Diet Langsing Basisnya Harus Sehat (Re: Diet Anak Gym)

Erykar @erikarlebang

http://storify.com/honeyniena/diet-basisnya-harus-sehat

Diet, basisnya harus sehat. Bukan sekedar turun berat atau bisa pakai baju ukuran kecil. Dan orientasinya harus kualitas sehat seumur hidup!

Sudah belasan tahun melihat orang mengklaim ragam diet berhasil, tapi kemudian tubuhnya kembali seperti semula disertai kesehatan memburuk.

Atau malah banyak kasus, bertahun diet badan tetap ideal, mendadak sakit parah atau bahkan meninggal mendadak, umum karena serangan jantung.

Kasus yang paling sering diangkat Dr. Roy Walford, penulis buku “120 year diet”, hampir seumur hidupnya ia berdiet kalori ketat, tubuh ideal

Ia meninggal di usia 80 tahun. Bukan masalah itu dibawah target usianya. Tapi bagaimana cara ia jatuh sakit beberapa saat sebelum meninggal.

Ia terkena Lou Gehrig Disease, semacam malfungsi koordinasi syarat-otot yang menyebabkan ia kehilangan kontrol terhadap organ vital tubuhnya.

Secara konvensional Lou Gehrig, diambil dari nama pemain baseball kenamaan AS, dianggap sebagai penyakit yang tidak diketahui penyebabnya.

Tapi itu dari sudut pandang konvensional. Belum ada sistem pengobatan yang mampu benar atasi problem malfungsi kerja syaraf-otot tersebut

Dari sudut pandang naturopati, Lou Gehrig bisa diatasi dengan perubahan pola makan drastis. Mengeliminir konsumsi protein hewani semisal

Atau serangkaian menu yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi homeostasis tubuh. Sesuatu yang lebih fundamental memperbaiki kesehatan.

Prinsip dasar diet dalam naturopati, adalah koordinasi kualitas makanan yang masuk serta kebutuhan tubuh yang paling mendasar, bukan dibalik.

Kita memaksa tubuh menerima makanan masuk berdasarkan asumsi atau penelitian sepihak, tanpa mempedulikan keinginan tubuh sesungguhnya.

Diet Dr. Waldorf walaupun terhitung cermat, dengan rekayasa kalori semisal, mewakili konsep pemaksaan berdasarkan asumsi sepihak itu.

Contoh unsur makanan dalam menu beliau: Baked chicken with water chestnut stuffing, Stuffed chilli peppers with goat cheese, Cheesecake.

Sweet potato pie topped with yogurt, Coffee with steamed goat’s milk (walau bukan semata itu semua, ada buah-sayuran) Bagaimana kualitas?

Kombinasi makanan itu sangat buruk bagi tubuh. Walaupun kalorinya rendah. Tubuh Dr. Waldorf memang tergolong langsing hingga usia lanjut.

Tapi kelangsingannya tersebut tidak menutupi kerusakan berangsur yang terjadi dalam tubuh, secara fisiologis bahkan selular, molekular!

Ada lagi Adelle Davis, seorang ahli gizi yang walau mengkampanyekan pola makan sehat dengan konsep lebih baik, menghindari makanan prosesan.

Ia masih terjebak dalam konsep berpikir serupa. Kalori untuk menjaga keseimbangan tubuh, untuk itu ia mengkampanyekan banyak konsumsi susu

Beliau wafat di usia 70 tahun, sekali lagi bukan usia, tapi terserang penyakit MM (Multiple Myeloma) sejenis kanker darah terkait antibody.

Itu memperlihatkan bahwa diet itu seharusnya identik dengan pola hidup sehat, bukan makan atau melakukan aktivitas fisik asal menjaga berat.

Diet seharusnya berlangsung selama seumur hidup, bukan sekedar dilakukan lalu dihentikan saat bosan atau karena tidak mampu lagi.

Diet seharusnya menjaga fungsi dan kualitas kesehatan, bukan sekedar memanipulasi tubuh agar mendapatkan bentuk yang sesuai keinginan.

Diet pun seharusnya tidak merusak kondisi kesehatan secara berangsur. Sebaliknya ia harus mampu menjaga kesehatan hingga tiba waktunya nanti.

Diet Anak Gym

Erykar @erikarlebang

http://storify.com/honeyniena/ikut-program-diet-langsing-cek-jangka-panjangnya

Mendewakan kalori sebagai pilar utama pola makan sehat? Saya pernah. Dan itu sangat tidak benar! Trust me based on my personal experience.

Dilihat dari ragam sisi, punya pengalaman. Waktu kecil, nenek dideteksi mengidap diabetes, sebagai istri dari dokter yang profesor doctor.

Jelas dia dapakan fasiltas kesehatan kelas satu. Ibunya dokter pulak, ibu saya, jadi sehari-hari ia diawasi oleh dua orang ahli kesehatan.

Lepas dari penanganan kesehatan lain, makanan sehari-hari nenek saya cermat sekali hitungan kalorinya. Hasil kolaborasi lab dan catering.

Tiap makan ditimbang, gramatur dan kalorinya jelas terjaga. Dan dijalankan disiplin. Lalu beliau membaik? Yang jelas 2 tahun kemudian, wafat.

Ada banyak sih alasannya yang mungkin bisa keluar. Tapi yang pasti penghitungan kalori cermat beliau sama sekali tidak sukses menyelamatkan.

Sisi lain pengalaman saya sebagai anak gym. Hampir dua dekade saya jadi anggota aktif pusat kebugaran. Lewat beberapa level pengetahuan juga.

Pengetauan level pertama saya, ya sama kayak mayoritas penghuni gym sekarang. Otak dipenuhi obsesi kalori, daily protein intake, suplemen.

Mengatur pola hidup layaknya atlet binaragawan pro. Padahal bukan, besarkan volume otot pun tidak. Cuma definisi. Istilahnya body sculpting.

Di fase ‘blo’on’ tentang ilmu kesehatan ini, saya menjalani pola hidup layaknya pelaku gym. Hasilnya? Lumayan! Lihat dari sisi mana dulu?

Otot saya cukup definitif, walau belum bagus-bagus amat. Teknik masih belum canggih, masih nanya-nanya. Tapi di sisi pencapaian fisik ok.

Persentase lemak pernah sangat ideal, sekitar 9,9%. Anda bisa cubit pinggang saya layaknya cubit otot trisep (yang terlatih), minim lemak!

Otot perut? Paling dibanggakan. Kalau di locker, jangan harap pake baju, kemana-mana either pake towel atau celana aja. Gak bisa liat cermin.

Ke kolam renang? Banyakan jalan di pinggir kolam renang ketimbang berenangnya. Pamer! Pokoknya badan ideal! Maklum masih medio kepala 2.

Pola makan? Ini yang konyol! Mengejar logika rendah kalori, lemak dan tinggi protein (1.5-2 gr per kg berat tubuh) makannya blo’on banget.

Saya bisa makan 10-15 butir telur, putihnya aja sehari. Huek! Dalam beragam bentuk, rebus, omelet sampe diblender, rasanya? Jangan deh Tanya.

Karena telur masih kurang. Daily intake protein saya penuhi dari dada ayam kukus, rebus yang dibawa-bawa dalam plastik (muke ijo pas inget).

Minum bergelas susu protein yang harganya selangit, konon 30 gr pure protein, zero calories perserving (mampus gak loh!) + beragam suplemen!

Yang paling top goblognya, saya minum sejenis obat perangsang kerja jantung untuk membakar kalori ekstra saat melakukan cardio session.

Menambah kebodohan lain, saya juga minum semacam air yang disuling via alat khusus, menghilangkan mineral, sehingga sulit tersimpan tubuh.

Semua tujuannya agar definisi otot tubuh terlihat jelas, istilahnya “kering” atau “tajam”. Singkat kata, badan ideal! Pake baju apa aja pas.

Sehat? Nah ini lain cerita! Penyakit lambung yang sudah saya derita semenjak umur 10 tahun kok makin menjadi-jadi! Migraine optik juga ikut.

Daya tahan tubuh? Beuh! Ada orang bersin 10-20 meter dari saya, udah ketakutan setengah mati! Kenapa? Gak lama saya pasti ketularan juga.

Flu? Wow! Hidung tersumbat itu masalah harian, terutama malam dan pagi hari! Pas bangun bersin-bersin, itu sudah dianggap normal sekali.

Fase kedua diet kalori saya terjadi di era medio 2000’an. Kalau sekarang saya agak lebih cerdas sedikit. Sudah tahu #foodcombining soalnya.

Saya tahu susu protein, pemaksaan protein hewani, roti gandum, suplemen ini-itu, adalah substansi yang tidak mendukung kesehatan tubuh.

Kenapa diet kalori? Karena ditantang teman, “bisa gak nurunin persetase lemak dibawah 11% pake #foodcombining?” Plus lagi ada program di gym.

Jadi semua orang berlomba cari rasio penurunan lemak tertinggi. Saya sih gak mungkin menang, karena persentase lemak ada di kisaran 15%.

Kalau rasio yang dihitung, sampai 0% pun gak menang. Bila dibanding dengan yang dari 30% ke 20%. Saya fokus ke tantangan teman saja.

Walau lebih cerdas, mau gak mau saya terpengaruh tetap ke konsep kalori. Menghindari makanan berkalori tinggi, pas kardio membakar kalori.

Latihan sekarang lebih canggih, maklum sudah 1 dekade lebih ngegym, temenan akrab sama instruktur senior sampe atlet binaraga (juga senior).

Saya bisa leluasa pergunakan teknik superset, piramida, sirkuit dll untuk membantu pencapaian persentase lemak. Dan sudah rutin yoga pulak.

Masih pake stimulan jantung juga. Cuma sekarang bukan lagi obat blo’on itu, lebih ke beberapa seruput kopi hitam sebelum kardio. Jangan tiru.

Hasilnya? Persentase lemak saya turun sampe ke angka 10,11%, dalam hitungan gak sampai sebulan. Yeay, menang taruhan! Berat susut 66-67 kg.

Tapi dari sisi kesehatan? Nah! Ini masalah utamanya, walau sudah berusaha #foodcombining, tetep saja asupan buah dan sayur segar berkurang.

Walau fokus ke protein hewani dalam jumlah terbatas serta protein nabati dari biji-bijian di jumlah banyak. Tetap merasa kesehatan menurun.

Kemampuan berpikir saya menurun. Badan ideal, otot bermunculan, tidak sejelas di fase ‘blo’on’ memang (maklum jarak usianya beda) lumayanlah.

Cuma badan ideal, tetap sebatas casing. Processornya mah lemot teteub! Rentan flu, mulai kena sariawan (setelah bertahun gak pernah!).

Kenapa semua itu bisa terjadi? Sederhana, saya memberikan tubuh, kebutuhan yang sebenarnya tidak terlalu bahkan tidak diperlukan olehnya.

Makanan saya tidak sehatkan sistem cerna sama sekali! Walau rendah kalori. While sistem cerna adalah garda depan perawatan-daya tahan tubuh.

Makanan saya tidak mensuplai unsur yang dibutuhkan tubuh secara penuh. Akibatnya tubuh harus gunakan cadangan enzym dan mineral berlebihan.

Makanan rendah kalori, memang tidak menimbun kalori, tapi juga tidak memberi pasokan agar tubuh bisa berfungsi baik, akumulasi buruk.

Agar sekedar tubuh bisa berfungsi normal, cadangan enzym, mineral, vitamin dikuras habis secara tidak efisien. Jangka pendek mungkin bisa.

Jangka panjang? Anda tanam bom waktu bagi tubuh. Problem degeneratif, gagal ginjal, liver, kolesterol dan lainnya, tidak dibangun sehari-dua.

Kelaparan akibat rendah kalori juga mengakibakan kerusakan sel, akibat lysosom bergerak mendaur ulang sel sehat, karena sel rusak habis.

Itu sebab banyak penderita kanker, setelah ditelusuri riwayatnya, pernah jalani program diet pelangsingan atau penambahan berat ragam bentuk.

Jadi begitulah. Kalau menjalani program rendah kalori ala anak gym kebanyakan, saya sih gak asal omong, karena pernah menjalani sendiri.

Anak gym kemarin sore sih, bisa aja merasa hebat, paling modern. Tapi percaya deh, ilmu itu kuno yang orientasinya pendek dan salah kaprah.

Teman-teman saya seangkatan yang sekarang badannya ‘meledak’ sih umum. Kena penyakit degeneratif? Banyak! Yang meninggal muda aja, pun ada.

Apapun programnya, cek jangka panjang! Pakai akal sehat! Jangan napsu hasil berorientasi cuma 3-5 tahun, apalagi bulanan, lebih bego lagi.

Puasa Keagamaan VS Puasa Mau Langsing

Erykar @erikarlebang

http://storify.com/honeyniena/puasa-keagamaan-vs-puasa-mau-langsing

Puasa keagamaan ya jangan disamakan dengan asal puasa karena kepingin langsing lah. Beda banget konsepnya.

Puasa untuk sehat pun gak bisa disamakan dengan puasa asal langsing juga. Konsep dan tujuannya pun berbeda total.

Tapi puasa keagamaan melenceng dari tujuan puasa yang sebenarnya menyehatkan pun bisa. Ya lihat aja budaya sahur rakus dan berbuka ngamuk.

Puasa sehat jadi salah kaprah pun sangat umum terjadi. Umumnya karna pemahaman puasa yang terdefiasi oleh niat melangsingkan tubuh.

Puasa keagamaan yang berefek negatif karena dilakukan salah bisa dilihat dari kasus meningkatnya pasien gawat darurat saat hari akhir puasa.

Problem lambung, gangguan kolesterol, sampai penyumbatan koroner jantung umum ditemui sebagai imbas puasa keagamaan yang dilaku salah.

Jawaban sederhana dari itu semua bisa dilihat dari konten makanan dan cara makan yang menyertai ritual puasa keagamaan tadi.

Makanan terlalu manis serta asin, makanan tinggi lemak, teroksidasi parah, prosesan tinggi yang terkait selera, jelas merupakan biang keladi.

Demikian juga dengan puasa sehat bertanda kutip yang tersaru oleh melangsingkan tubuh, acap menjadi jauh panggang dari api efeknya.

Puasa memberikan efek revitalisasi sel. Lapar mengaktifkan lysosome untuk mendaur ulang sampah sel. Tapi lapar yang terukur serta dicermati.

Lapar yang tidak terkontrol serta dipaksakan terus menerus akan membuat lysosome bergerak mendaur ulang juga sel yang sebenarnya normal.

Inilah salah satu alasan penjelas mengapa sistem selular mereka yang kelaparan secara konstan menjadi tidak sehat. Secara fisik pun terlihat.

Perhatikan kulit pelaku diet melaparkan diri dalam berbagai bentuk yang cenderung menggelap. Itu pertanda sel-sel tubuh mereka tidak normal.

Dari kekurangan oksigen, dehidrasi hingga inefisiensi pasokan kebutuhan sel agar berfungsi normal. Secara general? Penurunan fungsi organ.

Lagipula mengandalkan puasa untuk menurunkan berat tubuh secara jangka panjang mudah membuat frustasi. Tubuh punya mekanisme defensif alami.

Berupa BMR (Basal Metabolic Rate) yaitu turunkan energi minimal yang diperlu tubuh untuk beristirahat total. Sulit bertahan jangka panjang.

Tubuh juga sudah menset standar Metabolic Set yang menjadi kebiasaan menahun. Memutusnya secara drastis tidak menghilangkan settingan itu.

Akibatnya Anda mungkin bisa bertahan dalam hitungan waktu singkat hingga beberapa bulan atau sekian tahun, ada titik dimana tubuh menyerah.

Itu sebabnya kita sering melihat mereka yang melakukan diet drastis, kehilangan berat dalam waktu singkat, dan kemudian menggemuk kembali.

Itu belum menghitung akumulasi kerusakan organ dan sistem tubuh akibat rusaknya sistem selular tubuh. Perlakukan puasa sesuai kodratnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s