Kalori VS Enzim

http://chirpstory.com/li/181054

Erykar Lebang, @erikarlebang

@RozalinaZ: tentang porsi dinner Mas, berapa yg aman? Mending karbo apa protein?

@erikarlebang: Porsi, tubuh yang tentukan. Makin berkualitas makanan, makin tertib, makin cepat kenyang.

@SehatBergaransi: @erikarlebang @RozalinaZ dilihat dulu BMRnya, kebutuhan kalori tiap orang brbeda, laki2 max 1500-2000 wanita 1200-1500 nasi campur 600.

@erikarlebang: Yah, kalori lagi kalori lagi Manusia sudah mendarat ke bulan, ini mah sama aja nyuruh balik lagi ke kolong tempat tidur.

@RozalinaZ: @SehatBergaransi iya niih mas @erikarlebang , aku bingung kok ke kalori lagi… Pfffftttt (-__- ! )

@erikarlebang: Kesalahan terbesar berlarut ilmu gizi konvensional, Dok.. Menilai makanan berdasar kalori, bukan kualitas.

Penderita diabetes yang makannya dihitung kalori ketat, ada gak yang jadi sembuh? Gula darah kembali normal tanpa bantuan obat? Gak ada tuh.

Pelaku #Foodcombining yang makannya gak pake ngitung kalori. Tapi cermat amati apa yang dia makan? Banyak yang ‘lepas’ dari masalah diabetes.

Makanan itu harusnya menunjang kebutuhan hidup. Salah satu faktor yang terlupa untuk menunjang hidup adalah keberadaan Enzym.

Hitungan kalori yang rumit, tidak menggambarkan ketersediaan enzym dalam makanan. Padahal makanan tanpa enzym, makanan minim guna bagi tubuh.

Makanan pabrikan bisa dipastikan minus enzym. Berita buruk lainnya adalah, proses mematikan enzym, biasanya juga merusak mineral, vitamin.

Akhirnya zat gizi tersebut terpaksa ‘disuntikkan’ kedalam makanan dalam bentuk buatan. Apakah sama efeknya ke tubuh, jelas tidak!

Nah jeleknya lagi, makanan rendah manfaat itu, bisa dibuat rendah kalori. Dari sini tergambar betapa makanan rendah kalori bukan katalisator.

Percuma mengkonsumsi makanan rendah kalori, kalau dalam tubuh ia tidak membantu metabolisme. Dan ini umum sekali terjadi, sangat umum malah.

Itu sebabnya penderita penyakit degeneratif, diabetes, jantung, ginjal, liver dan sebagainya, seperti terjebak menjadi budak obat-obatan.

Karena apa yang dimakan tidak membantu proses penyembuhan mereka. Malah seringkali menjadi beban. Terpaksa keberadaan obat diperlukan disini.

Lahirlah faham, “Diabetes itu tidak bisa sembuh, tapi bisa dikendalikan”, “Gagal ginjal harus membatasi minum dan makan buah-sayur” semisal.

Pomeo populer seperti itu tadi, kita tahu, tidak menghasilkan perbaikan apa-apa. Yang ada orang sakit demikian, cuma bisa ‘menunggu waktu’.

Basisnya, karena makan cuma dihitung kalori, bukan kualitas makan, apa, bagaimana dan kapan? Keberdayaan menjaga kesehatan mandiri hilang.

Demikian kibulan siang ini. Suka sukur, gak suka unfollow. Gak follow rese? Makan hitung kalori? Coba telen kalkulator, supaya jago ngitung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s