Ikut Program Diet Langsing? Cek Jangka Panjangnya (Kumpulan 3 Kultwit)

Erykar @erikarlebang

PART I

http://storify.com/honeyniena/ikut-program-diet-langsing-cek-jangka-panjangnya

Mendewakan kalori sebagai pilar utama pola makan sehat? Saya pernah. Dan itu sangat tidak benar! Trust me based on my personal experience.

Dilihat dari ragam sisi, punya pengalaman. Waktu kecil, nenek dideteksi mengidap diabetes, sebagai istri dari dokter yang profesor doctor, jelas dia dapakan fasiltas kesehatan kelas satu. Ibunya dokter pulak (ibu saya) jadi sehari-hari ia diawasi oleh dua orang ahli kesehatan.

Lepas dari penanganan kesehatan lain, makanan sehari-hari nenek saya cermat sekali hitungan kalorinya. Hasil kolaborasi lab dan catering.

Tiap makan ditimbang, gramatur dan kalorinya jelas terjaga. Dan dijalankan disiplin. Lalu beliau membaik? Yang jelas 2 tahun kemudian, wafat.

Ada banyak sih alasannya yang mungkin bisa keluar. Tapi yang pasti penghitungan kalori cermat beliau sama sekali tidak sukses menyelamatkan.

Sisi lain pengalaman saya sebagai anak gym. Hampir dua dekade saya jadi anggota aktif pusat kebugaran. Lewat beberapa level pengetahuan juga.

Pengetauan level pertama saya, ya sama kayak mayoritas penghuni gym sekarang. Otak dipenuhi obsesi kalori, daily protein intake, suplemen.

Mengatur pola hidup layaknya atlet binaragawan pro. Padahal bukan, besarkan volume otot pun tidak. Cuma definisi. Istilahnya body sculpting.

Di fase ‘blo’on’ tentang ilmu kesehatan ini, saya menjalani pola hidup layaknya pelaku gym. Hasilnya? Lumayan! Lihat dari sisi mana dulu?

Otot saya cukup definitif, walau belum bagus-bagus amat. Teknik masih belum canggih, masih nanya-nanya. Tapi di sisi pencapaian fisik ok.

Persentase lemak pernah sangat ideal, sekitar 9,9%. Anda bisa cubit pinggang saya layaknya cubit otot trisep (yang terlatih), minim lemak!

Otot perut? Paling dibanggakan. Kalau di locker, jangan harap pake baju, kemana-mana either pake towel atau celana aja. Gak bisa liat cermin.

Ke kolam renang? Banyakan jalan di pinggir kolam renang ketimbang berenangnya. Pamer! Pokoknya badan ideal! Maklum masih medio kepala 2.

Pola makan? Ini yang konyol! Mengejar logika rendah kalori, lemak dan tinggi protein (1.5-2 gr per kg berat tubuh) makannya blo’on banget.

Saya bisa makan 10-15 butir telur, putihnya aja sehari. Huek! Dalam beragam bentuk, rebus, omelet sampe diblender, rasanya? Jangan deh Tanya.

Karena telur masih kurang. Daily intake protein saya penuhi dari dada ayam kukus, rebus yang dibawa-bawa dalam plastik (muke ijo pas inget).

Minum bergelas susu protein yang harganya selangit, konon 30 gr pure protein, zero calories perserving (mampus gak loh!) + beragam suplemen!

Yang paling top goblognya, saya minum sejenis obat perangsang kerja jantung untuk membakar kalori ekstra saat melakukan cardio session.

Menambah kebodohan lain, saya juga minum semacam air yang disuling via alat khusus, menghilangkan mineral, sehingga sulit tersimpan tubuh.

Semua tujuannya agar definisi otot tubuh terlihat jelas, istilahnya “kering” atau “tajam”. Singkat kata, badan ideal! Pake baju apa aja pas.

Sehat? Nah ini lain cerita! Penyakit lambung yang sudah saya derita semenjak umur 10 tahun kok makin menjadi-jadi! Migraine optik juga ikut.

Daya tahan tubuh? Beuh! Ada orang bersin 10-20 meter dari saya, udah ketakutan setengah mati! Kenapa? Gak lama saya pasti ketularan juga.

Flu? Wow! Hidung tersumbat itu masalah harian, terutama malam dan pagi hari! Pas bangun bersin-bersin, itu sudah dianggap normal sekali.

Fase kedua diet kalori saya terjadi di era medio 2000’an. Kalau sekarang saya agak lebih cerdas sedikit. Sudah tahu #foodcombining soalnya.

Saya tahu susu protein, pemaksaan protein hewani, roti gandum, suplemen ini-itu, adalah substansi yang tidak mendukung kesehatan tubuh.

Kenapa diet kalori? Karena ditantang teman, “bisa gak nurunin persetase lemak dibawah 11% pake #foodcombining?” Plus lagi ada program di gym.

Jadi semua orang berlomba cari rasio penurunan lemak tertinggi. Saya sih gak mungkin menang, karena persentase lemak ada di kisaran 15%.

Kalau rasio yang dihitung, sampai 0% pun gak menang. Bila dibanding dengan yang dari 30% ke 20%. Saya fokus ke tantangan teman saja.

Walau lebih cerdas, mau gak mau saya terpengaruh tetap ke konsep kalori. Menghindari makanan berkalori tinggi, pas kardio membakar kalori.

Latihan sekarang lebih canggih, maklum sudah 1 dekade lebih ngegym, temenan akrab sama instruktur senior sampe atlet binaraga (juga senior).

Saya bisa leluasa pergunakan teknik superset, piramida, sirkuit dll untuk membantu pencapaian persentase lemak. Dan sudah rutin yoga pulak.

Masih pake stimulan jantung juga. Cuma sekarang bukan lagi obat blo’on itu, lebih ke beberapa seruput kopi hitam sebelum kardio. Jangan tiru.

Hasilnya? Persentase lemak saya turun sampe ke angka 10,11%, dalam hitungan gak sampai sebulan. Yeay, menang taruhan! Berat susut 66-67 kg.

Tapi dari sisi kesehatan? Nah! Ini masalah utamanya, walau sudah berusaha #foodcombining, tetep saja asupan buah dan sayur segar berkurang.

Walau fokus ke protein hewani dalam jumlah terbatas serta protein nabati dari biji-bijian di jumlah banyak. Tetap merasa kesehatan menurun.

Kemampuan berpikir saya menurun. Badan ideal, otot bermunculan, tidak sejelas di fase ‘blo’on’ memang (maklum jarak usianya beda) lumayanlah.

Cuma badan ideal, tetap sebatas casing. Processornya mah lemot teteub! Rentan flu, mulai kena sariawan (setelah bertahun gak pernah!).

Kenapa semua itu bisa terjadi? Sederhana, saya memberikan tubuh, kebutuhan yang sebenarnya tidak terlalu bahkan tidak diperlukan olehnya.

Makanan saya tidak sehatkan sistem cerna sama sekali! Walau rendah kalori. While sistem cerna adalah garda depan perawatan-daya tahan tubuh.

Makanan saya tidak mensuplai unsur yang dibutuhkan tubuh secara penuh. Akibatnya tubuh harus gunakan cadangan enzym dan mineral berlebihan.

Makanan rendah kalori, memang tidak menimbun kalori, tapi juga tidak memberi pasokan agar tubuh bisa berfungsi baik, akumulasi buruk.

Agar sekedar tubuh bisa berfungsi normal, cadangan enzym, mineral, vitamin dikuras habis secara tidak efisien. Jangka pendek mungkin bias.

Jangka panjang? Anda tanam bom waktu bagi tubuh. Problem degeneratif, gagal ginjal, liver, kolesterol dan lainnya, tidak dibangun sehari-dua.

Kelaparan akibat rendah kalori juga mengakibakan kerusakan sel, akibat lysosom bergerak mendaur ulang sel sehat, karena sel rusak habis.

Itu sebab banyak penderita kanker, setelah ditelusuri riwayatnya, pernah jalani program diet pelangsingan atau penambahan berat ragam bentuk.

Jadi begitulah. Kalau menjalani program rendah kalori ala anak gym kebanyakan, saya sih gak asal omong, karena pernah menjalani sendiri.

Anak gym kemarin sore sih, bisa aja merasa hebat, paling modern. Tapi percaya deh, ilmu itu kuno yang orientasinya pendek dan salah kaprah.

Teman-teman saya seangkatan yang sekarang badannya ‘meledak’ sih umum. Kena penyakit degeneratif? Banyak! Yang meninggal muda aja, pun ada.

Apapun programnya, cek jangka panjang! Pakai akal sehat! Jangan napsu hasil berorientasi cuma 3-5 tahun, apalagi bulanan, lebih bego lagi.

PART II

http://chirpstory.com/li/168426

Udah hampir 2 dekade hidup dengan komunitas yang diet ketat. Percaya atau nggak, mereka yang badannya stabil sampai hari ini, malah longgar.

Mereka realistis. Tahu kapan harus makan enak dan kapan hidup sehat. Makin ketat dietnya makin gak realistis, biasanya anget-anget tai ayam.

Dan jujur, yang gak punya pemahaman konsep hidup sehat. Biasanya biarpun sukses berdiet ketat, kaget waktu paham badannya ternyata gak sehat.

Banyak yang badannya langsing, berotot, kaget waktu dicek level kolesterol jahatnya ternyata tinggi. Atau mengalami osteoporosis dini.

Jadi ketimbang diet ketat yang kemungkinan gagalnya tinggi, atau sekalinya berhasil ternyata penyakitan, mending adopsi pola makan sehat.

Gimana caranya? Jangan mudah percaya pada konsep makan yang berasumsi sehat satu arah. Mendikte tubuh harus makan ini-itu for ideal looks.

Mending pelajari tubuh secara seksama. Apa yang benar dibutuhkan? Bagaimana cara makan? Kapan waktu makan? Jadi gak mendikte tapi mentaati.

Salah satu ciri khas makan sehat realistis adalah: Anda bisa makan kenyang setiap waktu makan. Tapi tubuh gak menderita dan berat stabil.

@ganiing: iya, dokter langganan, badan langsing, kayaknya sehat ternyata punya penyakit jantung dan kolesterol.

PART III

http://chirpstory.com/li/235539

Ini kerabat dekat saya lucu. Beberapa waktu yang lalu, pagi hari dia mengaku kelaparan, saya belikan jus mangga untuk sarapan, eh ditolak.

“Kata dokter anu (sebut nama dokter diet terkenal) gak boleh makan mangga, gulanya tinggi, bikin gemuk” Saya cuma mendengus, menertawakan.

Saya seperti biasa malas berkomentar, prinsip dalam keseharian. Yang pasti saya sudah mengedukasi tentang pelurusan mitos salah dari buah.

Tapi malam ini saya tertawa terbahak, saat melihat menu makan malam dari kerabat dekat saya ini.. Dia memesan SATE AYAM!!!

Selidik punya selidik, rupanya dokter rujukan beliau mengadopsi pola kawin campur antara diet kalori dan diet tinggi protein. Tipikal sekali.

Gak paham makan sehat itu bagaimana kalau dikaitkan dengan hukum fisiologis tubuh. Taunya cuma “begitulah cara menurunkan berat badan!”

Metode langsing-langsingan ini bakal kelabakan saat bertemu dengan orang kurus yang punya masalah penyakit, kolesterol misalnya. Lah gimana?

Kalau metode diet kalori kawin silang diet tinggi protein itu dilakukan, yang ada orangnya akan tambah kurus dan kolesterolnya makin tinggi.

Atau masalah berat badan terkait masalah kesehatan, seperti abnormalitas kerja thyroid semisal. Diet kawin silang itu akan perburuk keadaan.

Tadi pun sempat iseng mencicipi bumbu sate ayam yang kerabat saya pesan tadi. Astaga, manisnya luar biasa! Tapi kok dengan gula buah takut?

Ini sekali lagi cuma fenomena gunung es dari betapa menyesatkan info simpang siur tentang cara makan sehat. Orientasinya acap menyesatkan.

Pola diet langsing, dianggap sebagai pola makan sehat, lalu beramai-ramai dilakukan. Tanpa faham kondisi benar, orientasi sesaat yang sesat.

Tau-tau nanti jatuh sakit. Pas ditanya kenapa? “Gak tau, ini takdir Tuhan”, “Kayaknya ini genetik deh”… Padahal salahnya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s