Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

Erikar Lebang

http://storify.com/honeyniena/mencegah-lebih-baik-daripada-mengobati

Kalau gula darah meningkat, kolesterol menumpuk, seharusnya yang dilakukan adalah mawas diri dan mengkoreksi apa yang salah dijalani.

Sayangnya konsep berpikir seperti ini sudah lama berusaha dijauhkan dari kepala kita, “Sakit itu wajar, kalau muncul ya seharusnya diobati”

Dulu kita masih sering mendengar kalimat mutiara, “Mencegah lebih baik dari mengobati”. Sekarang? Perlahan hilang digerus ragam kepentingan

Seringnya kita sekarang dihujani oleh informasi penemuan obat baru, teknik penanganan penyakit mutakhir, atau paling gak upaya sejenisnya

Padahal tingkat keberhasilan metode itu sebenarnya masih ‘gelap’ untuk beri hakiki. Sering cuma memperpanjang usia (aka penderitaan)

Sembuh sesaat untuk kemudian menemukan lagi bahwa 5-10 tahun kemudian terserang penyakit sama atau turunannya dalam wujud lebih parah

Atau ‘memelarkan’ usia dalam bentuk penderitaan lain, ‘sekedar gak mati’. Hidup dipanjangkan oleh obat seumur hidup atau life support

Semuanya jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan jauh dari mensejahterakan penderita penyakit. Konyolnya ini dianggap hal benar wajar

Sedihnya lagi, ilmu tentang merawat kesehatan dan mencegah penyakit itu perlahan menghilang dari kurikulum kesehatan yang dipelajari serius

Bahkan kemampuan tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri, dikesankan sebagai upaya ‘mimpi di siang bolong’, karena ilmunya dianggap gak ada

Bagai pepatah kuno, “tutup ketemu botol”. Doktrin demikian disukai oleh banyak masyarakat yang senang jalani hidup seenaknya, “toh ada obat”

Hingga saat tubuhnya protes, memberikan alarm dengan mudah flu, menaikkan gula darah, menumpuk kolesterol, semua dijawab dengan jalan instan

“Flu ya minum obat flu. Semakin sering flu, semakin sering minum obatnya”. Peduli setan bila ada organ tubuh lain harus menanggung akibat

“Gula meningkat? Hati-hati kalau konsumsi produk manis. Kurangi saja” That’s it! Peringatan berhenti disana. Paling top, beli produk khusus

Muncul produk gula rendah kalori, ganti pemakaian gula sehari-hari. Yang penting hitungan kalori beres. Koreksi akan kebiasaan hidup? No way

Kolesterol menumpuk? Tenang, bisa diakali! Setiap santap sop kaki kambing, segera siapkan obat peluruh kolesterol. Tinggal minum pasca makan

Jadi kalau dari waktu ke waktu kondisi kesehatan masyarakat makin memburuk. Ya, yang salah bukan Tuhan melemahkan genetika manusia

Percaya gak, saya pernah dengar ahli kesehatan mengeluarkan statement sebodoh itu “Kayaknya Tuhan menciptakan manusia gak sekuat jaman dulu”

Genetika lemah memang ada. Tapi kasusnya sangat jarang. Dan lewat penelitian yang mendalam, perubahan pola hidup terukur mampu mengatasi

Ketimbang bikin industri dan oknumnya makin kaya. Mending sadar diri, cek jadwal makan harian Anda. Kalau merasa penyakitan, ya tahu diri

Atau sombong merasa gak pernah sakit? Sebelum sombong, cek seberapa sering harus minum obat ‘pelumpuh alarm tubuh’? Obat flu, kolesterol?

Bisa juga gak pernah minum obat. Tapi langganan pijat refleksi, akupuntur, terapi listrik, lintah, lebah dll, bukan untuk merawat kesehatan

Tapi untuk melawan penyakit ini-itu yang muncul dan merongrong kesehatan harian. Pola berpikir itu sih sama saja Anda jadi budak obat-obatan

Jangan lupa juga, Edward Howell tentang teori enzym tubuh. “Sebenarnya Anda bukan sehat, tapi memaksa tubuh menguras cadangan enzym”

Karena gaya hidup yang buruk, tubuh bertahan agar sehat dan tidak sakit serta berfungsi normal dengan menguras cadangan enzym seumur hidup

Bisa jadi Anda sehat sekarang, tapi mempertaruhkan kualitas hidup di masa depan. Kualitas hidup ya, bukan urusan ajal dan panjang umur

Ya pokoknya gitu deh. Menjaga pola hidup seharusnya menjadi soko guru kesehatan manusia. Mulainya dari apa yang kita lakukan sehari-hari

Demikian kibulan ini. Suka sukur, gak suka unfollow! Gak follow bawel? Makan aja sop kambing seember dan siapin obat kolesterol satu sekop!

@taring_serigala: kayanya koq hidup tergantung dgn obat

@erikarlebang: Suka gak suka kita diarahkan kayak ini dari dini. Even yang ece’-ece’, sakit lambung.

“Penyakit ini gak ada hubungannya sama makanan kok” Tapi lihat yang ngomong, biasanya bermasalah juga sama menjaga kesehatan.

Buat yang ngomong, “sakit kok takut, mati sih mati aja”. Pernah gak kepikir? Itu kasus jarang loh, orang jatuh sakit sebentar langsung mati.

Banyak yang jatuh sakitnya kapan, menderitanya panjaaang, satu persatu rontok fungsi tubuhnya, baru mati setelah menderita sampai kapan tauk.

Pada saat yang sama, orang-orang terdekat diajak menderita. Terkuras tenaga, waktu dan yang paling sering menyusahkan, sektor keuangan!

Nah kalau nekat hidup asal, merasa berani mati. Coba cek dulu? Berani gak menderita? Jadi buta, lumpuh, sakit berkepanjangan sebelum mati?

Tega gak membuat orang tercinta menderita juga? Sedih, gak bisa konsentrasi kerja, kadang jual ini-itu sampai bangkrut ongkosi yang sakit.

Tidak Ada Penyembuhan Yang Instan

Erikar Lebang, @erikarlebang, 14/5/2014

http://chirpstory.com/li/206196

Foodcombining bisa gak menyembuhkan diabetes?”, “Katanya Yoga bisa ngilangin HNP ya?”, “Kanker harus RawFood baru sembuh?” Hadeuh capek.

Ini pertanyaan umum mampir ke saya seputar masalah kesehatan dan jalan keluarnya. Lagi ini pola berpikir yang bertubrukan secara realita.

Umumnya yang bertanya memiliki mental: “hidup ‘normal’-sakit-diobati-sembuh-hidup seperti biasa lagi”, maunya siklus yang gini-gini aja.

Kalau sakit seputar balita-remaja-usia produktif, siklus ini mungkin masih bisa dilakukan. Di usia senja? You wish! Bahkan kini lebih buruk.

Kini usia 30-an tahun pun, siklus yang diharapkan itu, tidak bisa hadir lagi dengan mudah. Banyak baru usia segitu ‘pengobatan’ gak berkutik.

Nah ini sebenarnya perlihatkan bolongnya konsep dunia kesehatan konvensional yang ada saat ini, sehat itu basisnya bukan sakit baru diobati!

Konsep sakit dulu baru diobati, mungkin bisa jalan normal, bila lingkungan kita berjalan seperti masa lalu. Dimana alam masih pegang control.

Hewan ternak masih dipotong sesuai waktu, bertelur-menyusui sesuai siklus, buah dipetik sesuai musim, tanaman dipanen sejalan masanya.

Orang konsumsi makanan lebih banyak sesuai dengan kebutuhan. Perlu? Ambil dari alam, diproses, dikonsumsi, sisanya dibuang kembali kesana.

Sekarang? Gak lagi kan. Ternak dan panen, ‘dipanen’ bisa sebanyak yang paling memungkinkan. Rekayasa teknologi mungkinkan manipulasi itu.

Supaya efektif, produk alam sebisa mungkin diduplikasi oleh pabrik, diberi penambah rasa, warna menarik dan pengawet agar menarik pembelian.

Gelombang baru konsumsi ini hasilkan dua sisi yang sebenarnya amat sangat merugikan manusia ditinjau dari aspek fisiologis dan psikologis.

Di sisi fisiologis, semua rekayasa yang meningkatkan produk serta pemindahan konsumsi produksi alam ke pabrikan, tentu merusak kesehatan.

Di sisi psikologis, semua rekayasa pemindahan alam mengubah mental ‘proses’ yang sejatinya ada pada manusia, menjadi mental ‘praktis’.

Sekalipun berembel-embel, bebas bakeri, higienis dan diberi tambahan nilai gizi!

Makanan harus siap saji secepat mungkin, gak perlu diproses dari alam. Saat sakit harus secepat mungkin sehat, gak perlu proses penyembuhan.

Pola berpikir ini kian mengkristal dan memang jarang sekali ada yang berusaha memecah kristalisasi itu. Makanya penyakit jadi makin rumit.

Makanya saya selalu malas menanggapi pertanyaan bersifat instan yang disebut di awal tadi. Konsep sehat saya adalah preventif dan supportif!

Anda harus ‘mencegah’ semua masalah kesehatan sebelum itu terjadi. Caranya? Ya dengan ‘merawat’ kesehatan! Secara konsisten!

Kalaupun Anda sudah sakit, lalu sembuh setelah mengadopsi pola makan sehat seperti #Foodcombining #RawFood ya karena tubuh ‘diajak insaf’.

Mungkin tubuh jadi sempat berangsur memperbaiki kondisi, mengusir masalah yang sebelumnya ada. Tapi kalau lalu kembali ke pola hidup lama?

Ya tubuhnya rusak lagi! Nah, sayang sekali, seringnya begini. Makanya kalau ada pertanyaan “Bisa sembuh gak kalau melakukan..” saya diam.

Pertanyaan seperti itu 90% mengarah dan menandakan sang penanya punya mental kuratif yang parah. Setidaknya tidak paham konsep ‘cegah-rawat’.

Menganggap #yoga bisa menyembuhkan sakit punggung HNP semisal. Pasti konsentrasinya hanya pada masalah punggungnya belaka, “kudu diobatin”.

Lupa kalau masalah punggungnya mayoritas lahir akibat postur harian yang buruk. Otot kaki lemah, koordinasi tubuh buruk, postur bungkuk dll.

#Yoga memang bisa memperbaiki itu semua, tapi ada prosesnya! Dan, harus dilakukan benar! Serta, secara umum, prosesnya menyakitkan!.

Konsep ini gak akan masuk di kepala orang yang punya paham mengobati serta sisi psikologis mengarah ke serba ‘instan’. Gak cocok sama sekali.

Mestinya kalau niat mau sehat, ya jalani semua dengan niat ‘beneran mau sehat’. Dijalani benar dulu, serta konsisten, lalu konsekuan.

Dijalani belum memberikan hasil? Kalau baru 1-2 bulan, ya tau diri lah. Even 1-2 tahun sekalipun. Lah merusak tubuhnya sudah tahunan!

Pelajari lagi juklaknya, beneran sudah dilakukan atau sekedar merasa melakukan? Gabung sama komunitas yang bisa memberi petunjuk benar-salah.

Dan mental ‘instan’ yang kadang disertai jiwa kerdil, gak mau ngaku salah, gak mau introspeksi, ya kudu harus ditendang jauh-jauh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s