In Memoriam, Guruji BKS Iyengar

By Erikar Lebang

http://chirpstory.com/li/225923

Mau cerita dikit tentang pola makan yang terkait apa yang saya lakukan sehari-hari #Yoga dan mangkatnya salah satu guru besarnya #bksiyengar.

Ada yang komen, “Wah, itu guru yoga latihan keras sehari-hari saja masih meninggal karena gagal ginjal” Dengan kata lain, buat apa latihan?

Benarkah demikian? #Yoga tidak mampu menyelematkan jiwa beliau?

Baiklah, makanya saya membuat kultwit ini, pertama BKS Iyengar meninggal di usia yang lumayan lanjut, 95 tahun! Tapi bukan disitu hebatnya.

Banyak orang berusia lanjut, tapi tidak berdaya apa-apa. Guruji, demikian cara kami memanggil beliau, tidak! Dia individu luarbiasa sekali.

Waktu saya bertemu beliau in person, bicara, belajar kepadanya, usianya 91 tahun. Super fit, agile! Dan secara anatomi-psikologis luar biasa.

Mungkin dia agak gemuk, kulitnya pun banyak keriput, tapi untuk ukuran 90 tahun, ya wajar lah. Tapi bedirinya tegap, berjalan cepat.

Ia berbicara sangat jelas artikulasinya, matanya tajam seperti elang, tidak berkacamata baik untuk melihat jauh ataupun membaca.

Berdiskusi dengan beliau luar biasa, tajam sekali ingatan dan luas wawasannya. Hasil dari analisa ribuan buku yang telah dibaca.

Bertanya satu kalimat pada beliau, dijawabnya bisa 1-3 lembar halaman buku! In short, he’s amazing! Sama sekali gak tergambar usia 90-annya.

Latihan yoganya jangan ditanya. Sampai jelang mangkatnya pun, dia masih sanggup melakukan headstand selama 30 menit pic.twitter.com/i9Km2Sel0u

bks1

Nah apa hubungannya dengan pola makan yang saya bilang? Disini apa yang dia jalani itu anti tesis dengan apa yang selama ini saya bilang.

Pola makan beliau sangat tidak menggambarkan pola makan sehat alami seperti yang selalu saya sampaikan. Tipikal makanan lokal di daerahnya.

Adalah ragam makanan yang over cooked, kari, yoghurt, susu dan kopi. Sekalipun basis beliau adalah vegetarian, tapi jauh dari sayuran segar.

Sebulanan lebih di Pune, India, untuk mencari buah dan sayuran segar bukan perkara mudah bagi saya. Senjatanya cuma ada di pasar swalayan.

Kalau gak ada pasar swalayan yang buah dan sayurnya itu-itu saja, bisa dipastikan saya sulit mencari makanan sehat di sana. Repot banget.

Bukankah dalam India sudah ada diet sehat ayurveda? Secara logika memang. Tapi secara aplikatif agak lebih sulit. Kesehariannya gak gitu.

Tradisi kuno India membagi makanan dalam 3 kategori, Sattvic: Makanan yang masih murni, alami, biasa identik dengan buah dan sayuran segar.

Rajasic: Makanan pemicu agresivitas tinggi, umum diketahui dikonsumsi lebih berikan rasa tidak nyaman pada tubuh, cabai, rempah sejenisnya.

Tamasic, identik dengan makanan yang memberatkan sistem cerna, protein hewani, apapun yang mengandung alkohol semisal digolongkan disini.

Nah itu saja pegangan utama tentang diet umum, paling tidak yang dikenal di budaya lokal tempat guruji hidup. Bukan pola sehat spesifik.

Jadi setiap saya melakukan budaya kuliner disini, jarang sekali saya bisa bertemu menu sehat bila makan di tempat umum. Tekankan kata jarang.

Ada sih menu salad, atau roti sandwich yang dibuat vegetarian semacam Subw*y gitu. Tapi harganya gak murah dan jarang ditemui di tempat umum.

Teman-teman yang datang dari belahan dunia barat, dan gak rajin meracik makanan sendiri kayak saya, banyak sekali yang terkena diare disini.

Sebulan berlatih disini, ada semacam lelucon: Minggu pertama, latihan masih penuh, minggu kedua latihan dibagi untuk sepertiga yang sakit.

Minggu ketiga, yang latihan dan yang sakit fifty-fifty. Minggu keempat, banyakan yang sakit daripada yang latihan! Itu sekedar gambaran.

Ini konfigurasi latihan kami di kelas general (level tertinggi) berlatih di RIMYI institute milik #bksiyengar pic.twitter.com/hZESnreC11

bks2

Nah kebayang kan? Kalau di minggu keempat yang berlatih normal jadi lebih dikit dari yang sakit? #bksiyengar pic.twitter.com/hZESnreC11

bks2

Illustrasi bahwa kuliner dan kondisi sehat itu jadi isu penting saat berada di sini. Nah, maka itu guruji adalah antitesis bagi edukasi saya.

Walau sattvic telah menggambarkan makanan seperti buah dan sayuran segar identik dengan kemurnian, harmoni atau kata lain dari sehat sejati.

Tapi di budaya lokal sini, gak terlalu dikenal pendekatan itu. Jadilah pola makan sehat demikian bukan sesuatu yang ditekankan oleh guruji.

Tapi beliau membayar dengan latihan dahsyat! Bukan sekedar olahraga pergi ke gym, lalu merasa bisa makan seenaknya kayak banyak dari kita.

Beliau berlatih cermat, 3.5 jam perhari. Bahkan dulu sampai sekitar 5-10 jam! Serius latihannya, bukan asal-asalan. Terprogram cermat.

Latihan keras, tanpa alat bantu #bksiyengar pic.twitter.com/fVJGjMrFrH

bks3

Atau dengan alat bantu #bksiyengar pic.twitter.com/7F1LDiRrAG

bks4

Jadi kalau mau jadi antitesis edukasi saya, bisa gak melakukan yang beliau lakukan itu? Mana yang lebih sulit dan rumit? Doable or not?

Jangan lupa, di usia 14 tahun, karena miskin dan terabaikan (anak ke 11 dari 13 bersaudara, 3 meninggal sedari kecil) ia sakit-sakitan.

Dokternya katakan saat itu, “Usia kamu bisa jadi cuma 1-2 tahun lagi, kalau kondisimu tidak diperbaiki”. Tapi orang miskin, gimana perbaiki?

Beliau akhirnya diasuh kakak iparnya yang guru yoga terkenal, Khrisnamacharya. Diajari, diberi bekal ilmu, lalu disuruh kembangkan sendiri.

Semenjak saat itu karena bertekat mengalahkan kemiskinan dan mendapat kesehatan ia berlatih serius #yoga. Dan akhirnya menjadi seperti ini.

Canggih gak sih? Divonis di usia 14 tahun, usianya gak lebih 2 tahun? Eh, meninggalnya baru 95 tahun! Apa bukan bonus luarbiasa dari Tuhan?

Kerennya lagi, walau sekolahnya pas-pasan karena biaya. Tapi otak beliau cerdas, ia banyak membaca dan berlatih. Hasilnya luar biasa!

Kemampuan analisanya secara anatomis fisiologis membuat tradisi #Iyengar berkembang menjadi salah satu terapi yang sangat populer di dunia.

Dia punya remedial class, yang khusus didedikasikan buat orang sakit. Dokter di India banyak yang kirim pasien kesini pic.twitter.com/JX5hHvdSmR

bks5

Dari sakit ecek-ecek cedera otot ke kanker pun AIDS, beliau tangani. Dan hasilnya memuaskan, selama latihannya benar pic.twitter.com/TSbYne8fuT

bks6

Ada yang bertanya pada saya, jadi kalau guruji menganut pola makan sehat ala #Foodcombining dan #RawFood dia bisa hidup lebih lama lagi?

Bisa jadi, kenapa tidak? Tapi mengingat ia divonis berusia gak lebih dari 18 tahun, dan baru wafat (normal) di usia 95, itu sih hebat banget.

Karena hidup awalnya ancur-ancuran, mungkin sekali cadangan enzym tubuhnya terkuras banyak di usia kecil dan remaja, mengutip teori Howell.

Kalau enzimnya bisa terhemat dan baru wafat di usia 95, berarti latihannya sukses membuat metabolisme tubuhnya menjadi sangat baik.

Apalagi mengingat pola makannya yang kurang bagus. Pernah juga terkena serangan jantung di tahun 1998 dan 2000, tapi #yoga menyelamatkannya.

Makan jelek, pernah terkena serangan jantung, mengacu pada teori Howell, cadangan enzimnya berarti gak nambah dengan efisien.

Sistem cernanya bisa jadi terbebani terus, bagaimana? Well, bertahan hingga 95 tahun dengan latihan yoga keras, mungkin itu antidotenya.

Latihan seperti ini mungkin meningkatkan kerja peristaltik usus dan mencegah penumpukan kotoran di kolon pic.twitter.com/EdSYRcot15

bks7

Sayang Dr. Shinya gak pernah melakukan pemeriksaan endoskopi kolonoskopi pada #bksiyengar sih ya? *nyengir sendiri*

Sebagai penutup, Guruji pernah menyinggung kematian, saat diwawancara tentang usianya yang lanjut. “Mati itu pasti, tinggal bagaimananya?”

“Mau mati dalam keadaan terhina? Tak berdaya karena sakit? Atau mati dengan terhormat, menyambutnya dengan penuh keberdayaan?” ujar beliau.

Beliau meninggal karena gagal ginjal dan gangguan jantung. Tapi tidak pernah berada dalam kondisi koma berlarut-larut. Biasa saja.

Saya dikirimi foto jenazah beliau. Apa yang dia katakan mati secara terhormat tergambar disana. Ia seperti orang tidur, dikalungi bunga.

Pun saya teringat pada satu komentarnya yang tersohor saat bertemu salah satu muridnya yang terkena penyakit berat, kanker kalau gak salah.

“Saya mungkin tidak bisa menyembuhkan kamu..” Tapi disambung dengan kalimat, “..Tapi saya bisa membantumu meninggal dengan harga diri”.

Menginggal dengan harga diri. Die in dignity! Sebuah kalimat yang realistis, namun didambakan oleh banyak orang.

Sekian sharing saya terkait wafatnya tokoh #yoga dunia panutan saya ini. Seluruh ilmu #yoga yang membuat saya dikenal, berasal dari beliau.

Dan belum ada seujung kuku dari apa yang dia kuasai. Meninggalnya beliau membuat saya terpacu belajar dan berlatih lebih keras lagi.

“My end is your beginning” #bksiyengar (1918 – 2014)

Thank you, guruji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s