Sisi Buruk Protein Hewani

Pernah bertemu dengan orang yg tampak sangat pantas untuk menjadi adik ibu saya. Bingung kikuk mau manggil, “Mbak atau Tante?”

Dia punya keluhan kehilangan kontrol penuh dari sistem syaraf terhadap organ tubuhnya. Dan dia terlihat tanpa tenaga.

Belakangan baru saya tahu kalau dia cuma lebih tua 1 tahun!!! Tapi dia tampak cukup tua untuk jadi tante atau bahkan ibu saya.

Setelah bicara panjang lebar, baru ketauan ternyata dia pecandu protein hewani dan lebih banyak mengkonsumsi kopi-teh ketimbang air.

Walau sudah jadi pelaku FoodCombining saat itu saya belum sefaham sekarang tentang konsep asam-basa PH tubuh. Ini jadi pelajaran.

Protein hewani jangankan dalam konsentrasi tinggi, 4 kali seminggu pun di usia tertentu sudah berikan impact negatif untuk tubuh.

Apalagi semenjak mengenal konsep perawatan kesehatan usus dari dokter Shinya, makin faham saya akan kondisi buruk ibu tadi.

Pasti bila dikolonoskopi, dinding ususnya akan terlihat sangat kumuh, tidak sehat, penuh kotoran mengerak dan ditumbuhi polip.

Kulit yang mengeriput, mengering dan tidak elastis adalah bentuk keputus asaan tubuh berusaha membuang tumpukan racun dalam tubuh.

Kalau meminjam istilah teman saya Dr. Tan Shot Yen “Tubuh yang di tingkat molekular saja sudah setengah mati untuk bertahan hidup (Untuk sekedar hidup, energi dipakai habis2an)”

Itulah salah satu contoh bentuk efek Acidity dalam kehidupan. Pola hidup yang buruk adalah penyebabnya, dalam kasus ibu ini, protein hewani.

Semakin melanjut usia, semakin minimkan konsumsi protein hewani. Dr. Shinya hanya sarankan tidak lebih dari 3 kali perminggu.

Kalau Dr. Tan longgaran, dia beri ukuran telapak tangan dikerucutkan tiap makan. Tapi harus ditemani sepiring penuh sayuran segar.

Bila kasusnya sudah berat seperti ibu tadi, konsep pola makan a la FoodCombining agak sulit beri efek sembuh, terkait padu padan.

Kecuali padu padannya bersifat radikal, hanya mengkonsumsi protein hewani bila ditemani sayuran segar yang lebih banyak! Baru efek.

Kalau mengkonsumsi sate kambing ditemani oleh semangkuk sayur lodeh, memang tidak melanggar FoodCombining, tapi ini tidak cukup.

Bila kasusnya sudah seberat ibu itu tadi. Karena kerusakannya radikal, perawatannya (dengan kontra kebiasaan) pun harus radikal!

Ya wes, kalau masih mendewakan protein hewani, apalagi untuk urusan diet. Saya sarankan mending telan bom waktu saja, mirip efeknya kok.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s