Herbal Atau Farmasi?

http://storify.com/honeyniena/herbal-atau-farmasi 

Ryu Hasan@ryuhasan

Sdh jadi anggapan umum: pengobatan ‘alami’ dg ramuan tumbuhan, herbal, dsb. adlh aman, punya khasiat hebat & tdk seperti obat konvensional.

Di AS thn 2012, konsumen menghabiskan US$ 19,2 milyar utk ‘makanan suplemen’, termasuk US$ 5,2milyar utk produk2 herbal dan tumbuh2an.

Banyak yg tak menyadari bhw banyak (hampir semua) makanan suplemen/ obat2 herbal dipasaran tanpa mencantumkan label peringatan efek samping!

Yang lebih gawat lagi adlh propaganda bhw obat2 herbal dan ramuan tumbuh2an tdk mempunyai efek samping, nampaknya pembodohan ini berhasil!

Keadaan ini benar2 patut disesalkan, karena semua obat, termasuk obat komplementer dan alternatif seperti juga herbal, punya efek samping!

Seorang farmakolog pionir, bernama Paracelsus (1493-1591) dgn bijaksana menulis: “semua obat merupakan racun, yg penting adalah dosisnya”.

Survey di AS, kebanyakan org amerika tidak tahu bahwa klaim dari hampir semua obat2an herbal yg ada di pasaran, tanpa didukung bukti2 ilmiah.

Banyak org menyebut pengobatan herbal sbg ‘pengobatan alamiah’, padahal setiap obat juga diambil dari alam, semua obat adalah ‘alamiah’.

Salah satu perbedaan mendasar antara pengobatan konvensional dg obat2 alternatif/ herbal adalah pada sistem yg menguji efek samping.

Aturannya: Obat konvensional hrs diuji sblm diluncurkan di pasaran, kemudian dipantau ketat setelahnya. Obat2 alternatif/ herbal tdk harus!

Di AS, obat2 alternatif dan herbal tidak menjalani uji pada tahap apapun! Apalagi di Indonesia!

Di AS, obat2 alternatif dan herbal tidak harus menjalani uji pada tahap apapun! Apalagi di Indonesia!

Jadi, data statistik akan tidak mendukung sampeyan kalo sampeyan bergantung pada pengalaman pribadi hanya dari satu praktisi obat herbal.

Sebenarnya ada kesamaan antara obat konvensional dan herbal, keduanya diambil dari produk alam, keduanya memiliki efek baik dan buruk.

Sebagian besar org percaya bhw obat herbal benar2 aman, hal ini dikarenakan pabrik pembuatnya tidak diharuskan mengumumkan efek sampingnya!

Ada beberapa alasan mengapa org mengonsumsi obat alternatif/herbal. Tentu saja alasan2 itulah yg membuat pasar obat ini jadi begitu besar.

Biasanya obat alterrnatif/ herbal tdk dikonsumsi ketika pengobatan konvensional memberi kepastian, contohnya utk penyakit radang usus buntu.

Obat alternatif sering dikonsumsi ketika obat konvensional dianggap tidak memberi kepastian, sprt pada diabetes atau penyakit kronis lain.

Di AS, ±50% org mengonsumsi obat alternatif, ±50% dokter tdk menanyai pasien apkh mrk menggunakan obat alternatif. Di Indonesia sy tdk tahu.

Ada beberapa potensi masalah dengan mengonsumsi ekstrak tumbuhan yg tidak dimurnikan bahan obatnya, seperti pada obat2 herbal…

Pertama, tumbuhan bisa teridentifikasi secara salah atau dikemas secara salah, adalah masalah yg tidak sepele jika terjadi salah obat!

Kedua, ada berbagai bahan aktif dlm satu jenis tanaman dengan kadar berbeda2. Sehingga tidak bisa dikontrol bahan aktif mana yg diperlukan.

Ketiga, bisa saja terdapat beragam kontaminasi, seperti bakteri, virus, jamur, parasit, mikrotoksin, pestisida, logam beracun, dll.

Jadi, keyakinan bahwa obat2 produk2 ‘alami’ sepenuhnya aman, lembut dan tidak berefak samping, jelas2 sebuah kesalahan.

Tembakau & marijuana adlh contoh bahan obat yg dikonsumsi secara ‘alamiah’, apakah obat2 ini tdk berefek buruk? Sampeyan pasti tahu jawabnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s