Agar Berenergi, Makan Apa Sebelum Olahraga?

By Erikar Lebang

http://chirpstory.com/li/210854

Diskusi makan sehat yang menunjang kekuatan stamina dengan teteh @abu_tha membuat saya tergelitik menyampaikan ini dalam bentuk kultwit.

Dia bertanya “makanan apa yang bisa membuat gue punya kekuatan yang cukup untuk melakukan olahraga dengan jarak jauh dan waktu yang lama?”

Sebenarnya ini kesalahan mendasar dari pola makan sehat yang umum. Kita hanya mencari ‘makanan ajaib’ yang bisa mendongkrak performa tubuh.

Kita menganggap tubuh layaknya sebuah mobil, harus diisi oleh bahan bakar supaya bisa berjalan. Logika kita, bahan bakar apa yang canggih?

Supaya performanya tangguh dan larinya bisa sangat kencang. Jadi yang dicari adalah jenis bahan bakarnya. Melupakan hal yang lebih krusial.

Kapasitas dan kebutuhan mobil itu sendiri. Mobilnya kelas 1000 cc, mau dikasih bahan bakar apapun, pasti sulit mengimbangi mobil 2000 cc.

Kebutuhan mobil, kalau basis mesinnya adalah diesel, mau dikasih bahan bakar paling canggih sekalipun tapi bentuknya bukan solar? Mogok lah!

Tubuh manusia ya rada mirip-mirip gitu. Jangan cuma dipikir, makannya apa? Tapi mengacu dulu.. Tubuhnya butuh apa? Tubuh kerjanya bagaimana?

Saya ingat pernah bersepeda di satu daerah dengan teman. Karena terhitung liburan, kami sarapan bersama-sama dengan menu yang ada di hotel.

Dia bingung melihat saya sarapan dengan beragam potongan buah. “Gak sakit perut?” dilanjut lagi “Mana kuat buat nanti gowes, jauh lho?”

Dia sih sarapan dengan makanan hotelan yang biasa, bubur, telur dan segelas air putih serta secangkir kopi. “Isi tangki penuh” katanya.

Tapi apa lacur, selama perjalanan, dia selalu ada jauh di belakang saya, dari start hingga finish. Pun saat makan siang dia kelaparan sangat.

Bagaimana dengan segala macam makanan yang dia katakan telah mengisi penuh ‘tangki’nya tadi? Kemana mereka pergi?

Atau teman saya yang lain, waktu kami bersepeda menempuh jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh tapi menanjak cukup curam dan tajam.

Di tengah jalan teman saya ini, mulai terseok-seok dan tercecer, ia merasa lelah, pusing, mual dan ah, pokoknya menderita sekali.

Ia berulang kali menghentikan sepedanya. Kami menemani saja. Beberapa memang juga tidak kuat, tapi tidak ada yang semenderita dia.

Tak lama teman saya ini muntah-muntah, cukup lama ia mengeluarkan isi perutnya di selokan pinggir jalan. Kasian juga melihatnya.

Anehnya pasca dia muntah, justru dia malah seperti mendapatkan tenaga baru dan segera bisa bersepeda lagi secara normal sampai finish.

Benar aneh? Gak juga. Justru disitu inti kultwit saya ini.

Iseng bertanya ke dia. “Tadi pagi sarapan?”|”Biasa aja sih, telur 1/2 mateng sama susu, segelas”|”Itu aja?”|”Roti sandwich makan di mobil”.

*nyengir* “Wah banyak amat?”| “Kan mau nanjak, energi harus full dong!”.. Ya pantesan aja dia muntah hebat. Pencernaannya menderita.

Ada beberapa faktor yang membuat manusia bisa sehat dan kuat. Tapi sisi paling mudah adalah menemukan asupan makanan-minuman yang tepat.

Bukan sekedar makanan-minuman bersifat super, tapi lebih ke sisi, “cocok atau tidak dengan kebutuhan dan sistem kerja yang ada dalam tubuh?”.

Kedua teman saya tadi memberikan contoh yang sempurna, mereka makan banyak-banyak dengan bahan makanan yang secara mitos dianggap menguatkan.

Apa lacur? Yang satu gak punya energi konstan untuk bekerja dengan lancar sesuai harapan, yang satu harus muntah dulu baru kuat bisa normal.

Jawabannya sederhana, makanan yang mereka anggap menguatkan itu justru membuat sistem cerna mereka menderita, peduli amat materinya apa?

Protein hewani tinggi dalam bentuk telur-susu, adalah mimpi buruk sistem cerna yang harus mensuplai energi saat tubuh sedang bekerja keras.

Pun karbohidrat berbentuk bubur, karena ditelan tanpa kunyah, akibatnya ia masuk sistem cerna tak tercampur enzym amilase pada air liur.

Setengah mati mendapati bahan makanan demikian. Tubuh pun jadi menderita. Saat berolahraga, sistem cerna bukannya mensuplai malah kebalikan.

Energi tubuh seharusnya dipergunakan secara intens untuk berolahraga, sambil disuplai oleh hasil metabolisme sistem cerna, disini dirongrong.

Sistem cerna yang direpotkan oleh bahan makanan berat malah menyedot energi tubuh. Jadilah saat berolahraga energi tidak seimbang dipakai.

Itu sebabnya teman saya harus muntah dulu, baru tubuhnya menjadi lebih ringan dan bertenaga untuk melanjutkan perjalalana. Bebannya dibuang.

Konsumsi makanan yang menguatkan tubuh untuk melakukan aktivitas, seharusnya tidak duluan memprioritaskan apa yang dimakan? Terbalik.

Tapi pelajari dulu cara tubuh sikapi makanan? Apa yang cocok dimakan?Bagaimana supaya yang dimakan, mensuplai energi, tidak malah jadi beban.

Itu sebab konsep carbo loading atau protein loading yang sedang populer dilakukan, sering malah memberikan efek berbalik dari harapan.

Karena acuannya lebih dahulu pada “apa yang harus dimakan supaya..” bukan “bagaimana cara dan apa yang harus dimakan makan supaya…”

Next time kita bicara, makan apa yang cocok untuk olahraga sesuai jam biologis tubuh dan bagaimana caranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s