Food Therapy vs Pola Hidup Sehat

Erikar Lebang, @erikarlebang

http://chirpstory.com/li/209742

Contoh food therapy yang dibuat secara ‘maksa’ dan minim riset–> http://mdk.to/8DZa  Alasan Penting Makan Pisang Untuk Kesehatan Seksual.

Kenapa saya gak terlalu mendukung food therapy, karena kalau konsepnya masih therapy, jatuhnya masih di wilayah sama ‘kuratif’, pengobatan.

Orientasi saya adalah menjaga kesehatan dengan perhatikan pola hidup sehari-hari, apa yang kita lakukan, terutama apa yang kita minum-makan.

Pangkal masalah kehidupan adalah ketidak pedulian, berlaku di segala sektor, termasuk kesehatan dan pola makan. Coba aja kalau gak percaya.

Buat setting waktu, 1-2 tahun, ah gak usah deh, 2-3 bulan aja. Makanlah seenaknya, semua makanan enak disuka, yang asin, manis, junkfood!

Minuman juga, semua yang enak, diiklankan kenceng! Coba konsumsi itu terus-terusan dalam satu kurun waktu. Syaratnya, gak boleh minum obat.

Kalau pusing, batuk, lemas, pilek, jangan minum obat sama sekali. Saya jamin di masa itu, Anda akan ambruk. Tubuh kebanyakan beri alarm.

Kenapa? Itu dia. Karena pola hidupnya berantakan, tidak peduli apa yang dimakan. Kok bisa ada orang yang bertahan hidup padahal seenaknya?

Dua hal, orang yang seakan kuat begini, biasanya rutin minum obat atau melakukan tindakan terapi kesehatan, minimal yang tradisional.

Pijad, kerokan, minum jamu penguat, bergantung pada kopi untuk menguatkan tubuh (efek kafein) dan lain sebagainya, mematikan alarm tubuh.

Balik lagi kenapa saya gak terlalu mendukung konsep terapi, makanan sekalipun, herbal apalagi. Karena konsepnya bukan berbasis kepedulian.

Lebih ke reaksioner, sakit baru minum obat, jadi pesakitan dulu baru melakukan tindakan. Dengan kata lain? Sembuh? Balik lagi ke kebiasaan.

Apalagi yang keburu sakit parah baru menoleh ke pola hidup sehat, tapi dengan konsep kuratif, cari makanan yang bisa menyembuhkan missal.

Makanan, minuman alami yang diperlakukan seperti obat, itu kerjanya sangat lambat dan butuh proses panjang baru berikan efek ke tubuh.

Beda dengan obat produk farmasi, karena teknologinya memang lebih terarah untuk memberikan hasil yang cepat. Efek menyembuhkan lebih mudah.

Walau di belakang itu berlaku hukum “makin kuat obat makin kuat daya merusak jangka panjangnya bagi tubuh”. Banyak yang sudah merasakan.

Balik ke masalah food therapy, sudah banyak sekali bertemu dengan orang sakit, putus asa dengan konsep kesehatan konvensional yang mahal.

Tapi saat berpaling ke pola hidup sehat, orientasi otaknya masih ke konsep pengobatan, jadi ujung-ujungnya berharap yang dimakan jadi obat.

Mereka frustasi, karena setelah melakukan dalam jangka waktu tertentu, kondisi yang diharapkan membaik tidak muncul secepat yang dikira.

Sementara saat minum obat, minimal pasca diminum, bisa dirasakan efeknya pada badan. Walau lama-lama tubuhnya rusak, minimal efeknya terasa.

Ini kenapa saya gak terlalu menyukai konsep food therapy. Karena yang dibangun bukan “attitude untuk sehat”, tapi “attitude untuk sembuh”.

Yang mau sehat biasanya menerima bahwa hal itu butuh proses. Butuh ketekunan. Yang mau sembuh? Biasanya mau ngebut! Malas berproses.

Makanya ketawa kalau baca tulisan tentang makanan ini itu bisa beri efek bagi tubuh. Misal problem ereksi? Makan pisang diadu sama viagra?

Ok, katakanlah pisang mengandung bromelain yang bagus untuk kemampuan seksual (walau masih bingung cari koneksinya), coba aja makan.

Tunggu aja berapa lama makan pisang bisa bikin ereksi? Saya sangsi. Sementara viagra, walau gak berlaku untuk semua, masih lebih mungkin.

Itu contoh bodoh, walau nyata.

By Erikar Lebang

http://chirpstory.com/li/223744

Agak repot bila terkait #Foodcombining yang berbasis pola hidup sehat, kok pertanyaannya selalu, “saya sakit ini-itu, bagus minum jus apa?”

Itu pertanyaan salah alamat! Apalagi kalau reaksinya setelah ditanya kenapa bertanya pada saya adalah, “Gak mau minum obat kimia lagi..”

Obat mau kimia anorganik, mau herbal, mau apa kek? Basisnya ya sama, obat! Dimana-mana di dunia ini, hukumnya sama! Sakit dulu baru diobati.

Itu pola berpikir yang sangat beda dengan perawatan pola hidup ala #Foodcombining, kita rawat tubuh sebaik mungkin, agar jangan sakit.

Problemnya dengan “minum jus anu saat sakit anu”, adalah seringkali solusinya dicarikan sementara problem awalnya tidak terselesaikan.

Ok, ambil saja contoh, katakanlah sakit akibat produksi asam lambung berlebihan, lalu konon obat alami untuk itu adalah cuka apel.

Lalu diminumlah cuka apel itu dengan rutin untuk mengobati penyakit lambung. Berhasil? Saya sih berani bertaruh, kemungkinannya amat tipis!

Kalaupun berhasil, biasanya hanya bersifat sementara, ujung-ujungnya harus minum obat racikan industri farmasi juga untuk keperluan sama

Atau kalau tidak, problem lambung berubah sangat parah dan merengut nyawa. Kenapa ini bisa jadi masalah? Karena akar masalah gak diatasi.

Minum cuka apel untuk menekan asam lambung, tapi pola makan yang menjadi penyebab masih dilakukan terus menerus, gak ada perubahannya!

Minum teh, kopi, susu masih rutin. Setiap makan, protein hewani harus ada dalam jumlah banyak. Atau segudang kebiasaan buruk lainnya.

Itu kan sama saja seperti berusaha mematikan kebakaran di hutan, tapi yang dibawa cuma air sebaskom kecil. Padam nggak, mati gosong ho-oh.

Jadi kalau masih tanya “makanan anu yang berfungsi untuk obati penyakit anu?” Sementara niatnya punya pola hidup sehat alami, itu salah!

Mungkin saja gejala menghilang sesaat, tapi jangan lupa, bom waktu yang muncul kemudian dalam hidup Anda. Dan biasanya jauh lebih mematikan.

Penyakit seperti kanker, atau kerusakan organ degeneratis seperti gagal jantung dan ginjal, itu tidak muncul begitu saja atau kutukan Tuhan.

Sekalipun ada kelemahan genetik, tetap saja ia baru akan terekspose menjadi penyakit setelah menjalani gaya hidup yang salah.

Intinya penyakit muncul akibat akumulasi gaya hidup yang salah. Dan makanan yang dianggap obat, tidak bisa mengatasi problem tersebut.

Pola makan sehat seperti #Foodcombining memang bisa menyembuhkan penyakit, tapi itu hanya sebab turunan. Bukan tujuan utama apalagi instan.

Cuka apel mungkin baru bisa berarti mengenyahkan problem asam lambung secara permanen, kalau pola makan penyebabnya benar sudah diubah.

Atau makanan lain yang berguna untuk kesehatan berdasar kandungan, baru bisa berfungsi, kalau fungsi tubuhnya sendiri juga sudah normal.

Jangan harap asam lambung bisa normal, tanpa resiko, catat tanpa resiko! Kalau pemicu PH asam lambung masih muncul, protein hewani semisal.

Atau asam lambung dipaksa turun, tapi kemudian baru sadar bahwa tubuh terserang osteoporosis dini sebagai akibat turunan. Mau?

Perubahan gaya hidup adalah solusi utama untuk kesehatan paripurna. Tidak ada jalan keluar selain itu.

Menikmati hidup harus berlangsung secara harmoni dengan berdisiplin dalam menjalaninya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s