Makanan ‘Berkhasiat’ Membuat Orang Jadi Salah Kaprah

Erikar Lebang, @erikarlebang 06/Dec/2013

http://chirpstory.com/li/175297

“Banyak penyakit dikira sebagai tidak tersembuhkan, padahal cuma karena belum ada obatnya” – Dr. Hwang Sung-Joo.

Pola berpikir bahwa makanan itu berkhasiat mengandung ini-itu, umumnya membuat orang menjadi salah kaprah dalam memandang makanan.

Akibatnya bahan makanan dilihat layaknya seperti kita melihat obat. Bukan sebagai pemenuhan kebutuhan tubuh, tapi didiktekan sembarang.

Padahal pola berpikir obat itu rumit bila disandingkan dengan makanan. Dalam dunia farmakologi berlaku banyak aturan, dosis, berat dll.

Infltrasi obat terhadap tubuh juga tergolong cepat dan diharap memberi efek instan. Nah pola pikir ini rancu bila dikaitkan ke makan.

Makanan dimakan dengan berbagai tujuan, energi, substansi pelangsung sistem, perawatan organ dan lain sebagainya, ada skala prioritas.

Bisa jadi dalam satu makanan terlimpah satu unsur berguna untuk tubuh yang sedang dihadapi masalah, tapi jangan dilupa, cara tubuh mencerna.

Orang yang menderita osteoporosis semisal, mengira bahwa ia perlu kalsium dalam jumlah banyak, didapat info bahwa susu berlimpah kalsium.

Segera ia minum susu banyak-banyak, berharap tulangnya menguat. Tapi apa lacur? Tulangnya makin keropos, kenapa? Nah ini masalahnya.

Kenapa? Salah satunya, kalsium susu, tidak dilengkapi mineral pendamping, agar ia bisa diserap tubuh dengan baik, magnesium yang cukup.

Bukannya terserap tulang dengan baik, kalsium susu malah mengacaukan keseimbangan darah, padahal untuk menjaganya netral diperlukan kalsium.

Terpaksa tubuh melepas cadangan kalsium dalam tulang agar keseimbangan darah kembali normal. Walhasil tulang tambah keropos.

Contoh lain, semisal sirsak, yang diketahui mengandung unsur polifenol tinggi, sebagai antioksidan penekan radikal bebas pemicu kanker.

Segera orang berlomba mengkonsumsi sirsak untuk mencegah dan menyembuhkan kanker. Tapi ya gitu, sembarang aja mengkonsumsinya, asal sirsak.

Apa lacur, sirsak dibuat selai saja dianggap berkhasiat menghancurkan sel kanker! Padahal sebaliknya yang terjadi. Pemakaian gula semisal.

Polifenol yang cuma 1.53 mg per 100 gram sirsak jelas tidak akan sebanding dengan efek ‘merusak’ pemakaian gula pada proses pembuatan selai.

Sementara kita tahu, sel kanker amat terhidupi dengan asupan gula dari pemilik tubuh. Makin tinggi dia makin suka, mudah berkembang biak.

Disini kita belum bicara proses pemanasan, pengemasan, pemberian pengawet pembuatan selai sirsak. Yang berpotensi oksidasi & karsinogenik.

Itu contoh kecil, betapa riskannya mencampur adukkan konsep kuratif dari pengobatan dan makanan. Mudah terjadi bias dan kerancuan disana.

Makan sehat memang memberi kesehatan dan kesembuhan yang jauh lebih dahsyat serta permanen dari pengobatan, tapi ada syarat harus dipatuhi.

Jadikan makan sehat bagian dari pola hidup yang konsisten seumur hidup. Dan makan sehat mengacu pada kemauan tubuh, bukan malah dibalik.

Bikin penutup kultwit lama-lama lebih stress daripada kultwitnya sendiri nih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s