Obat Pencegah Penyakit?

By Erykar Lebang, @erikarlebang

PART I

http://chirpstory.com/li/183416

Ini pesan tersirat obat flu yang diminum supaya gak terserang selama musim hujan, benar-benar edukasi yang menyesatkan.

Edukasi seperti ini menyuburkan pemikiran di masyarakat bahwa segala sesuatu itu bisa diselesaikan dengan obat. Bahkan di level pencegahan.

Upaya sistematis menghilangkan logika sederhana “obat itu sejatinya adalah ‘racun’ bagi tubuh”. Saat edukasi obat masuk wilayah pencegahan.

Konsumsi obat sebanyak mungkin, supaya Anda tidak jatuh sakit, benar membuat masyarakat terlena dan makin terkaburkan dari hidup sehat.

Konsumsi obat berkepanjangan membuat organ tubuh spesifik seperti liver miliki beban ekstra. Obat seharusnya dipakai secara proporsional.

Sering sekali obat yang seharusnya dikonsumsi hanya pada saatnya, dipergunakan dini untuk mematikan fungsi alarm tubuh yang sedang bekerja.

Atau malah ‘melumpuhkan’ sistem pertahanan tubuh yang sedang bekerja untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Ini akan buruk di masa depan.

Kesehatan itu primernya ada di pencegahan, sekundernya perawatan. Baru tersiernya ada di pengobatan. Sayangnya sekarang urutan itu terbalik.

Malah yang tersier diajukan sebagai peringkat pertama penanganan masalah kesehatan. Gak peduli bahwa sembuhnya cuma gejala semu, bom waktu.

Obat seharusnya langkah darurat saat diperlukan. Obat bukan masuk wilayah preventif, pencegahan. Obat adalah tindakan kuratif, penyembuhan.

PART II

http://chirpstory.com/li/240268

Yak kultwit pemakaian obat lagi nih, temen lagi cerita tentang frustasi temannya yang divonis kanker lagi, setelah ‘sembuh’ sekian waktu.

Rekan dari teman ini dulunya penderita kanker nasofaring, kemudian setelah menjalani terapi yang melelahkan dari segala sektor, dia ‘sembuh’.

Untuk bisa sampai titik kata sembuh bertanda kutip tadi, rekan teman saya ini sudah melalui fase yang menurut dia “amit-amit banget deh”.

Dia ‘setengah mati’ berusaha menjaga pola hidupnya, supaya kanker itu terjauhi dan gak kembali. Kelewat hati-hati kalau kata beberapa teman.

Bisa kebayang betapa frustasinya dia, saat cek kesehatan rutin, ditengarai sel kanker kembali muncul, kini di tulangnya. Dunia serasa kiamat.

Dia bingung mau marah ke siapa? Tim dokternya? Keluarganya? Teman? Ujung-ujungnya sih Tuhan, “kenapa saya?” lalu keluarga, di sisi genetika.

Teman saya ini lalu menanyakan pada saya kondisi ini kenapa bisa terjadi? Jawaban saya sederhana, rekonstruksi ulang gaya hidupnya.

“Tapi dia udah jaga hidupnya banget, gak pernah makan yang aneh, malah sekarang strict banget” kata teman saya. Bisa jadi itu masalahnya.

Apa yang mau dijaga? Apa yang harus dikonsumsi? Apa yang harus dihindari? Ini yang gelap dalam hidup penderita kanker. Teman saya terdiam.

Selama dia jaga makan, apa yang sudah dilakukan? Teman saya langsung nyerocos detil, “dia cuma makan rebus-rebusan, gak makan junk food”.

“Gak makan nasi lagi, diganti kentang sama roti” *mau ketawa pas denger* “dia rutin konsumsi obat yang disuruh dan herbal buat cegah kanker”.

Well kalau bicara pola makan mungkin followers saya udah ngelotok kali ya? Mau di sisi kanker atau sekedar dalam menjalani keseharian.

Saya mau bahas dari sisi pemakaian obat yang dianggap bisa mencegah kanker. Sejatinya obat adalah ‘racun’ bagi tubuh, itu poin penting awal.

Semakin kuat obatnya, di sisi lain semakin kuat juga efek merusaknya bagi tubuh. Makanya mengkonsumsi obat, bagi dokter baik, gak sembarang.

Biasanya dokter yang baik akan cermat memperhatikan pemberian obat bagi pasien, sebisa mungkin jumlahnya sedikit, agar tidak kontradiktif.

Salah seorang sahabat saya, kini menjadi pakar kesehatan gara-gara suaminya kena problem liver, diberi obat bejibun untuk atasi masalah itu.

Logika dasarnya mengingatkan, “saat obat masuk, liver itu kerja keras, lah kok ini sudah livernya bermasalah, malah obatnya ditambah?”.

Dia hentikan obat itu semua, sambil di sisi lain ia mempelajari pola makan sehat dan logika kerja tubuh. Walhasil suaminya sehat bugar lagi.

Nah kembali ke masalah kanker ini, rasa frustasi rekan teman saya sebenarnya bisa diantisipasi kalau dia tau logika dasar lain dari kanker.

Dr. Otto Heinrich Warburg dalam temuannya yang diganjar nobel tahun 31, dapatkan satu poin penting terkait kanker, sangat penting sebenarnya.

“Dari sisi PH, sel kanker itu memiliki sifat asam, sementara sel sehat punya sifat basa”. Di samping makanan, terkait obat, ini kena banget.

Kembali ke hukum dasar, “obat sejatinya adalah racun”, secara alamiah tubuh akan menyikapi obat sebagai pembentuk PH darah yang juga asam.

Konsumsi obat berkepanjangan akan membuat karakter PH darah tubuh cenderung asam, tubuh mati-matian jaga supaya PH-nya netral (Homeostasis).

Jadi kalau sang rekan teman ini berusaha mencegah kankernya dengan rutin konsumsi obat, mau normal, mau herbal, sebenarnya kontraproduktif.

Mau iming-iming obatnya sehebat apapun, sekuat apapun, secara hal yang lebih fundamental, PH darah tubuhnya jadi bergerak ke titik asam.

Bila itu terjadi, otomatis sifat sel tubuhnya juga akan ada dalam kecenderungan yang sama. Sel kanker mudah sekali hidup berkembang disana.

Inget aja Prof. Kazuo Murakami, ahli genetika dunia, “Sel kanker itu potensinya ada di semua sel, tinggal saklarnya aja di-on atau off?”.

Nah sangat masuk akal bila konsumsi obat berkepanjangan, ya masuk dalam kategori meng-on-kan saklar kanker dalam sel tubuh manusia.

Kenapa kita terbiasa minum obat untuk mengatasi masalah penyakit? Karena dari kecil, kita dididik untuk begitu dalam menjaga kesehatan.

“Saat flu, minum obat pilek”, “Saat batuk, ya obat batuk”, “Sakit lambung, minum antasida”. Begitu doktrinnya. Merawat kesehatan=minum obat.

Jarang sekali ada informasi bahwa minum obat itu memiliki resiko jangka panjang. Dalam beberapa kasus bahkan jangka pendek sudah terasa.

Ada gak yang pernah cerita minum antasida untuk mencegah asam lambung berlebih itu punya efek menakutkan secara jangka panjang? Gak ada.

Buktinya antasida ada dalam level atas daftar obat paling laku sepanjang jaman. Gak ada yang cerita efek membasakan lambung semena-mena apa?

Mulai dari terganggunya serapan mineral penting, rusaknya harmoni dalam lambung, mudah terkikisnya membran pelindung dan masih banyak lagi.

Gak ada juga yang sadar, bahwa minum obat antasida berkepanjangan itu gak pernah benar-benar menyembuhkan sakit lambung, dianggap normal.

Kalau pun nanti lambungnya berluka permanen yang parah hingga jadi kanker, tulangnya osteoporosis, apa pernah ada tinjauan kebiasaan ini?

Jarang sekali! Biasanya langsung nembak, penyebabnya apa? Paling sering sih genetik. Paling gampang nyalahin Tuhan, karena gak pernah protes.

Edukasi pemakaian obat yang tepat, itu kunci kalau mau sehat. Prioritas utama, jaga kesehatan. Pergunakan logika bodoh ini, jaga rumah Anda.

Jangan sampai kebakaran. Kalaupun kena musibah, walau kecil kemungkinan, saat terjadi baru panggil pemadam kebakaran, siram tuh rumah.

Jangan untuk mencegah kebakaran, rumahnya sering-sering disiram sama mobil pemadam kebakaran. Penghuni rumahnya pilek melulu, yang ada.

Pergunakan obat sebagai jalan keluar darurat. Di awal jagalah pola hidup, jaga pola makan. Tapi jangan asal jaga, cari cara yang benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s