Buah Itu Anugerah! (Kumpulan 6 Kultwit)

PART I

Erikar Lebang, @erikarlebang, 08/5/2014

http://chirpstory.com/li/205240

@maywibs: Need pencerahan, baru baca info katanya gula dr buah (fructose) itu bahaya klo byk, buah makan sdkt aja gk perlu sering…lho?

@erikarlebang: *prihatin*

Nanti deh saya buat kultwit tentang buah segar, mulai merisaukan sepertinya

Buah! Apakah benar menakutkan? Apakah benar dia berbahaya? Mari kita luruskan dalam bahasa jelas dan sederhana, agar banyak yang bisa paham

Benarkah demikian? Sebaiknya kita fokuskan pandangan pada hal yang lebih jadi pangkal biang keladi masalah, dibeberkan lebih jelas, “gula!”

Gula, adalah salah satu bentuk hidrat arang. Identik rasa manis, berantai pendek, dan terkait dengan pemakaian daam makanan-minuman

Gula terbagi dalam dua jenis bentuk monosakarida (gula tunggal) dan disakarida (gula ganda). Yang tunggal lebih egois, yang ganda gak #Eh

Ngawur!

Sebelum berumit ria dan memusingkan, mari kembali ke “Erikar style”, bicara dengan ‘bahasa bodoh’, agar sesuatu yang rumit jadi terasa mudah

Monosakarida, bisa disederhanakan sebagai contoh dari gula dalam bentuk sederhana. Apa saja contoh umumnya? Fruktosa (gula buah) dan glukosa

Disakarida secara sederhana tentu bisa diartikan sebagai gula dalam bentuk yang lebih rumit dari monosakarida, contoh Laktosa (gula susu)

Tapi pengertian ini agak sumir dalam kehidupan keseharian, bahkan bisa dibilang jadi pangkal ketidak tahuan orang akan pemanfaatan gula

Kita lebih mudah mengklasifikasikan gula sebagai ‘Gula Murni’ serta ‘Gula Prosesan’. Disini konsep gula bisa dipetakan secara lebih objektif

Gula murni, kita bisa mendapatkannya dari buah-buahan segar, madu alam, kadang di sisi lain kita pun mengenal tumbuhan pemberi rasa manis

Sedang gula prosesan, jelas merupakan produk artifisial yang lahir dari kemampuan manusia merekayasa, gula pasir, permen, sirup dan lainnya

Kenapa gula identik dengan hal buruk dalam kehidupan? Sebenarnya lebih ke sisi sumirnya pemahaman akan fungsi gula itu sendiri

Gula akan diproses oleh tubuh untuk jadi sumber energi. Bila asupan dan kebutuhan tersebut tepat, tidak ada masalah, tubuh sisakan sedikit

Sisanya disimpan dalam bentuk glikogen, dalam liver dan otot. Sisanya lagi disimpan dalam bentuk lemak, trigliserida, tersebar pada tubuh

Yang jadi masalah, apabila gula tadi masuk dalam jumlah melebihi kapasitas dalam berbagai bentuk. Tubuh oversupply! Trigliserida melonjak

Tapi ada masalah lain sebenarnya, saat gula yang masuk terlalu banyak dan terlalu cepat mempengaruhi kadar gula darah. Efek negatif terjadi

Kacaunya sistem tubuh, daya tahan turun hingga sistem saraf rusak. Agar tidak terjadi, tubuh mengaktifkan pankreas dan mengeluarkan insulin

Anggaplah insulin ini yang jadi agen pengejar gula darah supaya kembali ke level normal. Itu bahasa sederhananya tapi ini pangkal masalahnya

Keseringan keluarkan insulin beban kerja kelenjar pankreas jadi terlalu berat. Saat ia rusak, tubuh terancam bahaya diabetes yang kita kenal

Saat pankreas tidak mampu keluarkan insulin secara normal, lonjakan gula darah selanjutnya dalam tubuh menjadi tidak terkontrol lagi

Akhirnya kerusakan tubuh yang tadi berusaha dihindari, semua terjadi secara simultan dan akumulatif, dari mulai mudah sakit hingga kebutaan

Nah, udah paham kesederhanaan kenapa gula bisa merusak? Sekarang masuk ke wilayah yang sedikit agak rumit. Ini kenapa definisi gula dipisah

Gula prosesan, punya karakter yang amat cepat mempengaruhi tingkat gula darah. Semakin cepat ia masuk dalam sistem tubuh, semakin buruk

Sementara gula murni, apabila ia memang benar murni, efek demikian tidak terjadi. Ia cenderung lebih lambat diproses tubuh menjadi energi

Dan jangan lupa, gula buah, fruktosa sebagai salah satu contoh gula murni, punya kelebihan lain yang menjaga kadar gula darah tubuh, serat

Serat akan menahan fruktosa agar lebih lambat mempengaruhi kadar gula darah. Kenapa logikanya itu bisa dibaca disini https://t.co/T4z9UcGxpg

Dr. Christina Moncrief pakar homeopati terkait makan sehat, mengungkapkan dalam buku Detox, fruktosa diserap lambat kadang tidak seluruhnya

Itu sebab ia sangat mengandalkan buah sebagai bahan bakar utama tubuh saat melakukan program detox, karena lonjakan gula darah tidak terjadi

Energi tubuh muncul perlahan namun lebih lama & stabil serta jarang memancing aktifnya pankreas mengeluarkan insulin. Diabetes? Jelas tidak

Jadi prasangka gula buah akan menghasilkan penyakit diabetes jelas merupakan ketakutan yang tidak didasari latar belakang pemahaman jelas

Kalaupun sudah terjadi diabetes, lebih ke sisi pola makan buruk menyeluruh atau dalam skala jauh lebih kecil secara genetik lahir demikian

Gula buah memancing rasa tidak nyaman dalam perut? Sebah, diare, sembelit, rasa perih dan lainnya? Lagi, ini lahir akibat pemahaman buruk

Kita harus melihat karakter buah secara menyeluruh, tidak lagi hanya dari sisi fruktosa, tapi juga serat dan kecepatan tubuh mencernanya

Buah merupakan makanan cepat cerna. Hanya butuh waktu 3 jam, dari buah dimakan hingga mencapai usus! Makanan lain? Dari lambung aja 2-4 jam

Ini memperlihatkan ketidak serasian buah, apabila ia dikonsumsi sesudah atau bersamaan dengan makanan lainnya. Sayuran sekalipun!

Buah yang masuk belakangan atau bersamaan dengan makanan lain, akan terhenti bersamaan dengan makanan lain, sementara waktu urainya berbeda

Buah yang tercampur dengan makanan berkarakter berbeda akan menjadi tidak efisien saat pemakaian enzym dilibatkan untuk memulai proses cerna

Selain itu, inefisiensi kerja sistem cerna akan menghasilkan fermentasi yang berlebihan. Hasilnya? Ada gas dalam organ cerna terbentuk

Perut menjadi terasa penuh dan tidak nyaman (sebah), buang angin menjadi lebih sering disertai bau busuk. Jadi ini bukan salah buahnya

Tapi cara kita memperlakukan buah tersebut. Dalam kasus ini, buah yang dimakan salah, fruktosanya berubah menjadi perusak, tipikal gula

Tapi sekali lagi, ini bukan salah buah, salah fruktosa. Tapi kesalahan tata cara kita mengkonsumsi buah tersebut

Dari semua ahli kesehatan dunia yang mengedepankan kehidupan alami, hampir semua mengemukanan pentingnya mengkosumsi buah secara benar

Saya cuma pernah membaca Dr. Robert Young penulis buku PH Miracle, yang menjadi basis pola makan alkali, berpikir berbeda, tidak untuk buah

Tapi ia tidak menyinggung masalah fruktosa, menurut dia buah itu adalah pembentuk PH darah asam. Benarkah? Sekali lagi kita harus teliti

Saya membaca berulang kali bukunya, PH Miracle, tersebut. Untuk mendapatkan gambaran, mengapa ia berpendapat demikian. Lalu saya paham

Dr. Young tidak sekalipun menyebutkan bagaimana cara dia dan pasiennya mengkonsumsi buah. Bila buah dikonsumsi sesuai budaya umum, ya normal

Kenapa ia menganggap buah sebagai pembentuk PH darah asam. Jelas karena cara makan yang salah, seperti alasan yang saya sebut di awal

Tapi belasan tahun pasca saya melakukan #Foodcombining dan akrab dengan pola makan sehat yang mengedepankan buah sebagai porsi garda depan

Saya makin yakin dengan apa yang dilakukan, karena dalam buku: “Byoku Ni Narani Ikikata 2 Jissen Hen”, Dr. Hiromi Shinya mengamini hal sama!

Ia malah mengatakan Buah-Buahan Segar adalah “Hadiah Dalam Bentuk Nyawa” dari alam bagi kehidupan manusia, juga “Sumber Enzym Tanpa Tanding”

Makanan bentuk apapun, saat dikonsumsi akan menguras cadangan enzym tubuh. Tapi buah menurut beliau justru menghemat pemakaian enzym

Selain kaya akan enzim yang bisa dipakai tubuh mencerna buah itu sendiri, kadang ada sisa enzim buah masih bisa dipergunakan tubuh lagi

Itu salah satu alasan Dr. Shinya menempatkan buah sebagai makanan nabati sumber enzim yang paling menonjol. Diatas sayur dan biji-bijian!

Dan seperti biasa, kalau seorang gastroenterolog terbaik di dunia, Dr. Shinya bicara tentang sistem cerna, saya gak punya celah untuk bantah

Beliau adalah ahli kesehatan yang sudah teropong 300.000 isi perut manusia antar ras, antar benua & merekam data klinisnya selama 50 tahun!

Kalau terkait sistem cerna dan kesehatan, boleh dianalogikan ahli kesehatan lain baru nebak isi terowongan, beliau sudah sampai ke ujungnya!

Jadi bila saya berikan rujukan tandingan untuk temuan Dr. Shinya, bisa jadi saya seperti menandingkan Ferrari vs Bajaj! Tau diri lah saya

Demikian kultwit saya tentang buah. Bukan sekedar asumsi atau opini pribadi, tapi disertakan juga paparan logika serta pengetahuan terkait

Jadi apakah makan buah itu aman? Baca lengkap kultwit saya dari awal tadi. Dan simpulkan sendiri. Yang rugi atau untung kan Anda, bukan saya

Meluruskan lagi tentang buah lagi, setelah kemarin kultwit panjang lebar dengan sesederhana mungkin, ternyata ada ‘lubang’ yang luput, jus

Mulai muncul beberapa upaya ‘ngeles’ propaganda buruk buah diperbaiki menjadi “yang dimaksud bukan buah, tapi jusnya buah”. Luruskan lagi

Yang saya bicarakan disini adalah jus segar ya, bukan jus pabrikan, itu sih lain cerita. Kalau yang ini saya setuju, gak ada bagus-bagusnya

Pertama harus dipahami, kalau mau sehat, sesuai dengan struktur-kodrat sistem cerna manusia, 75% menu makan harus buah-sayur segar, per hari

Masalahnya, konsumsi buah dan sayuran segar dalam jumlah signifikan banyak, tidak mudah dilakukan oleh kebanyakan orang. Disini fungsi jus

Jus membuat konsumsi buah dan sayuran segar menjadi lebih mudah. Tanpa harus banyak menyita waktu konsumsi, memudahkan mereka yang gak suka

Nah dalam kasus jus ini kita bicara fokus pada buah, karena yang lagi digonjang-ganjing ‘fitnah’ kan beliau

Pun bisa berkunjung ke web di bio, search tentang #BuahSayur. Ke notes FB saya Erikar Lebang juga bisa, banyak tulisan buah segar disana

Paling gak dengan baca teliti kultwit, eh baca teliti ya, jangan sampe tulalit, bisa ketauan cara mengkonsumsi buah secara benar & kegunaan

Nah semoga kontroversi buah sudah jelas. Jadi kita bisa konsen ke pelurusan “pencemaran nama baik” terhadap jus buah tadi. Kasian

Yang paling banyak sorot buah bikin masalah adalah sisi fruktosa (gula buah)-nya, kultwit kemarin sudah meluruskan. Eh, muncul lagi di jus

Dua cara buat jus, mempergunakan penghancur (pencampur) bernama blender dan ekstraktor bernama juicer. Walau nama terakhir yang jadi generik

Blender mungkin gak masalah, karena semua ornamen buah masih ada di dalam. Kalau juicer, ini nih yang jadi bahan pergunjingan salah alamat

Ada yang mengatakan bahwa juicer menghilangkan seluruh serat dari buah, sehingga yang tersisa hanya air. Gak banyak gunanya bagi tubuh! Wow

Yang bilang gini, gak tau buah itu konten dan fungsinya apa saja bagi tubuh manusia! Asbun? Ya jelas. ‘Air’nya itu pun, jelas berguna sangat

Lalu ada yang bilang, juicer memisahkan serat dan gula dari buah. Jadi yang masuk tubuh hanya gula saja, bahaya! Bikin diabetes! *nyengir*

Pendapat ini walau logis, tapi sebenarnya memperlihatkan pemahaman yang sangat kurang tentang buah dan fisiologi dari manusia

Sekarang gunakan logika sederhana saja, “juicer memisahkan gula dan serat?”. Ambil juicer, pilih buah manis, apel semisal, jadikan jus

Ambil ampas (sering disalah artikan sebagai serat) oleh banyak orang. Rasakan sendiri. Apakah rasa serat tersebut hambar? Gulanya hilang?

Tentu tidak! Ampas dari jus tadi masih menyisakan rasa manis, apakah dengan demikian secara logika, juicernya memisahkan serat-gula? Tidak!

Canggih amat juicer itu kalau bisa!

Sekarang observasi lagi, minum jus yang telah terpisahkan dari ampas. Rasakan baik-baik, bila Anda melakukan cermat, akan terasa serat halus

Terutama di dasar gelas, akan lebih terasa penumpukan serat-serat halus tersebut. Serat tidak selalu terlihat jelas, sebagian kasat mata

Kesalahan lain adalah pemahaman tentang gula, kalau anggapannya buah yang dijadikan jus, menghasilkan air gula masuk ke butuh, ya ngawur

Mungkin ini karena siwer akan beda gula buah (fruktosa) dan gula sehari-hari yang biasa ditemui dalam keseharian, gula pasir semisal

Jadi dianggapnya kalau minum segelas jus buah, sama dengan minum segelas air putih diberi sekian sendok gula pasir, diaduk hingga larut

Dari sana kita bisa tahu, sifat dasar fruktosa, berbeda dengan gula sejenis gula pasir, atau gula proses keseharian yang sering dipakai

Jadi jelas kan sekarang? Buah dijadikan jus itu sama bergunanya dengan mengkonsumsi buah itu secara segar. Ada sisi lebih dan kurang, normal

Tapi ya sama seperti disiplin makan sehat lain, ada juklak dong. Berikut saya ambilkan dari buku Enslikopedia Jus, Dr. Iskandar Junaidi

Pilh buah untuk dijus yang masih segar dan utuh. Saran saya, pastikan juga jarak waktu panennya pendek, buah lokal jelas pilihan utama

Cuci dengan baik, gunakan air mengalir, kupas jika tidak yakin akan kemurnian kulit buah (apel, pir misal) contohnya pemakaian lapisan lilin

Pastikan buah yang dijus matang dengan baik, tidak mengkal dan tidak menjelang busuk

Jangan campur buah dan sayur, karena karakter kandungan enzymnya berbeda. Jika sayuran kaya mineral dicampur dengan buah manis, hasilkan gas

Perut akan menjadi seperti penuh, dan tidak nyaman. Sejalan dengan edukasi saya kan? Tidak hanya sebah, juga sembelit, diare dan perih

Saat buah berdaging tebal diproses dengan blender, bantu dengan memberikan sedikit air putih, memudahkan kerja mesin, lebih nyaman diminum

Kalau tambahan dari saya, saat meminum jus harus tidak tergesa-gesa. Pastikan ia tercampur air liur. Selipkan di bawah lidah sebelum telan

Amilase, enzym pada air liur, membantu tubuh memecah pati, sifat dasar dari buah. Nah ketakutan akan fruktosa tadi semakin tidak beralasan

Jadi ketakutan akan jus buah itu sama saja dengan ketakutan pada buah, tidak beralasan! Sekali lagi, tentu harus dilakukan dengan benar dulu

Banyak sekali institusi kesehatan berbasiskan naturopati dan ahli kesehatan dunia yang mempergunakan jus sebagai bagian terapi mereka

Jadi santai aja. Pastikan caranya benar, dan alat bantu Anda memang terpelihara kualitasnya. Variasikan jus buah dengan buah potong segar.

PART II

http://chirpstory.com/li/227907

Sepertinya saya harus meluangkan waktu khusus untuk mengedukasi dan meluruskan paham salah kaprah nan sesat itu.

Sedih mendengar celotehan teman yang mengaku sepaham makan sehat, tapi dia membenci buah, oh Gosh pic.twitter.com/Y5sdnn3MNY

buah

Teman saya ini baru saja menolehkan kepalanya ke pola hidup sehat. Tadinya dia juga gak tau apa-apa. Makanya gampang ketipu.

Dulu jaman baru ditiupkan isu sesat dari buah, saya secara reaksioner sempat membuat dua kultwit ini uniwiwied.com/buah/

Kultwit barusan bisa dibaca lebih lanjut, untuk menempatkan buah secara lebih proporsional sesuai dengan kapasitasnya.

Saya lebih sedih saat mendengar argumentasi teman yang terpengaruh informasi buah itu dipenuhi oleh fruktosa, gula buruk.

Buah segar, dimakan biasa, dijus, akan merusak kesehatan katanya, sama buruknya seperti orang makan cake, permen, sirup, ah.

Itu informasi sangat salah, link kultwit yang tadi uniwiwied.com/buah/ baca teliti, mematahkan argumentasi ngawur itu.

Berikut saya kutipkan kalimat mutiara tentang buah dari Dr. Gilian McKeith, one of the leading guru of healthy eating.

Pemilik McKeith Clinic di London, salah satu konsultan makan sehat natural ternama yang jadi rujukan banyak orang di dunia.

Dalam bukunya yang berjudul “You Are What You Eat” ada seksi khusus tentang buah, menariknya dia bahas berdekatan ke gula.

Good Sweets! Itu yang dia tampilkan sebagai judul, gak semua manis itu buruk, tidak semua gula itu buruk! Formatnya dulu.

Saya terjemahkan rangkaian kata mutiara yang dibuatnya terkait “Good Sweets” tadi. “Tidak semua yang manis itu buruk!”.

“Faktanya, hampir semua ‘manis’ yang diproduksi oleh alam baik untuk kita. Antara lain, tentunya buah-buahan segar”.

“Buah segar kaya akan nutrisi, sumber terbaik untuk enzim hidup dan antioksidan yang memicu daya tahan dan energi tubuh”.

“Saya sangat menyarankan Anda mengkonsumsi minimal dua jenis buah segar, sesuai musim, setiap hari” -Dr. Gilian McKeith.

Kenapa muncul pemikiran bahwa buah itu buruk, ditinjau dari sisi fruktosanya? Sederhana, pemahaman holistik kesehatan buruk.

Basis pola pikir kuratif yang telah lama menguasai dunia kesehatan, membuat kita, tanpa sadar, berpikir secara parsial.

Walaupun berusaha untuk hidup sehat, secara alami, tapi tanpa sadar pola pikir parsial itu menginfiltrasi dalam konsep.

Salah satu ciri khas pola kuratif adalah melihat segala sesuatu berdasar kandungan dan mendiktekannya secara sepihak.

Yang paling umum, “susu mengandung kalsium, tulang perlu kalsium, jadi supaya tulang gak keropos, banyaklah minum susu”.

Itu pandangan parsial yang mendikte. Dari sisi holistik kesehatan? Nah disitu alpanya, kalau kita meninjau lebih jauh.

Susu hewan punya settingan berbeda dengan tubuh manusia, dengan rutin mengkonsumsinya membuat ketidak seimbangan.

Ketidak seimbangan memicu banyak masalah kesehatan, termasuk -ironisnya- tulang keropos itu sendiri alasan utama minum susu.

Tentang susu, silahkan browse kultwit lama saya tentang #KibulanSusu. Ok, balik lagi deh ke #BuahItuAnugerah logikanya masih sama, holistic.

Ada bunyi “whole” dalam holistik, yang artinya menyeluruh, saat melihat buah segar dan tubuh manusia, lihatlah menyeluruh.

Kalau dilihat secara parsial mungkin kita melihat bahwa fruktosa buah, ya sama saja dengan gula lain, memicu masalah.

Tapi secara menyeluruh, kita lihat buah segar sebagai pembentuk asam-basa tubuh yang seimbang, atau istilahnya homeostasis.

Saat tubuh memiliki banyak faktor penunjang untuk berada di titik itu, fungsi mekanisme tubuh akan berjalan sempurna.

Efek buruk kesehatan yang biasa terjadi akibat kelebihan gula, tidak akan terjadi, mekanisme tubuh mencegahnya sendiri.

Di sisi lain, buah segar akan menjaga supaya fruktosa tidak berfungsi layaknya gula prosesan dalam mengkontaminasi darah.

Ada banyak jaring pengamannya, sifat serap, fungsi serat, yang menjaga fruktosa agar tidak merusak keseimbangan tubuh.

Kata kuncinya adalah, makanlah dengan benar, sesuai ketentuan. Buah harus segar, kunyah baik, tidak tercampur unsur lain.

Bila buah itu dijus, perhatikan benar kecepatan minumnya, jangan sekaligus, minum sedikit-sedikit, selipkan di bawah lidah.

Pilihlah buah segar dalam keadaan yang baik, tidak mentah, tidak pula dalam keadaan jelang busuk, apapun alasannya.

Memang ada beberapa buah yang kandungan fruktosa cenderung mudah berubah jadi alkohol, durian, nangka, jadikan rekreasional.

Atau budaya buah yang dijual dalam keadaan tidak baik, sering jelang busuk, karena tingkat kemanisan maksimal, misal mangga.

Cermati itu semua. Makanlah buah dengan benar. Dan tidak akan ada tuduhan sepihak yang salah tentangnya sebagai masalah.

Seringkali kita menyalahkan sesuatu, bukan karena sesuatunya itu salah. Tapi karena disikapi dengan cara yang salah.

Tuhan menciptakan buah sebagai hadiah lewat tangan alam. Manfaatkan sebaik mungkin, jangan difitnah.

Sebagai rujukan, teman saya itu sampai hari ini masih penyakitan, main sepeda dikit ngos-ngosan. Walau sudah hindari buah.

PART III

http://chirpstory.com/li/228167

Sehat itu seharusnya mudah dan murah. Mengaculah pada produk lokal pic.twitter.com/rUEcfVQji6

buah1

Akhir-akhir ini muncul kecenderungan upaya mendiskreditkan buah, dan mengutamakan sayuran semata, sebagai modal sehat.

Sebuah kecenderungan yang sebenarnya tidak didasari basis ilmiah kuat, dari kaitan sisi fisiologis cerna maupun sifat buah.

Mari kita bahas dari multi sisi, tentang #BuahItuAnugerah.

Sehat itu seharusnya mudah! Sudah menjadi hukum Tuhan. Salah satu katalisator mudah, adalah harga yang murah.

Buah tergolong murah! Bila kita memilih yang tepat dan mengedepankan produk lokal. Ini murah kan? pic.twitter.com/wU5iIJgwc7

buah

Mahal? Bandingkan! Bisa jadi porsi sekali makan atas, sama harga buah untuk persediaan beberapa hari pic.twitter.com/1brpWFkyhP

buah

Terkait buah itu mudah, selain murah. Bisa kita kaitkan dengan hal kepraktisan, terutama buah lokal.

Praktis? Kita tahu syarat dasar untuk sehat alami adalah segar dan sebaiknya minim kontaminasi artifisial dari manusia.

Organik! Masalahnya adalah, tidak semudah itu kita mendapatkan produk organik, setiap saat. Saat bepergian semisal.

Tapi disini kehebatan faktual #BuahItuAnugerah bila kita sulit temukan produk organik di satu kesempatan pic.twitter.com/npZ6QHk4yS

buah

Apabila isu ketakutan kita terkait pemakaian petsisida atau pengawet artifisial kimiawi anorganik semisal, bersyukurlah ke #BuahItuAnugerah.

Buah lebih fleksibel ketimbang sayuran segar. Anda bisa pilih buah lokal berkulit yang bisa dikupas, meminimalisir masalah.

Upaya ini bila pada sayuran segar sulit dilakukan. Hanya sedikit sayuran umum makan terlindung kulit bisa dikupas.

Memang ada kecenderungan kita kehilangan banyak manfaat kulit buah, bila kita kupas dan buang. Serat dan fitokimia semisal.

Tapi ada skala prioritas disini. Lebih baik kita makan buah segar non organik sebagai sarapan ketimbang bubur ayam, bukan?

Pun kita tidak mempungkiri ada kemungkinan infiltrasi dari sedikit unsur artifisial, petisisida semisal, pada buah berkulit.

Lagi skala prioritas berlaku, lebih mending daripada sayuran non organik yang telanjang terpapar petsisida bukan?

Sayuran segar non organik perlu proses pembersihan petsisida, seperti direndam di air berlarut cuka apel atau air basa kuat.

Buah berkulit non organik cenderung lebih praktis dan sederhana untuk mengkonsumsinya.

Hidup sehat itu seharusnya mudah dan murah! Praktis dijalani sehari-hari. Bila tidak, berarti salahi kodrat.

Bila sehat bergantung pada produk impor, teknologi dan faktor pendukung mahal lain, ya salah. Sehat itu hak semua orang.

Sembuh sejati, upaya mandiri tubuh yang diberi kesempatan untuk kembali sehat! Sembuh semu, tubuh dipaksa berbagai cara untuk tidak sakit.

PART IV

http://chirpstory.com/li/231253

Sedih banget mendengar ada ahli kesehatan yang menganggap nanas itu buah yang buruk bagi kesehatan. Tapi pas ditanya kenapa? Diam saja.

Sudahlah, kalau nanya jalan jangan sama orang kesasar ya. Tapi sedihnya doktrin sedemikian memperburuk fitnah kepada buah akhir-akhir ini.

#BuahItuAnugerah hadiah dari alam bagi kehidupan manusia. Sudah sering saya jelaskan ini secara logis, faktual dan ilmiah dari beragam sisi.

Terkait nanas, satu-satunya hal negatif signifikan padanya adalah sifat abortivum, semacam stimulan pelancar haid bagi yang bermasalah.

Problemnya waktu dikonsumsi oleh ibu yang sedang hamil, terutama muda, efeknya bisa menjadi kontra terhadap kondisi kehamilan tersebut.

Tapi tenang, itu cuma sifat yang dibawa oleh nanas muda, atau nanas dalam keadaan mengkal. Yang sesuai tertib makan buah, gak layak makan.

Juklak tertib makan buah sesuai dengan kondisi: “berair, berserat dan manis karena matang sempurna”. Selain “makan buah dengan perut kosong”.

Yang keren dari nanas sebenanya adalah, kandungan enzimnya yang sangat melimpah. Sangat berguna untuk menghemat cadangan enzim tubuh kita.

Bila dimakan benar, pasca makan nanas, bentuk potong atau jus, acap terasa rasa segar dan nyaman pada tubuh. Itu salah satu efek signifikan.

Nanas sendiri kini sedang diteliti secara intensif dalam rangka penemuan obat anti kanker. Saya pribadi sih gak suka konsep terapi kuratif.

Tapi bila ini sukses, akan sangat membantu dalam menangani salah satu masalah kronis dunia kesehatan. Ada satu unsur nanas bernama bromelain.

Nenek dan ibu kita saat di dapur sebenarnya sudah sering memanfaatkan bromelain nanas tanpa sadar, melaburkan lumatan nanas untuk melunakkan.

Umumnya pada daging yang hendak dimasak. Tapi ada juga resep herbal turun temurun baluran nanas untuk redakan pada bagian tubuh meradang.

Redakan disini bisa dibaca mengempiskan pembengkakan.

Bromelain memiliki bagian bernama CCZ, miliki sifat anti sel kanker. Sementara bagian lain, CCS menahan protein k-ras, pun terkait kanker.

Dan sifat anti peradangan ini buat nanas sedang diteliti lebih lanjut untuk dapat diekstrak guna atasi masalah radang sendi, pembengkakan.

Balik lagi ke nenek dan ibu kita, waktu saya kecil dulu, ibu saya yang dokter pun, sering membuatkan jus nanas untuk amandel bengkak saya.

Tapi lucunya beliau meminta saya untuk berkumur, dan “jangan ditelan, nanti sakit lambungnya kumat”. Hehe, harap maklum deh kalo itu sih.

Bukannya saya mendukung konsep food therapy, makanan bukan untuk obat, tapi untuk menjadi bagian dari pola makan sehat menyeluruh.

Tapi fakta yang saya sampaikan adalah untuk mematahkan paham bahwa nanas adalah buah yang buruk bagi kesehatan. Padahal itu anugerah Tuhan.

Tapi tenang, itu cuma sifat yang dibawa oleh nanas muda, atau nanas dalam keadaan mengkal. Yang sesuai tertib makan buah, gak layak makan.

Di sisi lain ya supaya gak makin parah fitnah yang menempatkan buah sebagai perusak kesehatan secara general. #BuahItuAnugerah harus diingat.

PART V

http://chirpstory.com/li/233880

Duh sedih banget denger curhatan seseorang tentang orang dekatnya kena kanker, tapi gak mau makan buah, takut bikin ‘jamur’ dan ‘efek gula’.

Konyolnya lagi ketakutan dia terhadap gula dan kanker itu seperti biasa tidak tersinkronisasi dengan fakta realita yang ada di lapangan.

Mungkin efek baca doktrin ya? Jadi percaya “gula buah itu berbahaya”, sementara gula itu asalnya dari mana saja? Gak direview dengan benar.

Karena di saat bersamaan kata si pencurhat ini, orang dekatnya yang kanker itu masih merasa tidak bersalah makan nasi putih, pasta, roti.

Padahal produk itu beri turunan gula yang jauh lebih seram, tinggal baca saja kultwit-kultwit saya lalu atau di web dalam bio saya.

Terkait jamur, mungkin yang dia takutkan adalah candida atau bahasa kerennya “Yeast Problem”. Memang pemicu potensialnya adalah gula juga.

Kasus candida ini pun sebenarnya masih sangat kontroversial, penelitian yang terjadi menemukan problemnya biasa customized, berbeda-beda.

Tidak melulu terkait gula, banyak kasus “yeast problem” ini hadir dari konsumsi produk yang memang memanfaatkan terjemahan dari yeast, ragi.

Semisal ragi kue, roti dan ragi minuman beralkohol. Gejala umum: gangguan pencernaan, rasa lelah, infeksi tubuh yang juga terkait ‘jamur’.

Oh ya lupa memberi penjelasan, Candida itu bahasa kerennya: “semacam cendawan patogen..” atau sejenis jamur penyebab penyakit.

Contoh dari masalah jamur bagi kesehatan, yang umum sih dikenal kasus “athletes foot”: infeksi jamur di sela jari kaki, “ringworm”: kurap.

Problem lain disini bila candida menguasai sistem tubuh kita, gangguan bisa bermacam-macam. Kenapa ada kata ‘menguasai’, disini tricknya.

Candida dikontrol oleh ‘bakteri baik’ dalam sistem cerna agar tetap berada dalam jumlah rendah tidak bahaya. Bakteri baik memakan candida.

Masalahnya, gaya hidup dan pola makan yang umum dilakukan, terutama saat ini, rentan membuat jumlah bakteri baik dalam tubuh kita berkurang.

Kalau sudah berkurang, otomatis candida kehilangan predatornya, dia punya kesempatan untuk ‘menguasai’ tubuh, merusak sistem, membuat sakit.

Apa saja gaya hidup pengurang jumlah ‘bakteri baik’? Sebenarnya tidak banyak, tapi sayangnya itu gaya hidup yang umum sekali dilakukan kini.

Rata-rata menyalahkan stress, sebagai kambing hitam paling gampang. Tapi sebenarnya tidak juga, lebih umum: tidur kelewat larut, ‘dugem’.

Malas berolahraga, terlalu berat berolahraga, waktu istirahat tidak berimbang dengan waktu bekerja dll. Sesuatu yang sebenarnya tidak normal.

Hampir semua orang tahu itu tidak benar, paling gak semua tahu itu gaya hidup abnormal. Jadi sebenarnya gak banyak kan? Tetep aja dikerjain!

Diluar itu pembunuh bakteri baik yang paling efektif adalah.. Pola makan! Terutama pola makan yang cenderung membuat PH darah asam.

Nah disini letak mislek-nya (ketauan banget angkatan berapa gue pake bahasa ini) konsep gula buah tadi. Gula memang pembentuk PH darah asam.

Tapi sama sekali bukan gula buah yang didapat dari buah segar dimakan benar! Kalaupun ada kata fruktosa pada konteks negatif, tempatnya lain.

Biasanya fruktosa yang dimanfaatkan untuk pemanis produk pabrikan. Atau dicampur dengan bahan makanan lain, juga sebagai pemanis. Ini salah!

Tubuh yang dikuasai candida, memang rentan menjadi rumah nyaman bagi sel kanker berkembang. Tapi tubuh rutin makan buah segar benar, tidak.

Kenapa? Dalam buah segar, justru sifat dasarnya lebih banyak membentuk PH darah basa, yang akan menuntun PH darah kita ke titik homeostasis.

Seperti kultwit saya kemarin-kemarin, titik homeostasis membuat semua fungsi tubuh kita normal dan bekerja efektif melawan masalah.

Tubuh berPH darahnya netral cenderung basa, homeostasis, adalah tubuh yang seperti mimpi buruknya sel kanker! Ngembang gak bisa, mati ho-oh!

Jadi kalau orang dekat si teman curhat tadi ogah makan buah karena takut kankernya menyebar, ya dia menyusahkan diri sendiri, cari masalah.

Kalau dia takut akan munculnya candida karena buah, padahal buah itu dalam keadaan segar, dimakan dengan cara benar, dia beneran kesasar.

Berikut saya kutipkan kalimat dari ahli naturopati kenamaan Dr. Christina Scott Moncrief, terkait gula buah yang erat kaitannya ke candida.

“Any fruits that IS NOT FRESH such as dried, tinned or juiced (pads konteks gak fresh, jadi kemasan) are foods to avoid if you have candida”.

Dia juga cantumkan ‘fruktosa’ sebagai hal yang dihindari tapi dalam kalimat “anything labelled..” berarti menyertai produk pabrikan dikemas.

Rugi lah kalau menghindari buah segar. Sehat itu dimudahkan (dan dimurahkan) oleh Tuhan. Kitanya jangan aneh-aneh, sungguh #BuahItuAnugerah.

PART VI

http://chirpstory.com/li/236873

Lagi dibuat agak emosi dengan pertanyaan, “bingung nih mas, kata Dr. Shinya buah itu wajib dimakan kalau mau sehat, logis sih menurut saya”.

“Sementara kata para chef #rawfood itu, buah berbahaya buat kesehatan.. Gimana ya?”. Aduh, emosi bener gue denger pertanyaan ini.

Dibalik deh, kalau ada chef bilang masak enak harus pake takaran garam yang tepat sementara ada dokter bilang masak enak jangan pake garam.

Siapa yang kamu percaya? Jelas chef-nya lah! Wong jelas-jelas dia urusannya sama dapur. Jadi kalau urusan masakan ya dia lebih kredibel.

Ya sama aja kayak kasus ini. Dr. Shinya itu ‘world best gastroenterologist’, ahli sistem cerna terkemuka dunia! Kalau gak yang terbaik malah.

Beliau paling nggak, sudah mencek ribuan isi perut manusia, gak cuma diketok-ketok perutnya dari luar pake jari, kayak sering kita temui lho.

Tapi beliau pake kamera yang dijejelin dari pantat atau mulut lalu meneropong isi perut manusia. Gak cuma satu, tapi ribuan isi perut orang.

Gak cuma satu suku, tapi multi suku bangsa. Gak cuma satu negara, tapi beragam negara. Dari situ ditarik kesimpulan tentang satu hal general.

“Makan benar, usus Anda akan sehat. Bila usus Anda sehat, bisa dipastikan semua fungsi tubuh Anda pun akan sehat” Demikian sebaliknya.

Bahkan dia bisa mereverse kondisi kesehatan seseorang dengan merubah apa yang dia makan. Patokannya apa? Ya saat dia meneropong isi perut.

Orang sakit, yang kondisi ususnya rusak parah, diubah pola makannya hingga kondisi ususnya membaik. Dan saat itu juga sakitnya menghilang.

Ini contohnya, penderita keram perut setelah sembelit menahun, ususnya sebelah kiri. Benahi makan, di kanan, sembuh! pic.twitter.com/4X2rtYMuiE

Usus

Semua pasiennya Dr. Shinya ya begitu. Kalau nurut mengubah pola makan, saat karakteristik ususnya membaik. Penyakitnya ya minggat.

Kalaupun perlu penanganan medis, berlakunya minor sekali. Gak menyusahkan. Yang pasti kualitas hidupnya meningkat drastis deh.

Nah, berdasarkan pengamatan kolonoskopis dan endoskopis tadi, Dr. Shinya justru menganjurkan banyak mengkonsumsi buah dan sayuran segar.

Untuk mengembalikan karakteristik usus seseorang. Nah, ini gak asal ngomong, gak asal asumsi. Tapi beneran meneropong isi perut seseorang.

Nah dibalik lagi, chef-chef #RawFood itu udah meneropong berapa isi perut? Boro-boro isi perut, baca General Check up aja seringnya nanya.

Jadi jangan bikin emosi deh, nanya perbandingan model begitu. Saya selalu bilang, kalau bandingin sesuatu ya harus dengan yang seimbang.

Mau bandingin Lamborghini ya harus dengan Ferrari atau Porsche deh. Jangan dibandinginnya sama Avanza, apalagi sama Bajaj. Ya gak akan klop.

Saya sudah berulang kasih kultwit, fruktosa buah itu gak berbahaya, selama dimakan dengan cara yang benar. Nah itu yang harus ditekankan.

Pakar kesehatan naturopati aja ada yang salah kaprah tentang fruktosa, karena gak paham cara makan yang benar. Jadi pelajari cara makannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s