Kondisi Tubuh dan Sistem Cerna Sesudah Wisata Kuliner

Erykar Lebang, @erikarlebang

http://chirpstory.com/li/177479

Beberapa hari pasca 3 hari wisata kuliner, dimana rem makan agak blong, sampai sekarang tubuh masih menyalakan ‘alarm’-nya.

Padahal sebadung-badungnya saya wisata kuliner, sarapan buah sesuai dengan siklus pagi hari masih saya patuhi, sarapan buah.

Pun masih mengutamakan minum air putih, dan meminimalisir cairan lain masuk dalam tubuh. Setidaknya hal fundamental kesehatan.

Tapi tetap saja, alarm tubuh menyala! Pertama, amandel langsung bereaksi, pertahanan tubuh paling depan ini lalu meradang,

Otomatis dengan meradangnya amandel, sistem pertahanan tubuh lanjutan segera menyiapkan diri. Energi tubuh general diturunkan.

Tubuh saya tidak sekuat biasanya. Kalau Anda terlatih kenali, segera terasa perbedaan level kebugaran tubuh saat alarm nyala.

Kemudian, bisa dilihat dari, maaf, kualitas BAB. Biasanya ‘yang terbuang’ dalam keseharian bersifat lunak, dan mengambang.

Pasca wisata kuliner, dimana banyak makanan tidak sesuai kebutuhan tubuh masuk, kualitas BAB menurun jauh. Langsung tenggelam.

Ini menandakan apa yang dimakan, tidak diserap baik tubuh, karena beberapa hal: format tidak jelas, tidak sesuai kebutuhan.

Miskin serat, sehingga saat masuk dalam usus besar, tempat penampungan akhir, ia benar-benar berbentuk sampah ‘sarat isi’.

Sehingga karakternya berat, tidak mudah untuk didorong keluar dari usus besar, sebagai kotoran oleh tubuh, maka itu tenggelam.

Seharusnya apa yang kita makan, dikunyah halus oleh mulut, diproses lanjutan oleh lambung, lalu diserap disepanjang usus.

Usus dua belas jari dan usus halus akan maksimal menyerap semua yang bisa diambil dari makanan yang lewat, sebelum dibuang.

Mereka akan menyerap semua yang ‘layak serap’. Makin bagus yang masuk, makin banyak yang bisa diserap. Makin buruk? Kebalikan.

Karakter kotoran yang dilanjut disimpan di usus besar, seharusnya murni berupa kotoran tanpa guna dan minim isi, penuh serat.

Sehingga ia bersifat ringan, mudah sekali dikeluarkan dari tubuh. Pun tidak mengotori dengan ‘nyangkut’ di dinding usus besar.

Itu sebab, BAB yang baik, saat ia keluar, akan bersifat lunak, tidak keras atau terlalu cair, mengambang begitu terkena air.

Nah, ini kan saya terjadi pasca 3 hari wisata kuliner, kebayang gak sih, bagaimana kalau sehari-hari makannya konstan ngawur?.

Means usus 12 jari dan usus halus harus menyerap unsur yang bisa dipakai tubuh dari kualitas makanan kelas ‘sampah’, useless.

Apa yang diserap oleh usus itu yang nanti akan menjadi bahan dasar pembentuk sel tubuh serta menjalankan fungsi serta system.

Kalau bahannya bagus, otomatis semua bagus. Kalau bahannya sampah? Ya selnya jadi buruk, sistemnya kacau, organ rusak perlahan

Jadi kalau yang protes, pasca melakukan pola hidup sehat, tubuhnya kok mudah protes kalau makan ngaco? Harusnya bersyukur.

Paling gak alarm tubuhnya berfungsi sempurna. Jadi gak membiarkan tubuhnya rusak perlahan tanpa disadari, tahu-tahu mogok aja.

Demikian kibulan pagi ini. Suka? Sukur! Gak suka? Sebodo! Unfollow lah! Gak follow bawel? BAB tenggelam? Coba beliin pelampung biar ngambang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s