Konsep ‘Meninggal Mendadak’ Sepertinya Harus Direvisi Ulang

By Erikar Lebang via Twitternya @erikarlebang

http://chirpstory.com/li/185583

Dicurhati teman yang mengenang ayahnya yang wafat mendadak karena sakit jantung. Padahal selama ini sehat-sehat aja. Benarkah sehat?

Seingat saya, dan menurut cerita teman saya juga, mendiang ayahnya mungkin terlihat sehat. Tapi kalau gaya hidup dan fisiknya sih tidak.

Dia penikmat kuliner, gak ada waktu berolahraga, dan walau family man, tapi tempramennya mudah naik turun bahkan pada keluarganya sendiri.

Itu kan sebenarnya signal-signal kecil yang menunjukkan pemilik badan sebenarnya ada di zona yang tidak aman untuk kualitas kesehatan.

Balik ke statement teman saya tadi. Apa benar “selama ini sehat-sehat saja?”. Bahas dari sisi umum saja ya, biar aman. Seringnya tidak lho.

Tubuh acapkali memberikan tanda peringatan kecil berkali-kali, sebagai alarm pemilik tubuh bahwa “ada sesuatu yang salah” How? Banyak cara.

Dada yang sering berdebar tanpa sebab, pusing muncul secara frekuentif, daya tahan tubuh lemah, mudah flu, energi tubuh mudah naik-turun.

Banyak lah pokoknya. Dari yang muncul jarang sampai yang munculnya sering. Problemnya, alarm ini disikapi benar-tidakkah oleh pemilik tubuh?

Seringnya tidak. Kenapa? Karena obat yang ‘mematikan alarm tubuh’ itu mudah didapat. Bahkan pergi berobat pun, sering solusinya hal sama.

Mematikan alarm tubuh, itu solusi instan tercepat untuk mengatasi masalah. Mirip dengan menyapu debu ke bawah karpet, gak keliatan, bersih!

Nah orang yang dikatakan sehat, kok tau-tau meninggal mendadak? Ini keseharian mematikan alarmnya tidak pernah diperhatikan orang sekitarnya.

Pusing? Minum obat sakit kepala segala rupa. Batuk? Ya obat batuk dong! Sakit lambung? Sama, obat ah! Semua sakit diperlakukan seperti itu.

Bahkan sampai debar jantung yang tidak keru-keruan pun jalan keluarnya adalah darahnya diencerkan atau tekanan darah tinggi distabilkan.

Logika bodohnya, rumah yang bolak-balik ‘alarm nyala’ tidak dipedulikan. Suatu saat akan habis riwayatnya waktu disatroni maling!

Alarm tubuh ‘nyala’ lalu dimatikan, jangan heran kalau mendadak tubuhnya protes dengan sekalian semua fungsinya ikut sekalian ‘dimatikan’.

Maka dari itu, lebih sensitif menghadapi tubuh. Perhatikan saat ‘alarm’ bekerja. Sebah pasca makan? Itu alarm, makanan gak disuka tubuh.

Jantung berdebar, mudah pusing, perhatikan penyebabnya. Bila ia muncul pasca melakukan sesuatu, hindari hal tersebut. Setidaknya tidak rutin.

Tapi bila tidak ada pemicu langsung. Perhatikan kebiasaan Anda. Kopi dan teh semisal. Bila Anda rutin mengkonsumsinya, berhati-hatilah.

Kalau pemicu blo’on kayak rokok atau minuman beralkohol, ya gak usah dibahas ya, itu ketauan emang niat ngerusak badan berbasis kesenangan.

Ribet amat ya sama badan? Hidup kok gak nikmat? Dimana-mana kalau sayang sesuatu, bukannya kita harus ribet (cermat) dalam menjaganya?

Punya mobil kesayangan misal, pasti dijaga baik-baik kan? Dicuci, servis rutin, dipoles. Bahkan ada yang rela jalan kaki kalau becek. Ribet?

Mosok badan sendiri yang faktor sehat adalah katalisator utama kualitas hidup gak mau dirawat? Gak mau ribet? Mau tunggu semua hilang?

Jadi kalau alarm kecil nyala sering, ya sadar diri aja. Lihat-lihat pemicu. Cek-cek ombak kebiasaan buruk Anda. Jauhi atau hentikan sekalian.

Kalau alarm besar sudah nyala? Mendadak black out, pingsan, stroke, serangan jantung atau apa deh? Ya lebih tahu diri lah, koreksi is a must.

Jadi konsep ‘meninggal mendadak’ kayaknya harus direvisi ulang. Apalagi kalau tersirat ada nada menyalahkan Tuhan di dalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s