sudah punya penyakit tertentu. Karena mitos kalori. Makanan mereka lagi-lagi dihitung kalori, bukan mutu.

Bukannya ditinjau segi ketersediaan enzym, mineral, vitamin, serat misal.
Makanan dilihat dari nilai kalori. Paling mudah ya yang direkayasa.

Muncul makanan buatan pabrik yang memang mudah dikontrol nilai kalorinya. Tapi proses pabrik mematikan enzym dan memiskinkan nilai koenzym.

Tubuh gak dapat apa yang dicari disana. Akhirnya ritual makan mereka yang kelebihan berat atau terkena penyakit, bukan ritual menyembuhkan.

Akhirnya upaya perbaikan terpaksa dialihkan ke sisi pengobatan. Ini alasan kenapa sisi kuratif lebih kuat dari sisi preventif dan suportif.

Itu yang obesitas. Bagaimana dengan orang yang punya konsep metabolisme berbeda? Kurus tapi juga gak sehat? Ilmu gizi kehabisan akal disini.

Gak mungkin kurus kalorinya dibatasi, makin kurus nanti mereka. Jadi satu-satunya jalan, ‘kencengin’ obatnya! Lagi sisi kuratif dimenangkan.

Padahal kita tahu, konsumsi obat rutin di satu titik akan hasilkan masalah. Jangka panjang maupun gangguan jangka pendek. Mau gimana lagi?

Ini akibat misleadnya konsep diet. Dari pengaturan pola makan agar sehat menjadi upaya putus asa menurunkan berat basan. Rusak kemana-mana.

Maka itu penganut pola makan sehat seperti #FoodCombining #RawFood Diet Alkali atau sejenisnya, kaget sendiri. Niatnya apa? Tau-tau sehat.

Masalah kesehatan yang menghantui bertahun-tahun, tau-tau hilang sendiri.
Kualitas hidup meningkat. Karena paham diet secara benar.

Itu baru dari sisi kalori. Belum bahas sisi diet mislead ke sisi pengurangan cairan tubuh. Itu lebih blo’on lagi! Ntar ah.

PART IV

Diet Kalori : Kuno dan Tidak Realistis

http://chirpstory.com/li/203327

Oke, buat yang nungguin kultwit tentang “Diet Kalori: Kuno dan Tidak Realistis” sebentar lagi akan saya berikan.

Sebenarnya apa yang saya sampaikan ini sudah pernah beberapa kali disinggung. Cuma karena memang doktrinnya sudah berkarat, harus diulang.

Kenapa berkarat? Karena hampir semua ahli kesehatan, yang mayoritas sebenarnya clueless tentang pola makan sehat, mengacunya ke diet kalori.

Jadilah banyak orang dijejali kalimat “makan sehat itu adalah makan dengan jumlah kalori yang tepat” di benaknya. Makin ngawur hidup mereka.

Mana ada penderita diabetes yang bisa sembuh dan hidup normal pasca mereka mengadopsi diet kalori? Makin menderita, makin tersiksa yang ada.

Anak-anak gym itu rata-rata mengaku paham gizi, mereka hafal jumlah kalori. Bisa gak mereka membantu orang sakit dengan konsep makan? Gak!

Dua dekade ada di dunia gym, mayoritas mereka yang mengaku tahu ilmu gizi, sebenarnya cuma tahu diet kalori, diri sendirinya jauh dari sehat.

Sudah umum kalau mendapat kabar rekan saya yang rutin ngegym sekarang kena penyakit degeneratif, gagal ginjal, liver, jantung, sampai kanker.

Baru-baru ini malah ada yang kolaps kena gejala awal stroke. Gak ngaku aja. Walau ngelesnya bikin ketawa mereka yang paham logika fisiologi.

Penderita penyakit degeneratif lain, jantung, liver, ginjal hingga problem selular seperti kanker, juga diacu pada konsep diet sama, kalori!

Bisa sembuhkah mereka? Sama saja! Mustahil! Akhirnya apa yang terjadi? Jalan keluar kesembuhan mengacu pada pola kuratif, minum obat-operasi.

Kalau sudah wilayah kuratif, ya sembuhnya jadi untung-untungan. Tubuh yang masih kuat bisa sembuh, tubuh yang ringkih, menunggu waktu ‘dut’.

Masalahnya menunggu waktu itu, kadang (eh, mayoritas ding) menderita dan memakan biaya sangat besar.

Akibat infiltrasi doktrin diet kalori ini sudah sangat parah. Hidup sehat menjadi sebuah misteri, sesuatu yang rumit dan mahal luar biasa.

Ada apa sih dengan diet kalori? Mari kita simak logika dasarnya.

Tubuh sehat dari jaman dulu sampai sekarang, identik dengan bentuk tubuh ideal. Misal: Pria berotot perut, perempuan berpinggang langsing.

Bentuk ideal tadi hanya bisa lahir dengan berat badan yang sesuai dengan proporsi tubuh. Masalahnya harus sesuai secara sempurna!

Berat badan super ideal dengan tinggi badan dan usia emas, membentuk tubuh indah. Pria berotot perut, perempuan berpinggang langsing.

Dari sanalah logika kalori mengacu. “Carilah berat badan ideal!” Bagaimana caranya? Lahir lagi kalimat baru, “Kalori masuk seimbang keluar”.

Terobsesilah orang dengan hitung-hitungan kalori, supaya badannya terus menerus ideal. Karena berat badannya terus terjaga. Dieksplore habis.

Sebuah mesin sederhana bernama Bomb Calori Meter dikedepankan. Alat ini mengukur panas yang dihasilkan oleh unsur makanan, nah itu dia.

Kalori itu basisnya satuan pengukur panas. “Calor” by the way, berasal dari bahasa latin, artinya panas. Jadi yang dihitung panasnya.

Kenapa diet kalori gagal memberikan kegunaan bagi tubuh? Karena yang dihitung adalah panas unsur makanan, bukan nilai gizi dan kegunaannya!

Rendah dalam artian normal untuk dimakan, rata-rata menggunakan kisaran berat 100 gram, mari kita lihat yang dimaksud.

Kalau cuma ngikutin kalori akan segera terlihat, makanan rendah kalori, itu rata-rata basisnya protein hewani yang direbus, kukus atau bakar.

Sepotong dada ayam rebus, untuk kisaran 100 gram, mengandung sekitar 150 kalori. Bandingkan dengan 100 gram racikan gado-gado = 197 kalori.

Berbasiskan ini, orang menganggap bahwa konsumsi protein hewani, rebus, kukus, bakar sebagai makanan wajib konsumsi karena kalorinya pas.

Kalau sudah lama follow saya tentu paham, betapa konsumsi protein hewani tinggi, justru tidak sesuai dengan kodrat sistem cerna manusia.

Gigi manusia tidak sesuai gigi hewan karnivora. Gerak rahangnya pun. Sistem dan organ cernanya sama. Protein hewani bukan makanan rutin.

Cari kultwit saya tentang betapa tubuh rumit urai protein hewani jadi asam amino untuk dirangkai ulang agar bisa dipakai sesuai keperluan.

Bomb Calori Meter, selain hanya bisa kenali panas makanan, pun tidak bisa ukur nilai enzim, koenzim, mineral & banyak unsur penting makanan.

Itu sebab diet kalori tidak mengikut sertakan konsep ketersediaan unsur makanan agar sesuai kebutuhan dan cara kerja tubuh dalam prinsipnya.

Menarik mengikuti data klinis temuan Dr. Shinya yang mengatakan orang yang mengkonsumsi makanan modern yang umum, rendah kalori sekalipun.

Memiliki karakter usus yang buruk. Saat sistem cerna tidak baik, otomatis tubuhnya pun sakit. Beliau gastroenterolog, isi perut itu dunianya.

Berat ideal pun tidak bisa dikaitkan ke perjalanan usia. Pernah melihat orang yang atletis saat remaja dan usia 20-an? Bagaimana saat ia 40?

Bila orang tersebut hidup normal, pasti berat tubuhnya tidak akan sama lagi. Karena perjalanan waktu, tubuh memiliki metabolisme berbeda.

Disini konsep berat badan ideal = tubuh sempurna yang menjadi dasar pemikiran diet kalori, gugur lagi. Tidak berlaku dengan perjalanan usia.

Saya banyak memiliki teman berusia lanjut di pusat kebugaran yang memiliki tubuh ideal, diet kalori tentu jadi pilihan hidup mereka.

Tapi bila diperhatikan dari dekat, wajah mereka rata-rata lebih tua dari usia sesungguhnya, kesehatan kulit buruk, kesehatan general apalagi.

Bahkan ada kenalan berusia lanjut, orang terkenal, rutin berlatih di gym, badannya masih ramping. Saat masuk sauna bersama, saya terkejut.

Di dadanya melintang bekas sayatan pisau operasi. Ternyata pernah terserang penyakit jantung. Waktu saya tanya, ia dari dulu hidup ‘sehat’.

Gak salah lagi, ‘hidup sehat’ yang dia maksud adalah olahraga rutin dan (tentu saja) diet kalori. Mengejutkan bukan? Sekali lagi bukti.

Menaikkan-menurunkan berat badan itu bukan tujuan utama dari hidup sehat. Tujuan utama dari itu adalah tubuh yang (harus lebih dulu) sehat.

Berat ideal versi ini belum tentu menghadirkan otot perut pada pria. Juga pinggang langsing seperti usia belasan pada perempuan.

Tapi berat ideal versi tubuh sehat ini, menghasilkan pencegahan penuaan dini, kulit elastis-kenyal, daya tahan tubuh kuat, kesehatan prima.

Bagaimana mencari tubuh sehat dengan pola makan tepat? Pilih pola makan yang sesuaikan kebutuhan & cara kerja tubuh dengan apa yang dimakan!

Saya pribadi adalah pelaku #foodcombining lebih dari satu dekade. Dengan pendekatan lebih ke #rawfood akhir-akhir ini. Buah-sayuran segar!

Sudah banyak testimoni pelaku #foodcombining dan #rawfood (bila dilakukan benar) kehidupan kesehatan mereka terjaga bahkan sembuh penyakit.

Atau pola makan yang berbasis alkali. Dimana apa yang dimakan terfokuskan pada upaya pencapaian kondisi homeostasis, PH darah netral.

Yang seru, pola makan sehat seperti tersebut tadi, umumnya punya logika sama, berbeda sedikit, tapi tujuan utama dan caranya sangat mirip.

Dan pembeda utamanya adalah! ANDA BISA MAKAN KENYANG!!! Bandingkan dengan penderita diet kalori yang selalu ada dalam fase kelaparan abadi.

Hidup sehat dengan pola makan sehat yang tepat, Anda bahagia secara lahir dan batin. Masalah terpecahkan, hidup menyenangkan, end of story!

PART V

http://chirpstory.com/li/241457

Sedih dapet pertanyaan, lebih mirip statement, yang bilang kalau memperhatikan makanan itu sama dengan mengurangi asupan gizi dalam tubuh.

“Duh, gimana ya mau coba #Foodcombining, saya makan sembarang begini aja jadinya kurus, gimana kalau makannya dijaga?” Miris dengernya.

Ini memperlihatkan dunia kesehatan kita memang punya kegagapan dalam mempelajari fakta bahwa makanan dan tubuh punya aturan main sendiri.

Makan tidak seperti menabung uang di celengan, makin banyak dimasukan makin penuh. Logika bodoh? Memang! Sayang ilmunya berlakunya begitu.

Pemahaman yang umum berlaku, makan sehat sama dengan diet kalori, makanan dihitung berdasar nilai tertentu, mirip orang menabung di celengan.

Kalau makan berkalori tinggi, tubuh akan gemuk. Makan dengan kalori direndahkan, tubuh akan kurus. Tubuh gemuk identik penyakit, kurus nggak.

Sederhana? Sayangnya gak sesederhana itu. Tubuh tidak seperti celengan, ada hukum yang berlaku dan memberbedakan mereka. Tidak mutlak sama.

Pernah ketemu dengan orang yang sudah makan banyak-banyak tapi tubuhnya tetap kurus? Badannya langsing, tapi saat dicek, penuh penyakit?

Atau sudah makan sesedikit mungkin, diirit-irit, diet kalori ketat, tapi tetap saja gemuk? Ada juga yang tubuhnya gak langsing, tapi sehat.

Semua fakta di lapangan ini berlaku mutlak dan benar terjadi. Bahkan lebih banyak dari sekedar fenomena umum diet a la celangan, diet kalori.

Berapa banyak sih yang diet kalori ketat, terus bisa sehat dalam jangka waktu lama? Jarang sekali, kalau tidak bisa dibilang sangat jarang.

Atau ada gak orang yang divonis sakit tertentu, lalu menjalani diet kalori, kemudian sembuh sehat seperti sediakalah. Lagi, jarang sangat.

Yang terjadi, orang berdiet kalori, mayoritas menyerah dan kembali ke pola makan lama. Kalo yang sakit, diet sebentar, lalu andalkan obat.

Kalau dari sisi dunia kesehatannya sendiri, seperti pernah saya cerita, rekan saya yang ahli kesehatan pernah jujur bicara pada saya.

“Gue paling repot dan mati gaya, kalau di ruang praktek muncul orang yang badannya langsing tapi penyakitnya banyak” Basis dia ahli gizi.

Kenapa? Karena logika pola makan celengan yang dia kuasai, jelas gak masuk dalam kategori solusi bagi orang langsing penyakitan tersebut.

Kenapa dia tertarik mempelajari ilmu kesehatan makanan seperti #Foodcombining, karena ada pola pikir baru terbuka bagi dia.

Pola pikir yang mencerahkan dan bisa menjadi jawaban atas masalah yang selama ini selalu dia temukan. Tubuh sehat karena (pola) makan benar.

Bahwa tubuh tidak bisa didikte harus mengurangi atau menambah makan, dipaksa makan sesuatu karena dianggap memiliki kandungan tertentu.

Tapi hormati tubuh, dengan lebih dulu mengenali apa yang dibutuhkan? Bagaimana cara tubuh bekerja. Baru kemudian dicarikan makanan yang pas.

Baru dipelajari cara makan yang pas dengan sistem tubuh. Lalu dipilah-pilah jenis makanan yang tepat. Yang tidak melulu apa kandungannya?

Buat apa tinggi kalsium, dianggap berguna bagi tulang. Kalau pada kenyataannya wujud makanan itu dianggap sampah dan bikin tubuh susah?

Atau makanan yang dipandang sebelah mata, tapi ternyata saat masuk ke tubuh justru lebih berguna dan efektif dimanfaatkan. Disini seninya.

Maka itu percuma makan menganalogikan tubuh seperti celengan. Karena sejatinya untuk dapat tubuh sehat tidak berlaku hukum demikian.

Makan banyak tidak otomatis berarti tubuh gemuk, makan sedikit tidak otomatis berarti tubuh langsing. Pun kurus tidak berarti identik sehat.

Kalau melakukan #Foodcombining, makan tetap bisa kenyang. Tapi tubuh tidak melar dan pun tetap sehat. Penyakit juga banyak yang bisa hilang.

Makan #RawFood bisa jadi konsumsi makanannya dianggap remeh dan tidak bergizi seperti pemakan daging. Tapi kualitas kesehatan? Lebih baik.

Makanya pelajari tubuh dengan baik, tambah pengetahuan, kalau mau sehat
Bukan asal gemuk atau kurus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s