“Jadikan makananmu sebagai obat”

@erikarlebang:

http://chirpstory.com/li/95298

Mengandalkan makanan sebagai obat, tidak akan menghasilkan banyak manfaat bila tidak terkait pengaturan pola hidup.

Pola hidup yang buruk menghasilkan PH darah yang cenderung asam, kondisi yang membuat tubuh bagai magnet untuk penyakit.

Mengharapkan makanan yang mengandung unsur ini-itu akan menjadi obat umumnya gagal karena konsep mengobati itu berbeda.

Obat yang diracik secara khusus melalui fase konsentrat dan ekstraksi dari satu/berbagai unsur memiliki kekuatan besar.

Biasanya dia ampuh mengatasi penyakit secara cepat, walau kebanyakan hanya menghilangkan gejala atau berujung efek samping.

Dan secara akumulatif menghasilkan kerusakan organ secara tunggal atau kolektif, bisa juga mengganggu sistem tubuh.

Makanan dengan unsur ini-itu tidak bisa begitu saja dimanfaatkan tubuh secara cepat. Prosesnya panjang dan cenderung lambat.

Belum lagi bila terakumulasi dengan pola makan harian yang buruk. Makanan baik yang masuk sesekali jelas akan alami kegagalan.

Contoh, walaupun sirsak dikatakan memiliki kemampuan mengalahkan sel kanker, mengkonsumsi sirsak setelah makan, tak berguna.

Mengkonsumsi sirsak rutin, tapi masih rutin juga susu, teh dan kopi serta padu padan makanan yang buruk, jelas tak berarti.

Seharusnya makan menjadi motor utama pola hidup sehat. Dimana rutin menjaga apa yang dimakan, menjadi katalis kesehatan utama.

Kalimat populer “Jadikan makananmu sebagai obat” aslinya berbasis pemahaman ini. Makanan bukan benar jadi obat, tapi perawat.

Semua unsur penting makanan harus dikonsumsi benar, agar PH darah terjaga berada di titik netral cenderung basa, homeostasis.

Tubuh homeostasis akan kuat terhadap serangan penyakit, mudah pulihkan diri sendiri, sekalipun terkena, selalu sehat sejahtera.

______________________________________________________________________

Erikar Lebang, @erikarlebang

http://chirpstory.com/li/176382

Pola berpikir bahwa makanan itu berkhasiat mengandung ini-itu, umumnya membuat orang menjadi salah kaprah dalam memandang makanan.

Akibatnya bahan makanan dilihat layaknya seperti kita melihat obat. Bukan sebagai pemenuhan kebutuhan tubuh, tapi didiktekan sembarang.

Padahal pola berpikir obat itu rumit bila disandingkan dengan makanan. Dalam dunia farmakologi berlaku banyak aturan, dosis, berat dll.

Infltrasi obat terhadap tubuh juga tergolong cepat dan diharap memberi efek instan. Nah pola pikir ini rancu bila dikaitkan ke makan.

Makanan dimakan dengan berbagai tujuan, energi, substansi pelangsung sistem, perawatan organ dan lain sebagainya, ada skala prioritas.

Bisa jadi dalam satu makanan terlimpah satu unsur berguna untuk tubuh yang sedang dihadapi masalah, tapi jangan dilupa, cara tubuh mencerna.

Orang yang menderita osteoporosis semisal, mengira bahwa ia perlu kalsium dalam jumlah banyak, didapat info bahwa susu berlimpah kalsium.

Segera ia minum susu banyak-banyak, berharap tulangnya menguat. Tapi apa lacur? Tulangnya makin keropos, kenapa? Nah ini masalahnya.

Kenapa? Salah satunya, kalsium susu, tidak dilengkapi mineral pendamping, agar ia bisa diserap tubuh dengan baik, magnesium yang cukup.

Bukannya terserap tulang dengan baik, kalsium susu malah mengacaukan keseimbangan darah, padahal untuk menjaganya netral diperlukan kalsium.

Terpaksa tubuh melepas cadangan kalsium dalam tulang agar keseimbangan darah kembali normal. Walhasil tulang tambah keropos.

Contoh lain, semisal sirsak, yang diketahui mengandung unsur polifenol tinggi, sebagai antioksidan penekan radikal bebas pemicu kanker.

Segera orang berlomba mengkonsumsi sirsak untuk mencegah dan menyembuhkan kanker. Tapi ya gitu, sembarang aja mengkonsumsinya, asal sirsak.

Apa lacur, sirsak dibuat selai saja dianggap berkhasiat menghancurkan sel kanker! Padahal sebaliknya yang terjadi. Pemakaian gula semisal.

Polifenol yang cuma 1.53 mg per 100 gram sirsak jelas tidak akan sebanding dengan efek ‘merusak’ pemakaian gula pada proses pembuatan selai.

Sementara kita tahu, sel kanker amat terhidupi dengan asupan gula dari pemilik tubuh. Makin tinggi dia makin suka, mudah berkembang biak.

Disini kita belum bicara proses pemanasan, pengemasan, pemberian pengawet pembuatan selai sirsak. Yang berpotensi oksidasi & karsinogenik.

Itu contoh kecil, betapa riskannya mencampur adukkan konsep kuratif dari pengobatan dan makanan. Mudah terjadi bias dan kerancuan disana.

Makan sehat memang memberi kesehatan dan kesembuhan yang jauh lebih dahsyat serta permanen dari pengobatan, tapi ada syarat harus dipatuhi.

Jadikan makan sehat bagian dari pola hidup yang konsisten seumur hidup. Dan makan sehat mengacu pada kemauan tubuh, bukan malah dibalik.

Bikin penutup kultwit lama-lama lebih stress daripada kultwitnya sendiri nih.

Demikian kibulan malam ini, suka sukur, gak suka unfollow, gak follow bawel? Coba campur selai sirsaknya dengan balsem, kali lebih ampuh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s