Pola Hidup Sama, Hasilnya Kok Beda?

Erykar @erikarlebang:

Lagi pembicaraan beruntun terkait ‘salah Tuhan’, kenapa si A dan B, dengan pola hidup kurang lebih sama, menghasilkan result berbeda, aneh?

Sehat itu seharusnya berbasis pengamatan perubahan pola hidup yang berbasis jangka panjang. Orientasinya sih gampang aja, gak perlu paranoid.

Kadang tak harus melalui check up kesehatan resmi. Lihat saja, seberapa sering Anda sakit? Kondisi fisik? Kualitas kulit? Vitalitas tubuh?

Semalam kehilangan tante, yang sudah bertindak seperti layaknya ibu kedua bagi saya. Karena kanker yang sudah menyebar kesana-sini.

Sebenarnya kasus beliau mirip dengan kasus ibu saya, tapi beda di penanganan. Ibu saya cepat mengambil keputusan mengubah gaya hidup.

Sebagai seorang ahli kesehatan senior, beliau sudah sering menjadi saksi hidup dari inkapasitas konsep medis konvensional mengatasi kanker.

Beliau tidak ingin jadi ‘korban’ dengan menjalani siklus normal ‘fase makin buruk dari waktu ke waktu’ lewat treatment konvensional kanker.

Itulah sebabnya beliau cepat mengambil keputusan, mengubah pola hidupnya drastis dan menjadi seorang rawfoodist, Alhamdulilah berhasil.

Sekarang komitmen beliau konsisten ke pola hidupnya yang menjadi katalisator seberapa mampu ia membuat sel kanker agar tidak muncul lagi.

Tante saya tidak seberuntung itu. Ia divonis dalam keadaan layaknya penderita kanker kebanyakan minim pengetahuan dan pasrah perintah ‘ahli’.

Apalagi beliau ‘ditemukan’ menderita stadium lanjutan, penyebaran telah terjadi. Belum-belum pun usianya sudah ‘diramalkan’ berhitung bulan.

Yang memilukan adalah melihat beliau menjalani siklus seperti kebanyakan penderita kanker, menjalani proses tanpa daya, memburuk kondisinya.

Tapi pribadi, yang lebih menyakitkan adalah menyaksikan tindakan medis kepada beliau tidak disertai perubahan pola hidup, utama pola makan.

T: “Makannya apa, dok?” | J: “Makan apa saja, yang penting dia mau makan”| “Kasih protein hewani banyak-banyak, supaya jaringan diperbaiki”.

Bahkan kalau sepupu saya, yang sedikit banyak sudah mengetahui apa yang saya sampaikan, protes tentang pemberian susu, pasti sudah diberikan.

Saya gak bisa menjamin juga sih, bahwa susu tidak diberikan dalam taraf lanjutan, kalau melihat kegigihan pihak medisnya menyarankan.

Akibat advis seperti demikian, beliau diberikan makanan-makanan ‘penguat’ sel kanker tersebut hidup dan menyebar, you name it, everything!

Sesuai dengan semangat, “yang penting dia mau makan”, masuklah semua, makanan teroksidasi, protein hewani berat, makanan prosesan, kopi, the.

Makanan bertingkat kemanisan tinggi, turunan tepung pembentuk gula. Bisa dibayangkan betapa bersorak gembira sel kanker menerima itu semua.

‘Kegirangan’ sel kanker itu terkonversi kepada kondisi beliau yang makin buruk dari waktu ke waktu dengan kecepatan tinggi dari waktu vonis.

Sampai semalam akhirnya beliau mangkat. Sesuai ‘ramalan’ ahli kesehatannya, eh ‘meleset sedikit’ sekitar 1 bulan. The winner, cancer cells!

Itu bukan bahasan utama saya, lebih ke sisi illustrasi pembukaan, preambule. Saya lebih tergelitik ke sisi obrolan selama menunggui jenazah.

“Kenapa sepasang suami istri dengan gaya hidup sama, tapi si istri bisa terkena kondisi A, sementara suami tidak?” celetuk kerabat saya.

Pemikiran ini dimulai dari pertanyaan kerabat saya. “Kenapa cuma istrinya yang kena kanker ya? Sementara pola makan dia dan suaminya sama?”

“Berarti secara genetik, kita gak bisa ngapa-ngapain ya? Pasrah aja. Percuma jaga makan, toh kena sakit juga” Sepertinya dia menyindir saya.

Sedihnya lagi, pemahaman beliau ini sebenarnya imbas langsung dari ‘kabut’ yang menyelimuti dunia kesehatan konvensional kita sekarang ini.

Perkembangan dunia kesehatan yang terseret ke arah kuratif ketimbang preventif-promotif, sebenarnya melahirkan masalah baru, bukan solusi.

Konsep mengobati, karena basisnya menunggu penyakit yang muncul lebih dahulu, biasanya pasti sudah terlambat, akhirnya kondisinya memburuk.

Kalau paham basis pemikiran homeostasis, keseimbangan asam-basa, akan paham kenapa pemakaian obat memperburuk kesehatan bukan perbaiki.

Kalau paham kesehatan holistik, dimana tubuh dililhat sebagai kesatuan harmoni, faham kenapa operasi pembuangan ‘organ’ cuma berikan bencana.

Semua kalau orientasinya adalah kualitas kesehatan jangka panjang, bukan cuma sekedar sembuh sembuh sebentar, menderita setelah itu.

Berbasiskan lingkaran setan tindakan kesehatan kompensasi bukan solusi itu. Jawaban ‘ngeles’ paling mudah memang menyalahkan urusan genetik.

Karena yang dituding kan Tuhan. Dimana beliau gak merasa perlu membela diri, jadi aman. Kondisi ini diperparah lagi dengan attitude pasien.

Kondisi sakit itu 99% dipicu oleh gaya hidup. Umumnya bisa gaya hidupnya sendiri, atau gaya hidup orang tua si pemberi warisan.

Mayoritas pasien merasa keberatan kalau gaya hidup mereka dituding jadi penyebab penyakit yang mereka derita. Manusiawi, siapa suka salah?

Nah dua faktor ini bagaikan tutup ketemu botol, saling mendukung. Yang satu gak faham, yang satu gak mau disalahkan. Jadilah sampai hari ini.

Faktor genetika sasaran tembak paling enak. Ujungnya yang salah itu Tuhan. Jadi pasrah saja jalani hidup. Obat, operasi, kemoterapi jalani!

Tapi benarkah genetika itu memang kambing hitam paling bertanggung jawab atas masalah kesehatan kita? Sama sekali tidak! Tuhan tidak salah.

Mari kita berpikir diluar kompleksitas (cenderung pembenaran) dunia kesehatan konvensional. Lihat dari versi paralel dunia tersebut.

Dunia kesehatan naturopati, yang sangat menekankan pada kemampuan tubuh menyembuhkan diri sendiri dengan menyesuaikan harmoni tubuh-alam.

Selalu melihat tubuh dalam kondisi yang terkait dengan semua unsur disekitar kehidupan. Dengan kata lain, pemeliharaan harmoni kehidupan.

Saya akan mengutip pemikiran tiga tokoh, yang walaupun tidak memproklamirkan diri sebagai ahli naturopati, tapi pemikirannya sangat sejalan.

Lucunya mereka adalah tokoh yang sebenarnya berawal dari dunia kesehatan konvensional. Tapi pemahaman lebih jauh membuat mereka sadar.

Dunia kesehatan sebenarnya sangat sederhana. Kesederhanaan itu tertutupi oleh sebuah kompleksitas yang menyesatkan, membuat sehat jadi sulit.

Pertama adalah Profesor Kazuo Murakami (Universitas Vanderbilt, AS – Tsukuba, Jepang) dia ahli genetika terkemuka bahkan terbaik dunia. Walau dia awalnya akademisi fanatik dunia kesehatan konvensional, pada akhirnya ia malah mengkritik konsep kesehatan yang ia kenal. “Dunia kesehatan terlalu asyik dengan detil sehingga lupa keterkaitan, mirip orang meneliti hutan tapi waktunya habis membahas sebuah pohon”. Saat berusaha menguraikan kode genetik enzim ‘renin’ terkait penyebab darah tinggi, yang membawanya mendunia dan didaulat sebagai terhebat, Ia menemukan fenomena menarik terkait potensi gen tubuh manusia yang sebenarnya punya sifat serupa di awal, lalu berkembang sesuai stimulant. Ia menyebutnya sebagai tombol ‘on-off’ pada gen. Stimulan itu berlaku macam-macam, mulai dari hal konkrit hingga abstrak, fisikis-psikologis. Tapi ia sangat tertarik dengan konsep makanan sebagai pengaktif tombol on dan off pada gen. Baginya itu salah satu faktor pemicu dominant. Ia percaya pemeliharaan pola makan adalah kunci dunia kesehatan masa depan. Bila tiba saatnya manusia bahkan mampu memanipulasi kehidupan.

Pemikiran Murakami, disambut Hiromi Shinya MD, mungkin follower lama paham ini orang yang paling sering saya kutip, gastroenterolog ternama. Beliau awalnya adalah seorang dokter ahli sistem cerna konvensional yang cerdas berbakat, namun perjalanan karirnya menemukan hal baru. Ia menemukan pola makan pengaruhi karakter sistem cerna terutama usus besar manusia, dimana kondisi buruk adalah refleksi beragam penyakit. Sayangnya pola makan kebanyakan orang, yang sangat dekat dengan konsep pemanjaan lidah, picu kondisi sistem cerna buruk, dia sebut raut usus. Orang yang rautnya usus buruk, pasti termanifestasi dengan penyakit lain di seluruh penjuru tubuhnya, dalam beragam bentuk, ringan-berat Ini contoh usus besar sehat orang yang menjaga pola makan dan orang yang rutin mengkonsumsi susu (crohn disease) pic.twitter.com/OqtHw6juD5

Image

Bila Murakami masih memperkirakan bahwa pola makan adalah salah satu pengaktif tombol on-off gen, Shinya sudah melihatnya secara konkrit. Lewat rekaman data klinis 370.000 pasiennya yang mewakili hampir seluruh ras manusia di planet bumi ini. Data yang mustahil berbohong. Shinya mengatakan secara genetik memang memungkinkan seseorang spesifik lemah di organ tertentu. Tapi pengaturan pola makan adalah kuncinya. Misal secara genetik paru-paru seseorang lemah, namun dengan pola makan benar, seumur hidup kelemahan genetik tersebut tidak akan terekspose. Namun cukup dengan mengkonsumsi pola makan salah dalam waktu singkat, bisa jadi genetika bawaan problem paru-parunya segera terpicu.

Ingat pertanyaan kerabat saya di awal twit? “Sepasang suami istri mengkonsumsi makanan sama, kenapa yang sakit hanya satu?” Ini jawabannya!

Dua orang melakukan hal yang sama salah, belum tentu konsekuensinya akan sama. Bisa jadi yang satu menerima akibat jauh lebih cepat

Tapi Shinya yakin selain menjaga pola makan baik, merubah pola makan yang buruk ke lebih baik mampu memperbaiki keadaan yang sudah salah. Ini contoh foto usus besar seorang penderita kanker payudara yang ubah pola makannya dan membaik dalam hitungan bulan pic.twitter.com/SvCv1djREa

Image

Mari kita menengok ke paparan teori menarik dari Dr. Edward Howell. Beliau memperkenalkan konsep pemeliharaan ketersediaan enzim dalam tubuh. Enzim adalah katalis, pemrakarsa semua tindakan yang diperlukan oleh tubuh kita untuk bekerja normal. Mulai bernafas sampai mencerna (misal). Penelitian bertahun-tahun Howell, menemukan satu konsep menarik bahwa pada prinsipnya manusia punya cadangan enzym awal sebagai bahan dasar. Ia menyebutnya sebagai ‘enzyme potential’. Tuhan menganugerahi manusia sejumlah enzim awal itu untuk hidup dari lahir hingga meninggal. Jumlah dan efektifitas tubuh kelola enzim awal itu memang berbeda-beda. Terutama efektifitas yang terkait dengan pola hidup dan pola makan. Makin efektif seseorang mengelola cadangan enzimnya, makin panjang usia berkualitas orang tersebut. Cara terbaik kelola adalah pola makan. Howell menemukan orang yang makan unsur kaya enzim mudah serap oleh tubuh, akan terpelihara jumlah enzyme potential-nya. Apa unsur itu? Buah dan sayuran segar yang tidak diproses! Langsung segar dari alam. Ia menemukan panas dalam suhu tertentu merusak hingga mematikan enzyme. Sedangkan rutin mengkonsumsi makanan dipanaskan yang telah kehilangan enzym menghasilkan serangkaian masalah kesehatan signifikan. Laporan Howell akan pola konsumsi makanan nisbi enzim antara lain berangsur menurunnya daya tahan tubuh hingga pembesaran kelenjar pancreas. Selain itu Howell mengungkapkan orang yang daya tahan tubuhnya kuat sebenarnya belum tentu ia sehat secara hakiki bila gaya hidupnya buruk. Bisa jadi tubuhnya boros menghabiskan cadangan enzim sekedar untuk bertahan hidup. Sementara orang sehat justru efisien mempergunakannya.

Itu sebabnya mengapa orang yang mengadopsi pola hidup sehat, sering sekali dilaporkan mudah bereaksi saat makanan buruk masuk dalam tubuh.

Tubuh aktif berusaha peringatkan atau mengurangi pengurasan cadangan enzim awal yang tidak perlu dengan beri rasa sakit atau tidak nyaman

@erikarlebang bener banget om.. sedihnya salah satu temen dokter malahan ngrekomenin jus jambu kemasan untuk yg sakit tipes😦

Ini juga yang menjadi penjelas, mengapa orang yang mengalami gaya hidup sama secara bersamaan, mendapatkan hasil kesehatan yang berbeda

Yang satu bisa jadi memiliki cadangan enzim awal yang jauh lebih banyak dan lebih mudah dihamburkan oleh tubuh. Hingga ia usianya lebih lama

Tapi bukan berarti yang cadangan enzim lebih sedikit kualitas hidupnya lebih buruk, bisa jadi usia pun panjang berkualitas bila ia berhemat

Tapi secara general hukum alam berlaku mutlak, berapapun cadangan enzim, sifat genetik Anda, pola hidup benar akan membuat kesehatan lestari

Kebodohan di level tertinggi adalah mereka yang cadangan enzim lebih sedikit, genetik lemah, tidak mempedulikan perawatan pola hidupnya

Atau yang secara genetik lemah pada konsumsi unsur tertentu, masih bersikeras menjalani hanya karena mengacu resistensi dari orang lain

Astri @astripus: @erikarlebang bener banget om.. sedihnya salah satu temen dokter malahan ngrekomenin jus jambu kemasan untuk yg sakit tipes😦

Rosyi franz thamrin @rosyifranz: @erikarlebang dulu sy jg prnah di vonis kanker pkai obat2 kimia malah parah eh smbuh nya malah pke tumbuh2n n prbaikan pola makan

Asli: http://storify.com/honeyniena/pola-hidup-sama-hasilnya-kok-beda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s