Benarkah Makan Protein Hewani Membuat Stamina Kita Jadi Kuat?

By Erikar Lebang via Twitternya @erikarlebang

http://chirpstory.com/li/187052

Kemarin ngegym, bersantai di lounge, duduk sebelahan dengan satu Personal Trainer (kayaknya) junior serta seorang bapak-bapak agak ndut.

Musik lounge yang biasa jedang-jedung kali ini musiknya soft, jadi pembicaraan antara PT dan kliennya itu terdengar cukup jelas. Ampun deh.

Saya sudah 2 dekade ada di dunia gym ini. Segala macam dinamikanya sudah saya alami. Ilmu gizi ngaco memang banyak dimulai dari gym, aslik!

Materi pembicaraan PT dan kliennya ini pas jadi contoh itu. “Pak, makan protein hewani banyakin aja, karbohidrat dikurangin, nasi, mie dll”.

“Makan protein hewani itu bikin stamina kita jadi kuat dan otot terbentuknya gampang. Karbohidrat kebanyakan gak jadi apa-apa, lemak doang”.

“Kalau malem gak usah makan, minum aja protein shake, langsung tidur. Berat cepet turun dan ototnya jadi besar deh”. Hadeuh ampun kaka’..

PT-PT ini sering banget ngaku jadi ahli gizi cuma bermodal sedikit pengetahuan tentang pola hidup yang sebenarnya ditujukan bagi binaragawan.

Gak aneh kalau mereka enteng aja menejejali kliennya dengan protein hewani dengan logika “protein membentuk otot!” Efek samping? Emang ada?

Dulu pernah ada PT yang kenal saya dari gurunya bertanya, “Makan protein memang efek negatifnya apa? Kan gak jadi lemak?” #eaaa

Mungkin PT muda ini harus belajar lebih jauh tentang kaitan ilmu gizi dan fisiologi manusia. Bukan cuma sekedar ‘asumsi menjejalkan protein’.

Kalau mereka baca buku kesehatan praktis terkait ilmu naturopati semisal yang sekarang banyak beredar, pasti menyesal mendoktrin salah.

Terkait masalah stamina semisal, PT yang pembicaraannya saya dengar di awal, pasti malu kalau tahu sejatinya protein hewani itu sulit cerna.

Protein hewani harus dipecah tubuh dalam bentuk asam amino essensial agar sesuai kebutuhan. Proses pemecahannya amat rumit dan memberatkan.

Asam amino tadi harus dirangkai ulang, mirip mainan rakitan, baru bisa berguna. Karena rumit, proses perangkaian ini rentan sekali cacat.

Bahan baku cacat ini bila dipergunakan untuk membangun sel, berpotensi menghasilkan sel yang juga cacat tidak sempurna. Dipenuhi ‘sampah’.

Dari fakta ini aja udah ketauan omongan si PT muda tadi tulalit. Gimana mau berstamina, kalau sistem cernanya kelelahan memproses protein?

Tubuh bisa jadi berotot, tapi kalau basisnya adalah sel-sel cacat? Sama aja handphone yang casingnya keren tapi tiap 5 menit hang melulu.

Fenomena menarik terkait stamina bisa dikutip dari catatan riset Dr. Von Berg tentang penarik rickshaw di Jepang puluhan tahun yang lalu.

Dia bepergian naik kereta kuda ke satu daerah berjarak 100 km. Waktu tempuh 14 jam dan harus berganti kuda 6 kali. Lama? Normal saat itu.

Yang mengejutkan dia, temannya yang berangkat tidak lama berbeda. Sampai hanya berjarak 30 menit. Dan naik rickshaw, kereta ditarik manusia!

Mengejutkan Dr. Van Berg, karena penarik rickshawnya masih orang yang sama dengan yang berangkat berbarengan dia dulu! Kuda aja ganti!

Semenjak saat itu Dr. Van Berg terobsesi meneliti stamina luar biasa para penarik rickshaw. Memang mengagumkan sekali! Ia teliti makanannya.

Ternyata para penarik rickshaw punya menu khas, nasi, barley (jewawut), ubi millet (jelai), dan umbi bakung. Dia terkejut, tanpa hewani?

Logika gizi Dr. Van Berg masih terikat pada pola pikir masa lalu (masa itu tentu), “tanpa daging saja kuat begini, bagaimana kalau diberi?”

Ia lalu meriset dengan mengambil dua penarik rickshaw berkekuatan sama. Satu diberi menu harian biasa. Satu lagi diubah menjadi penuh daging.

Rickshawnya diberi beban 80 kg! Dan dilihat seberapa lama mereka bisa menempuh jarak jauh tanpa istirahat dalam waktu yang lama.

Hasilnya benar-benar mengejutkan Dr. Van Berg!

Penarik rickshaw bermenu khas mereka: nasi merah, ubi, umbi dan lainnya yang tergolong makanan murah, sanggup ‘menarik’ 3 minggu berturut.

Sementara penarik rickshaw yang diberi menu sarat protein hewani, setelah ‘menarik’ sepanjang 3 hari, sudah tidak sanggup lagi lalu menyerah.

Dari catatan Dr. Von Berg kita bisa melihat fakta, konsumsi protein hewani sama sekali tidak tersambung dengan logika meningkatkan stamina.

Masih menganggap temuan Dr. Von Berg tentang protein hewani itu lemah? Mari lihat temuan kamera kolonoskopi Dr. Shinya atas 370.000 manusia.

Orang yang mengkonsumsi buah-sayuran segar, biji-bijian secara dominan sehari-hari memiliki usus besar sehat sempurna http://t.co/7qD8APyZDc

Image

Sementara mereka yang rutin mengkonsumsi protein hewani menghasilkan karakter usus besar buruk http://t.co/OBDMqyrUa7

Image

Karakter usus besar yang buruk identik dengan kondisi tubuh yang tidak sehat. Ini contoh usus besar penderita kanker http://t.co/z0kgiZW2Lu

Image

Pelajari data dan temuan fakta tersebut. Memang bisa dibilang baru sekedar hipotesa, tapi itu hal nyata. Ilmu kesehatan real harus aplikatif.

Abaikan sesuatu yang faktual hanya berbasis “belum ada penelitian resmi”, sama saja mengacuhkan signal yang diberi Tuhan berbasis birokrasi.

Bukan berarti gak boleh makan protein hewani. Makan saja sesekali, tempatkan dalam konteks rekreasional, nikmati tiap mengkonsumsinya.

Tapi bukan dalam kapasitas menjadi katalis hidup sehat. Apalagi bila isu “meningkatkan stamina dan membentuk otot” menjadi priotitas utama.

Apa artinya tubuh atletis berotot kalau cuma tampilan luar? Dalamnya rapuh penyakitan? Pun berpotensi menghasilkan penyakit berat masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s