Buatan Pabrik Tidak Akan Mengalahkan Buatan Tuhan

Erykar@erikarlebang

http://storify.com/honeyniena/buatan-pabrik-tidak-akan-mengalahkan-buatan-tuhan

Banyak info baru kesehatan yang mendadak mencuat membuat kita seakan lebih cerdas dari pendahulu kita. Manusia jaman dulu, tidak mengenal konsep antioksidan mengurangi radikal bebas, kekurangan ion, tidak faham apa itu AA, DHA?

Jaman itu lebih dikenal konsep pemenuhan kebutuhan berdasarkan pasokan alam. Haus? Tubuh butuh cairan, sumber mata air jawaban

Entah mata air, air tanah, sungai pegunungan dan lainnya. Mereka berpaling ke alam untuk makanan, bercocok tanam atau berburu.

Apakah tingkat kesehatan kita lebih baik dari mereka? Belum tentu. Hal itu berlaku relatif. Pengobatan masa itu belum canggih.

Yang pasti dimasa sekarang, dengan iming-iming hal yang asing bagi manusia dulu tadi, tidak jadikan kesehatan membaik drasis.

Usia tidak lebih panjang, bahkan banyak sekali penyakit degeneratif yang dulu secara normal muncul di usia lanjut, kini tidak.

Penyakit menyerang usia yang jauh lebih dini. Usia lebih panjang? Bisa jadi, tapi apa guna bila dilalui dengan bantuan mesin?

Apa gunanya menambah usia 2-3 tahun lebih panjang, bila dilalui dengan tergolek tak berdaya di bawah mesin penunjang hidup?

Atau jadi budak serangkaian medikasi selama menahun, yang berakhir dengan rusaknya organ tubuh sebagai akibat akumulatif.

Semua itu memperlihatkan temuan baru yang digadangkan oleh sebuah produk, kadang jadi trend kesehatan, jauh dari aplikatif.

Mayoritas dari banyak klaim produk tersebut lahir dari upaya memanfaatkan peluang pasar, bukan kebutuhan kesehatan hakiki.

Misal, ekstraksi unsur di buah-buahan, dimasukkan kedalam minuman, kemudian diberi perasa agar nikmat, apa sama manfaat?

Belum tentu, kalau tidak bisa dibilang “pasti tidak”. Yang diberikan alam, tidak bisa diberikan pabrik. Tubuh bereaksi berbeda.

Kalau reaksinya berbeda, lalu bagaimana? Itu fungsinya kampanye pemasaran: iklan, promosi, trend setting dan lain sebagainya.

Kalau perlu, kegunaan dan kelebihan sekecil mungkin yang masih lemah bukti ilmiahnya sekalipun, diekspose besar-besaran.

Kalaupun nanti ada efek samping lebih besar ketimbang manfaat? Mudah, tinggal berkelit, “belum ada bukti ilmiah kesana”.

Biasanya statement ‘ngeles’ itu juga dikeluarkan oleh tenaga ahli luar yang bisa ‘diprofesionalkan’ oleh pihak produsen produk.

Dahulukan akal sehat dengan iklan televisi, radio atau cetak. Prinsipnya satu, buatan pabrik tidak akan kalahkan buatan Tuhan.

Kalau Mau Sehat, Jangan Andalkan Produk Pabrikan

http://chirpstory.com/li/184049

Erykar Lebang, @erikarlebang

Lagi baca kebingunan produsen minuman ringan di AS, mencari format minuman bersoda rendah kalori yang sehat. Sadar pangsa pasarnya kian menurun.

Selama orientasinya cuma kalori, pasti akan kerepotan mencari sesuatu yang benar sehat untuk tubuh. Rendah kalori tidak identik sehat.

Tapi gong paling utamanya, selama itu keluar dari pabrik, kemungkinan untuk menyehatkan tubuh secara hakiki sangatlah tipis.

Pabrik itu industri, gak mungkin bisa berjalan tanpa orientasi profit. Makanan benar berguna untuk kesehatan sungguh jauh dari profitable.

Makanan harus identik dengan “kekuatan hidup”, untuk bisa menunjang sebuah kehidupan. Elemen paling dominan memberi kekuatan hidup, enzyme.

Enzym didukung oleh unsur pembantu seperti vitamin, mineral. Berita buruknya, semua rusak saat diproses berlebihan. Panas terutama sekali.

Produk pabrikan jelas harus melalui pemanasan. Tanpa itu dia tidak akan memenuhi persyaratan higienitas. Itu sebab sehat, jangan cari disana.

Kenapa produk kaya enzym, vitamin, mineral alami tidak diproduksi massal? Balik lagi ke masalah realita. Produk alam itu miliki hukum alam.

Salah satunya, usia yang pendek. Hukum alam menetapkan siklus pergantian yan cepat. Kalau pabrik pake produk alami? Rugi. Cepat rusak.

Kalau mau sehat, ya jangan andalkan produk pabrikan. Berpaling pada produk buatan Tuhan. Produk pabrikan, cukup sesekali, menikmati hidup.

Lagi bicara tentang makanan dan industri. Dalam satu perbincangan, seseorang pernah menuduh saya berlebihan menyikapi makanan pabrikan.

Saya belum bicara masalah ‘energi hidup’ makanan, dia membawa masalah ini ke ranah umum yang diributkan, ragam zat aditif makanan pabrikan.

“Selama makanan itu ada ijin resmi pemerintah, gue yakin aman dikonsumsi! Kan banyak ahli kesehatan di belakangnya juga” tukasnya.

Secara logika apa yang dia sampaikan mungkin memang masuk akal, tapi logika regulasi. Bukan logika kesehatan tubuh manusia. Itu cerita lain.

Okay, bicara dari sisi yang aman aja deh. Gak perlu membahas sisi tenaga ahli yang memback up makanan produk pabrikan. Bukan urusan saya.

Ada yang tahu bagaimana zat aditif, mau pengawet kek, mau zat pewarna, pemberi rasa artifisial, alat pelet #eh gak ding, ya pokoknya itu deh.

Diketahui memberikan dampak baik atau buruk bagi kesehatan? Semua diuji coba dulu kepada binatang. Ya, binatang. Bukan manusia. Ya kali deh?

Gak masuk akal juga kalau sesuatu yang asing mendadak diuji cobakan pada manusia, jelas lebih ‘aman’ dilakukan pada hewan. Itu masalahnya.

Struktur tubuh manusia dan hewan tentu berbeda, pun sistem, substansi pembentuk. Pun cara menyikapi stimulan asing juga reaksi saat masuk.

Dari sisi lain, kalaupun ada kesamaan, riset keamanan satu substansi yang tidak memperlihatkan reaksi buruk, biasa berlangsung berapa lama?

Apakah aman bila dikonsumsi lebih 10 tahun? Berulang-ulang? Apalagi bila dikonsumsi secara harian. Jarang bahkan kemungkinan besar gak ada.

Jangan lupa kemungkinan sebuah produk mengandung konten zat aditif lebih dari satu, itu sangat besar. Hampir pasti malah, cek aja labelnya.

Jadi saya cuma bisa menertawakan pendapat rekan itu, karena urusannya kan kesehatan jangka panjang. Bukan efek instan, walau bisa juga sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s