Sakit Itu Bukan “Cobaan” Tuhan

Erykar@erikarlebang

http://storify.com/honeyniena/sakit-itu-bukan-cobaan-tuhan

Salah satu problem kesehatan yang menggurita serta sulit dihilangkan adalah pemahaman bahwa penyakit itu adalah ‘kemarahan Tuhan’

Setidaknya penyakit itu adalah “cobaan dari Tuhan”. Jadi penyakit adalah imbas dari perilaku sehari-hari alpa terdeteksi, apalagi dibenahi

Parahnya lagi, dunia kesehatan konvensional yang disetir oleh industri komersil kesehatan, membuat paham ini menguntungkan untuk dipelihara

Akibatnya penyakit disikapi dengan sikap ‘mengobati’, bukan dengan dicegah, apalagi dirawat hidupnya supaya tidak mudah terkena

Antara masyarakat yang berlaku masa bodoh terhadap perawatan kesehatan dan oknum dunia kesehatan yang membodohi, berlaku hukum tarik menarik

Yang satu alpa menjaga kesehatan, karena malas dan tidak tahu. Yang satu menarik banyak keuntungan komersil dari ketidak tahuan tersebut

Kondisi ini sebenarnya membaik seiring munculnya pemahaman “pengobatan terbaik adalah pencegahan”, tapi salah kaprahnya tetap sama

Karena terlalu lama di-ninabobok-kan oleh konsep pengobatan, bentuk apapun perawatan-pencegahan kesehatan yang menjadi tren, diplesetkan

Konsep pengobatan herbal yang sebenarnya berusaha mendekatkan diri manusia ke alam, diplintir menjadi konsep kesehatan kuratif juga

Orang berbondong-bondong berpaling ke obat herbal, sekedar untuk obati penyakit mereka. “Yang penting bukan obat kimia!”, nisbi akal sehat

Peduli setan dengan gaya hidup, pola makan, pola istirahat yang selama ini dijalani. “Kan sudah ada obat herbal, bebas proses kimia”

Akhirnya peluang itu ditangkap juga oleh produsen oportunis. Muncul beragam produk berembel-embel herbal, lebih parah lagi konsepnya

Karena regulasi herbal masih longgar, produk tidak jelas enteng saja mengeksplorasi ketidak tahuan dengan berembel, “manjur untuk ini-itu”

Akhirnya kondisi obat herbal yang benar saja sudah melenceng dari fungsi, muncul lagi pengobatan herbal yang dimanipulasi. Sehat makin sulit

Kasus serupa muncul saat trend menggeser konsep kesehatan ke sisi perubahan pola hidup, yang jauh lebih baik sebenarnya. Sayangnya tidak

Pola makan #foodcombining #rawfood yang sebenarnya mengeksplorasi sisi perawatan kesehatan manusia dengan mengandalkan harmoni kehidupan

Disikapi dengan pemahaman sama, pengobatan! Akibatnya muncul pertanyaan sejenis, “untuk penyakit demikian, #foodcombining-nya apa?”

Atau dari sisi #rawfood, “Karena saya mengidap penyakit ini, saya harus mengkonsumsi anu dan anu ya? Kan mengandung ini dan itu”. Same case!

Belum lagi ancaman dari banyak oknum ahli kesehatan yang merasa ‘lahan’ dominasi mereka terhadap orang awam terganggu, asumsi asal diberikan

Kalau mau sehat, mau gak mau ya harus banyak tahu, banyak belajar, jangan mau dibodohi dan punya komitmen untuk disiplin hidup sehat

Anda makan seenaknya, ya harus siap menerima resiko kemarahan tubuh sendiri di satu waktu dengan menghadiahi Anda penyakit. Bukan Tuhan!

Jangankan makan seenaknya. Makan dibatas-batasi tapi alpa mencari tahu apa kebutuhan sejati tubuh pun, seringkali masih membuat tubuh marah

Jadi bukan Tuhan yang marah lalu memberi penyakit. Hampir semua kondisi penyakit itu mengacu kepada perilaku hidup kita sehari-hari

Boleh jadi, walau jarang terjadi, kita memang spesifik lemah di gen-gen tertentu. Tapi gaya hidup buruk, mengeksplorasi kelemahan tersebut

Terkonversilah ia menjadi sebuah penyakit. Sayangnya bukan mengkoreksi gaya hidup, biasanya kelemahan si gen ini yang dieksplorasi!

Mungkin Tuhan cuma menertawai sewaktu kita jatuh sakit akibat satu penyakit, dan memohon kesembuhan dengan sikap ini gara-gara Tuhan marah!

Ada yang minum ekstrak kulit manggis, ada yang minum rebusan daun sirsak, tapi yang melakukan mikir gak membatasi minum kopi, teh dan susu?

Pernah pasca makan sop kaki kambing, ditawari teman kapsul lipid-lipidan, “biar gak kolesterol” katanya. Ngomongnya aja udah rancu begitu.

Waktu ditanya, “seberapa sering makan ini?”| “kalau lewat aja”| “lah ini kan rute kantor ke rumah elu?”| dia nyengir aja.. Ha? Setiap hari?

Atau pasca makan duren, ditawari minum ekstrak kulit manggis. “Supaya gulanya gak naik!”. Padahal pas diminum, lah kok rasanya manis juga?

Konsep pemahaman kesehatan itu seharusnya jauh dari kebiasaan yang dilakukan demikian. Toh, kondisi kesehatan masyarakat tidak membaik.

Biarpun sudah ada penemuan ekstrak kulit manggis, herbal daun sirsak, segala macam suplemen kontrol lipid. Problem kesehatan umum masih sama.

Yang namanya kanker, kolesterol tinggi, gula tidak terkontrol, itu sebenarnya kondisi yang tidak terjadi dalam sebulan-dua bulan, sehari-dua.

Tapi akumulasi kesalahan pola hidup yang berlangsung belasan hingga puluhan tahun. Cuma akibat konsep kesehatan salah kaprah, gak ketahuan.

Kita umumnya enteng saja, mengkonsumsi makanan sampah setiap hari, minum substansi yang cuma memberi masalah kesehatan bila dilakukan rutin.

Beberapa malah tersarukan oleh konsep kesehatan, susu pembentuk otot, teh langsing, suplemen awet muda dan lain sebagainya. Terus dikonsumsi.

Saat tubuhnya protes, gak dipedulikan, saat muncul penyakit yang tadi ditakuti di usia tertentu, malah dicari kambing hitam yang ini-itu.

Sehat itu seharusnya berbasis pengamatan perubahan pola hidup yang berbasis jangka panjang. Orientasinya sih gampang aja, gak perlu paranoid.

Kadang tak harus melalui check up kesehatan resmi. Lihat saja, seberapa sering Anda sakit? Kondisi fisik? Kualitas kulit? Vitalitas tubuh?

Jangan ngaku sehat, kalau dikit-dikit minum obat, supaya sekedar bisa normal. Jangan sombong kuat, kalau pagi supaya segar harus minum kopi.

Jangan sombong mengira badan gak ada masalah, kalau orang mengira Anda 10 tahun lebih tua dari usia seharusnya. Kulit mengeriput dan kusam.

Jangan kira badan bebas penyakit, kalau baru naik tangga 3 lantai saja sudah harus mencari tembok untuk bersandar atau kursi untuk duduk.

Hiduplah dengan cermat. Olahraga secukupnya, yang paling penting jaga makan. Seminggu ada 7 hari, cermati selama 5 hari, makan-minumnya!

5 hari makanan kita harus dipenuhi oleh buah-sayuran segar, biji-bijian dan sedikit protein hewani, makan secara benar padu padannya.

5-6 hari seminggu seharusnya kita hanya ekslusif mengkonsumsi air putih. Sukur-sukur dapet yang berkualitas prima. Lupakan cairan yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s