Bijak Antibiotik

PART I

Fransisca Handy, @fransiscahandy

http://storify.com/honeyniena/bijak-antibiotik

Pagi! Kemarin @milissehat bareng @mamaperah dan @ID_AyahASI ngobrol soal biar anak gak gampang sakit, intinya soal ASI dan bijak antibiotic.

Jd pingin lagi ngobrol soal Antibiotik soalnya kmrn mefeeet waktunya🙂 saya share bbrp hal keliru ttg indikasi Antibiotik ya..

Antibiotik HANYA dpt membunuh bakteri dan bbrp parasit seperti amuba. Antibiotik TIDAK bisa bunuh virus dan tdk bisa bunuh jamur.

Indikasi Antibiotik atau perlu tidaknya antibiotik ditentukan oleh DIAGNOSIS dan penyebabnya (etiologi).

Ingus/dahak hijau BUKAN indikasi antibiotik Antibiotik. Ingus encer jernih jd kehijauan tdk ada bukti perubahan bakteri. Tertera jelas d dok WHO cough and cold remedies for ARI in young child hal 4.

Batuk diikuti muntah, bukan tanda kegawatan dan bukan indikasi antibiotik juga Antibiotik. Batuk dgn bunyi ‘grok2’ maupun ‘ngik2’ BUKAN indikasi antibiotic.

Tenggorokan merah BUKAN indikasi antibiotic. Radang tenggorok atau faringitis banyak penyebabnya. Virus tersering. Strep throat itu ada cara skoringnya kpn perlu Antibiotik

Demam lebih dari 3 hari BUKAN indikasi antibiotic. Demam tinggi BUKAN indikasi antibiotik. Tinggi rendahnya demam tidak dapat memastikan penyebab demam dan bukan ukuran berat ringan penyakit.

Diare ada darah pasti butuh antibiotik? Tentukan diagnosisnya. Cari dulu penyebabnya!

Karakteristik tertentu dari gejala, baik itu batuk, pilek, demam, diare BUKAN indikasi antibiotic

Yg menentukan perlu tidaknya antibiotik adh DIAGNOSIS dan ETIOLOGInya.

Pneumonia, faringitis krn bakteri streptokokus, otitis media dgn kriteria tertentu, inf sal kencing, disentri amuba adh bbrp yg perlu antibiotic.

Di tubuh kita ada milyaran bakteri baik. Sejak bayi usia 1 minggu, kita sdh penuh dgn bakteri baik. Supaya gak mudah sakit, ini hrs kita jaga.

Bayi ASI saat IMD dan setiap kali menyusui mndapat asupan banyak bakteri baik dari kulit ibu dan bifidus faktor (u/memupuk bakteri baik).

Dgn bijak Antibiotik kita menjaga kolonisasi bakteri baik agar anak tdk sering sakit. Maka ASI perlu ditunjang dg bijak antibiotik agar tujuannya tercapai.

Tapiii… Kalau memang berdasar diagnosis dan etiologinya adlh bakteri, maka perlu antibiotik. Dan konsumsilah sesuai aturan.

Antibiotik harus habis — eits tergantung. Berapa hari perlunya berdasar diagnosisnya? Perlu 7 hari, tp sirupnya 5 hari udah habis, ya beli lagi dong.

Antibiotik diminum 3 x sehari? Hati2, BUKAN sekedar 3x ya… HARUS setiap 8 jam (24 dibagi 3) agar kadar Antibiotik dlm darah stabil.

Kalo ternyata tidak ada indikasi Antibiotik, tp terlanjur minum antibiotik–STOP. Jgn meneruskan hal yg salah. Gak ada musuhnya, bakteri baik yg dibasmi.

Antibiotik udah biasa minum yg “canggih” Amoksilin mah gak mempan!–apa dasarnya? Pilihan hrs lini pertama pedoman or sesuai hasil kultur!

Pilihan Antibiotik sebisa mungkin tepat sasaran alias narrow spectrum, ikut pedoman or hasil kultur. Bukan yg sekedar seluas2nya or secanggih2nya.

Apalagi ya rumor yg seliweran ttg Antibiotik?

Eh iya, mau nambahin soal batuk diikutin muntah — ini mah logis ajah, batuk n muntah di”urus” sama 1 saraf yg sama : nervus phagus namanyah.

Batuk = memindahkan lendir yg campur kotoran, debu, kuman dari saluran napas ke saluran cerna. Oleh saluran cerna ya dikeluarin via pup or muntah.

Irhamna Yaa Rahiim @reratokomukena: kalau anak PJB gimana dok? Kata dokter giginya perlu antibiotik tiap ada tindakan tambal dan cabut.

@fransiscahandy: tergantung jenis &kondisi PJB serta apa tindakan dental-nya ini linknya http://www.nice.org.uk/nicemedia/pdf/cg64niceguidance.pdf … atau http://emedicine.medscape.com/article/1672902-overview …

PART II

http://chirpstory.com/li/152574

FB Monika, @f_monika_b

Ada waktu sebentar sebelum magrib, mau kultwit buku Dr. Paul Offit, Breaking The Antibiotic (AB) Habit #SUA Smart Use of AB http://t.co/lSiINxguFJ

AB

Baru baca 11 halaman buku Breaking the Antibiotic Habit by dr Paul Offit udah ngeri sendiri…

Bakteri, yg saat ini sudah resistent alias kebal terhadap Antibiotik (AB), bakteri ini disebut juga “SuperBugs”.

Saat seorang anak terinfeksi bakteri yang sudah resisten akan beberapa macam AB, maka harus dicari AB jenis lain .

Nah Antibiotik/AB jenis lain ini : Jauh lebih mahal juga terbatas jumlahnya. Kadang AB tsb hanya bisa diberikan via Intravena di RS .

Nah bagaimana kalau tidak ada Antibiotik/AB yang mempan? Ya.. kemungkinan besar penyakit anak tsb tidak bisa disembuhkan😦 .

Nah kenapa timbul bakteri2 yang kebal alias Super Bugs ini? Jawaban utama: Pemakaian AB/Antibiotik YG TIDAK RASIONAL. .

Korbannya paling banyak: anak2. Penyakit2 umum langganan anak2 alias Common problem yang disebabkan virus diobati dengan Antibiotik/AB .

Fakta: Bakteri yang resisten ini ternyata sangat umum ditemukan di negara berkembang (Indonesia termasuk dong yaa) .

Karena, tidak seperti di US, AB/Antibiotik dapat dibeli bebas TANPA RESEP (betapa mudah orang membeli & menkonsumsi Amoxycillin tanpa resep).

Di part 2 saya menulis sedikit soal demam. Banyak orang tua yang heboh kalau anaknya demam.

Memang perlu paham juga tanda2 kegawatdaruratan saat demam, seperti bayi baru lahir yg demam & di usia berapapun kenali tanda-tanda dehidrasi.

Hampir semua makhluk di bumi, tubuhnya dapat membuat demam. Demam adalah bagian dari mekanisme tubuh untuk bertahan hidup .

Karena demam membuat sistem imun tubuh bekerja lebih baik (saat diperlukan seperti saat tubuh diserang/terinfeksi virus dan bakteri).

Nah pertanyaan umum: Perlukan buru2 menurunkan demam? Demam diperlukan untuk melawan infeksi .

Buru2 turunkan demam dengan mengkonsumsi obat penurun demam (acetaminophe, ibuprofen) membuat tubuh makin sulit melawan infeksi.

Penelitian di Baltimore mengenai 2 kelompok anak yg terserang cacar air (chicken pox), 1 kelompok diberi acetaminophen sehari 4x selama 4 hari, sementara kelompok lain tidak diberi obat penurun demam. Hasilnya, kelompok anak yang diberi acetaminophen sembuh lebih lama!

Penelitian lain pada sekelompok orang dewasa di Adelaide yg menderita selesma/common cold (batuk pilek yg umumnya disebut Flu di Indonesia).

Dibagi 4kelompok: diberi acetaminophen, aspirin, ibuprofen, dan tidak diberi penurun demam. Hasilnya sejalan dengan penelitian anak2 sebelumnya.

Semua kelompok yang mengkonsumsi obat penurun demam menderita hidung mampet (pilek) dan batuk lebih lama. .

Kelompok yg mengkonsumsi obat penurun demam ini tidak membuat antibodi atas virus sebanyak kelompok yg tidak mengkonsumsi obat penurun demam.

Sedihnya, menurut Dr. Offit, Anak demam adalah salah satu alasan orang tua membawa anaknya ke dokter .

Setiap 100anak demam yang pergi ke dokter, sekitar 60 anak DIBERI ANTIBIOTIK! (padahal hanya sekitar 10 yang menderita infeksi karena bakteri).

Yuk ah, jadi smart parents, orang tua adalah dokter spesialis anak yang pertama untuk anak.

PART III

Diah S @diahapt

http://storify.com/honeyniena/resisten-antibiotik-semakin-mengancam

Resisten antibiotic semakin mengancam kita, krn penggunaannya yang tidak tepat, kenapa Kemenkes tidak membuat iklan layanan masyarakat tentang antibiotik?

Memang antibiotik obat keras, lambangnya K merah, tidak boleh dibeli bebas, kenyataannya?? Sangat menyedihkan…:((

Kalau BPOM RI bisa membuat edaran ke seluruh apotik2 untuk tidak menjual bebas obat yang merupakan prekursor atau beresiko disalahgunakan, kenapa tidak dengan antibiotik?

Walau sudah dengan lambang K, kenyataan penjualan antibiotik bebas di apotik/toko obat bak kacang goreng, kenapa tidak ada larangan tegas & sanksi nyata??

Nah ini, toko obat kok jual antibiotik, jelas menyalahi aturan, bahaya resistensi ANTIBIOTIK sungguh mengancam kita, masih tidak peduli? Masih anggap antibiotik sebagai obat dewa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s