Sehat Itu Gampang (dan gak mahal)

By Erikar Lebang

http://chirpstory.com/li/237213

Bicara masalah burger, jadi ingat kemarin ada yang ngomel karena saya bicara, “sampingkan makanan pabrikan dari rutinitas kalau mau sehat”.

Kenapa saya bicara begitu, karena memang itu kenyataan? Tubuh manusia didisain oleh Tuhan untuk mengkonsumsi makanan yang (beneran) alami.

Tentu bukan cuma sekedar embel alami, pake tanda kutip seperti yang sering diiklankan sebuah produk. Mencantumkan sebuah unsur, lalu klaim.

Dan kadang gak nyambung, kalau mau mikir sedikit, klaim itu. Unsur yang diketahui ada dalam buah, tumbuhan, biji-bijian, dimasukin ke susu.

Setelah itu diiklankan gencar, akhirnya masyarakat yang terpengaruh menganggap kalau sumber unsur penting itu ada dalam produk yang diiklan.

Mereka yang tertipu akan bilang, “lho kalau gak minum susu, gimana mau dapet ‘anu’?”. Padahal kalau mereka sadar, jalan aja ke pasar becek.

Beli buah dan sayuran segar, sudah didapat apa yang dicari itu. Lebih segar, lebih pas pada sistem cerna kita untuk mengolah dan manfaatkan.

Itu menangnya produk Tuhan. Sementara kalau pabrikan, wah belum bisa dipastikan produk mereka beneran sesuai seperti klaim. Baru diuji coba.

Dan ujicoba pun belum bisa dipastikan sesuai sistem kerja tubuh manusia. Karena awalnya kan bukan dites ke hewan percobaan dulu.

Dan mayoritas produk itu pun belum bisa dilihat impactnya apa benar sesuai dijanjikan? Karena rata-rata waktu konsumsi belum capai 1 dekade.

Apalagi kalau produk pabrikannya sebenarnya lebih terkait dengan makanan di klasifikasi ‘hiburan’ sosial kehidupan. Kudapan atau sejenisnya.

Wah itu lebih konyol lagi. Sering kita dialihkan untuk melihat pada unsur ‘sehat’ yang dimasukkan. Tapi jadi buta pada sisi jelek yang jelas.

Tinggi gula, efek buruk gluten, pemakaian zat aditif, atau sintetik yang bisa merugikan kesehatan jangka pendek ataupun panjang. Cermati ini.

Nah disini masuk ke wilayah burger yang tadi saya bilang. Pernah saya ditanya oleh teman salah satu konsultan penjual makanan model begini.

“Gimana kalau unsur vitamin dalam burger disampaikan pada masyarakat? Supaya mereka yakin saat mengkonsumsinya?” Saya cuma bisa terbahak.

Waduh, ok-lah bisa dibilang ada sisi positif dari makanan model begitu. Kalau disana diselipkan lembaran selada, kepingan tomat dan timun.

Tapi itu kan seperti mengibaratkan memasukkan pengharum ruangan dalam mobil bobrok yang AC-nya sudah rusak, yang nyusahin lebih signifikan.

Hal baik yang disisipkan itu gak berefek signifikan untuk kesehatan. Bisa dikutuk Tuhan kalau saya beri edukasi seperti request teman tadi.

Makanan model itu kan banyakan masalahnya. Direnteng satu persatu aja bisa bikin mumet. Protein hewani yang terlalu berat, bebani pencernaan.

Roti yang dibuat sedemikian rupa juga beban signifikan untuk sistem cerna. Dari sisi turunan gula yang meroketkan nilai gula darah.

Kandungan gluten, yang bersifat lengket dan susah diserap, yang nantinya akan menempel di dinding usus, memblok penyerapan zat penting tubuh.

Itu gak semata burger saja, makanan model biskuit, kue, kudapan ringan dalam bentuk batangan dan lain-lain, beri juga masalah serupa.

Bicara di urusan sistem cerna saja dulu deh. Makanan sulit serap akan jadi penumpukan sampah dalam usus. Terfermentasi, berefek gas beracun.

Disitu muncul segudang gangguan kesehatan yang bersifat anatomis, fisiologis sampai psikologis. Belum ditambah makan model gini menyesatkan.

Kenapa? Karena cenderung lebih tajam di sisi rasa, manis, asin atau gurih, buat indera pengecap kita tertipu. Makan model gini dianggap enak.

Teralihkanlah kita dari produk alami, yang rasanya cenderung lebih lembut atau samar, karena memang sejatinya begitu. Akhirnya kita gak suka.

Jadilah kita kekurangan unsur penting bagi tubuh seperti enzim dan mineral, yang umumnya sulit sekali dikemas normal oleh produk pabrikan.

Defisiensi unsur penting itu juga perlahan, atau kadang cepat, merusak kesehatan secara menyeluruh, lahir dan mental: penyakitan-emosian.

“Kok bisa sih makanan begitu gak dilarang beredar?” Karena memang gak salah. Otoritas kan tugasnya mencegah sesuatu merusak secara instan.

Sisi higienitas, pemakaian bahan yang aman, itu isu utama yang harus ditangani. Kalau itu aman, ya gak ada masalah. Urusan gaya hidup? Lain!

Itu kewajiban yang harus dimiliki oleh seseorang secara mandiri. Kontrol kesehatan ada di tangan kita pribadi. Makanya, perkaya pengetahuan.

Abis ngetwit gini, langsung mikir panjang mau rekreasi junk food, hehe. Yah, harus diingat makan enak itu juga terkait langsung dengan usia.

Makin tua, ya makin hematlah cadangan essensial bagi kelangsungan hidup. Enzim semisal. Kalau makan buruk, cadangan enzim kita dikuras.

Untuk netralisir efek buruk makanan yang kita makan agar tidak merusak tubuh. Kalau terus-terusan makan buruk, ya cepat surut kualitas hidup.

Lagian murahan beli makanan alami di pasar becek, atau toko organik terpercaya ketimbang jajan makanan pabrikan di swalayan atau resto kok.

Sehat itu dibuat gampang oleh Tuhan. Sakit malah yang sebenarnya lebih susah. Dan lebih mahal.. Tapi memang lebih dicari oleh banyak orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s