Efek Buruk Crash Diet

By Erikar Lebang

http://chirpstory.com/li/230023

Dicurhati teman seputar dietnya yang membuat dia sakit. Pernah juga dicurhati teman tentang gengnya yang diet nekat pasca hidup sehat.

Dua-duanya sih sama b*g*. Yang satu karena lama temenan sama saya, tapi orientasinya masih ke sisi, “gue pengen langsing cepet gak susah”.

Sedangkan satunya, pernah ikuti pola hidup yang saya edukasikan, “Tapi gak bikin langsing-langsing, jadi diet aja deh” Shortly both stupid.

Keduanya pergi ke dokter yang sama, paling gak metodenya. Makan dibatasi, dari sisi pemberian jam makan yang ketat, jenis dan porsi makan.

Secara tehnis, memang upaya ini membuat tubuh menjadi susut beratnya. Dan bisa jadi cepat serta menakjubkan. Sukses? Tergantung melihatnya.

Kalau Anda, terbiasa bervisi pendek, singkat tidak berorientasi jangka panjang dan tutup mata masalah buruk jangka panjang, anggaplah sukses.

Tapi bila Anda, terbiasa berinvestasi, berorientasi jauh ke depan, peduli pada keberhasilan hakiki, tindakan itu jelas bodoh luar biasa.

Saya sudah pernah bercerita, diet keras (crash diet) membuat tubuh membakar cadangan lemak dalam hati dan otot, sehingga berat bisa turun.

Sesudah itu bila cadangan tadi habis, baru tubuh akan menggunakan simpanan lemak yang ada. Memang bisa jadi langsing juga. Tapi, ada tapinya.

Perpindahan fase pertama ke dua, filterisasinya sangat ketat. Biasanya mereka yang sukses di level pertama, kehilangan sekian kilo berat.

Gak sanggup meneruskan ke level kedua. Entah craving (rasa kebutuhan) makanan yang meledak, atau alarm tubuhnya nyala, dibuat jatuh sakit.

Kalau sukses ada di level dua, setelah bangga beberapa saat, biasanya muncul problem baru: saya pernah kultwit tentang ‘metabolic set’.

Bahwa tubuh menyimpan memori kebiasaan keluar masuk kalori dalam titik tertentu. Nah bila disiksa dengan diet, titik ini menggoda terus.

Akhirnya titik ini kembali lag, biasa dengan tubuh turunkan level aktivitas agar pengeluaran kalori menurun lalu perlahan nafsu makan naik.

Hasilnya sih umum sekali kita melihat, teman kita pelaku diet ketat, sukses (sesaat) di depan, ancur-ancuran setelah lewat beberapa waktu.

Masalahnya beberapa, terbuai oleh kesuksesan sesaat ini, dan bertekat dalam satu waktu akan mengulang lagi hal yang sama. O’on berat ini sih.

Sementara yang satu lagi, biasanya kapok, karena jatuh sakit. Jadi minimal tersadarkan kalau apa yang dilakukan itu salah. Tapi, ada tapinya.

Golongan kedua ini, biasanya punya pemikiran salah kaprah kelas berat, “diet itu bikin sakit, udah makan apa aja, biar ‘ndut’ tapi sehat”.

Gendut dalam kata mendekati atau bahkan sudah obesitas, gak akan bisa dikategorikan sehat! Bedakan obesitas dan tubuh sedikit berlemak.

Tapi yang simpan bom waktu sebenarnya yang nomer satu. Kenapa? Karena dia akan berulang-ulang menyiksa tubuhnya dalam kurun waktu tertentu.

Dia akan melakukan diet yang sama berulang-ulang, tanpa menyadari, tubuhnya menguras cadangan enzim hidup, merusak keseimbangan unsur vital.

Merusak organ serta sistem yang berjalan dalam tubuhnya. Secara akumulatif, akan ada fase dimana tubuhnya menyerah. Ini juga menyedihkan.

Biasa di awal yang muncul gejala ringan, alarm tubuh menyala seperti mudah sakit, mudah lelah, kulit kusam, jerawatan, yah puncak gunung es.

Level lanjutan baru muncul masalah serius, luka lambung, osteoporosis, koordinasi otak-syaraf-tubuh terganggu dan lainnya, mulai menakutkan.

Sayangnya hal-hal beginian, jarang dikaitkan dengan kebiasaan diet modal nekat begitu. Biasanya yang disalahkan kalau gak genetik, ya Tuhan.

Makanya kalau ketemu perempuan langsing, rutin diet dan keras berolahraga. Sementara orang kagum, biasa saya malah kasihan pada mereka.

Umumnya terlihat sekali di raut muka, bahasa tubuh, kalau mereka punya masalah kesehatan tersembunyi, dan bom waktu masa depan.

Yang paling umum, pukul rata punya gejala osteoporosis dini, atau sudah osteoporosis. Di level ringan, hampir semua punya problem lambung.

Sedihnya lagi, sukses langsing menyesatkan model begini, pernah jadi hasil temuan riset dari sekian banyak responden penderita kanker.

Saat penderita kanker tadi, umumnya wanita, diminta menuliskan riwayat hidupnya, diet melangsingkan tubuh ada di semua list responden.

Sebenarnya kalau bertemu dengan dokter diet (sayangnya berembel gizi) kondang atau program pelangsingan ada cara sederhana kok untuk waspada.

Tanya pada mereka, ada gak pasien atau klien yang sudah lebih dari 1-2 dekade jadi klien mereka, tetap sehat dan tetap langsing? Sederhana.

Berani bertaruh, kalau gak ada, ya paling top bisa dihitung dengan jari. Itupun kredibilitasnya diragukan. Saya pernah suruh teman tanya ini.

Ada artis terkenal ikut program diet, sekarang jadi ndut lagi. Pas ditanya, jawaban klasiknya adalah “dia sih gak ikutan program kita lagi”.

Waktu artisnya ditanya jawabannya adalah, “amit-amit gue gak mau tersiksa lagi kayak gitu”. Klop kan? Sesuai banget dengan kultwit awal saya.

Kalau kanker? Gak usah jauh-jauh saya punya contohnya di lingkungan sendiri, Ibu saya. Sebagai dokter, dia dari dulu bermasalah berat badan.

Saya belasan tahun #Foodcombining, beliau gak menggubris. Dia mempergunakan pengetahuan dan aksesnya dengan obat-obatan untuk berdiet.

Short term it worked, long term it didn’t. Dia berakhir dengan punya kanker di paru-parunya. Saya sih gak bilang otomatis karena diet.

Tapi ya kalau ada riset yang katakan penderita diet, mayoritas pernah ikut program diet, ya ibu saya jelas masuk kategori demikian. Jujur.

So, apakah saya pernah peduli dengan mereka yang berhenti #Foodcombining atau #RawFood karena terbuai iming-iming diet? Tidak sedikitpun.

Memangnya yang akan punya masalah saya? Ya nggak. Yang menderita juga mereka sendiri. Bisa sekarang, bisa besok. Tetap saja bukan saya.

Tugas saya cuma mengedukasi. Percaya sukur, dijalanin lebih bagus. Gak percaya, apa urusan saya? Gak dilakukan, ya ngapain dipikirin?

Mau makan cuma apel sekerat, mau minum dibatasi, mau minum cuma susu segelas dan diimingi mampu memenuhi kebutuhan tubuh, apa peduli saya?

Yang tersiksa kan sel tubuh mereka? Yang mengamuk bukan organ tubuh saya. Ngapain dipikirin? Ucapan sama saya berikan pada teman curhat tadi.

“You are not your friend, it’s you not them, why bother?” Kalau tugas kita cuma mengedukasi, ya berhenti disana. Kultwit begini sudah cukup.

Kalaupun mereka nanti jatuh sakit, ya gak usah diejek atau disesali juga. Itu pilihan mereka. Paling disayangkan karena mereka gak sadar.

Mayoritas mereka gak sadar, masalah yang dialami itu adalah akumulasi dari apa yang dilakukan di masa lalu. Kasihan? Ya! Tapi itu resiko.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s